Date Sabtu, 26 July 2014 | 14:07 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Peristiwa

Terminal Bus jadi Arena Balapan Liar

5 Pasangan Selingkuh Ditangkap

Senin, 22-10-2012 | 12:39 WIB | 981 klik

Bukittinggi, Padek—Operasi penyakit masyarakat (Pekat) yang digelar Tim Yustisia Bukittinggi mulai pukul 22.00 WIB Sabtu (20/10) hingga pukul 00.30 WIB, Minggu (21/10), berhasil menangkap lima pasangan mesum dan satu orang diduga wanita tuna susila (WTS) di beberapa hotel di Kota Bukittinggi. Selain itu, Tim Yustisia juga berhasil menangkap tiga unit mobil tanpa dilengkap surat-surat yang dipergunakan dalam balapan liar di dalam terminal bus Simpang Aur Bukittinggi. Selain balapan mobil, Terminal Bus Simpang Aur Bukittinggi juga sering dipergunakan sebagai arena balapan motor.

Razia pekat yang dilakukan malam Minggu itu berlangsung saat udara Bukittinggi dan sekitarnya cukup dingin yang diwarnai hujan rintik-rintik dan angin kencang. Kondisi ini jelas bagi pasangan bukan suami istri atau yang lebih dikenal dengan pasangan selingkuh sangat menguntungkan, sehingga pada malam itu mereka cepat-cepat masuk kamar. Di pihak lain, karena program razia pekat ini sudah direncanakan oleh Tim Yustisia yang diketuai Kepala Satpol PP Bukittinggi, Syafnir, razia tetap dilaksanakan.

Tepat pukul 22.00 WIB, tim pekat langsung menuju sasaran yang selama ini sudah diinformasikan masyarakat ada pasangan selingkuh menginap di sana. Agar sasaran yang dicapai berhasil maksimal, maka Tim Yustisia langsung berpencar ke arah sasaran yang dituju. Ternyata benar, begitu menggeledah sebuah hotel yang beralamat di samping eks Bioskop Sovia, tertangkap dua pasangan selingkuh di dalam kamar.

Begitu juga di sebuah hotel yang beralamat di Simpang Tembok Bukittinggi, Tim Yustisia berhasil menangkap dua pasangan mesum sedang bermesraan di dalam kamar. Satu pasangan mesum lainnya ditangkap Tim Yustisia di hotel yang beralamat di Jalan Yos Sudarso Bukittinggi. Sementara di hotel “Psk”, Tim Yustisia menangkap seorang wanita yang diduga WTS sedang menunggu tamunya. Kelima pasangan selingkuh dan satu wania yang diduga WTS ini, langsung digiring ke kantor Satpol Bukittinggi.

Setelah didata dan menandatangani surat perjanjian bahwa mereka tidak akan mengulangi perbuatannya, kelima pasangan selingkuh ini dikembalikan kepada orangtua mereka masing-masing. Kelima pasangan selingkuh itu antara lain adalah, “R” (Kapua Sembilan) dengan pasangannya “I” (Padang), “DS” (Simpang Ampek Pasaman) dengan pasangannya “Ri” (Payakumbuh), “Yu” (Maninjau) dengan pasangannya “Si” (Pessel) dan “AM” (Padang) dengan pasangannya “An” (Bukittinggi). Sementara salah seorang wanita yang diduga WTS langsung dikirim ke Sukarami, Solok.

Bersamaan dengan razia Pekat, Tim Yustisia yang beranggotakan Kodim 0304 Agam, Polresta Bukittinggi, Satpol PP dan SKPD terkait lainnya, juga melakukan razia dan pembubaran balapan liar di dalam terminal bus Simpang Aur Bukittinggi. Razia mandadak yang dilakukan Tim Yustisia ini, membuat terminal bus Simpang Aur Bukittinggi saat itu berlangsung balapan liar menjadi kocar-kacir.

Para pebalap liar yang pada umum anak-anak muda langsung tancap gas melarikan diri ke luar terminal bus Simpang Aur. Kendati begitu, tiga unit mobil tanpa surat-surat berhasil diamankan petugas Tim Yustisia dan pada malam itu langsung diserahkan ke Satlantas Polresta Bukittinggi untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.

Kepala Satpol PP Bukittinggi, Syafnir menegaskan, bahwa razia pekat akan tetap dilaksanakan setiap saat hingga Kota Bukittinggi terbebas dari pekat. Lima pasangan selingkuh yang berhasil ditangkap pada malam itu telah diperbolehkan pulang setelah menandatangi surat perjanjian di atas materei bahwa mereka tidak akan mengulangi perbuatannya. Sementara salah seorang wanita yang diduga WTS dikirim ke Sukarami Solok. “Wanita yang diduga WTS ini sudah sering tertangkap, sehingga dia harus dikirim ke Sukarami, Solok,” jelasnya.

Untuk menekan angka pekat di Kota Bukittinggi, katanya, pihaknya akan segera mengajukan pemilik hotel dan penginapan yang “memfasilitasi” perbuatan maksiat di Kota Bukittinggi. “Ya, data pemilik hotel atau penginapan itu sudah di tangan kita. Kita akan ajukan ke Pengadilan sesuai Perda Pekat No 20/2003 dimana kalau terbukti melanggar Perda No. 20/2003, sanksinya adalah kurungan tiga bulan atau denda maksimal Rp 1,5 juta,” jelasnya.

Tentang balapan liar di dalam terminas bus Simpang Aur Bukittinggi, menurutnya, harus mendapat perhatian dari semua pihak sehingga hal-hal yang tidak diingini bisa diantisipasi. “Kita selaku Tim Yustisia akan tetap melakukan razia dan penertiban. Namun agar pekerjaan Tim Yustisia bisa berjalan maksimal, para orangtua juga diminta mengawasi anak-anaknya, dalam arti tidak membebaskan para remaja keluar pada malam Minggu pakai kendaraan pribadi, baik roda dua maupun roda empat,” harapnya. (*)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA