Date Kamis, 31 July 2014 | 08:18 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Internasional

Diteken 15 Oktober, Permanen pada 2016

Filipina-Moro Sepakati Damai

Senin, 08-10-2012 | 12:34 WIB | 238 klik

Manila, Padek—Setelah lebih dari tiga dekade terlibat perang atau saling serang, kelompok separatis Front Pembebasan Islam Moro (MILF) dan pemerintah Filipina akhirnya mencapai kata sepakat untuk berdamai. Kesepakatan itu dicapai dalam perundingan yang dimediatori Malaysia dan berlangsung di Kuala Lumpur kemarin (7/10).

Panel Negosiasi Damai Pemerintah Filipina (GPNP) pun menjelaskan kesepakatan awal perdamaian itu dalam jumpa pers di Kedubes Filipina di Kuala Lumpur. Kesepakatan itu menjadi sinyal segera berakhirnya konflik selama hampir empat dekade tersebut.

MILF berperang untuk mendapat status negara merdeka di wilayah Mindanao, selatan Filipina, sejak 1978. Mereka memasuki pembicaraan damai dengan Manila pada 1997. Untuk kali pertama, MILF setuju untuk menerima otonomi dalam putaran negosiasi pada 2008.

Presiden Benigno "Noynoy" Aquino III mengumumkan kesepakatan yang disebutnya sebagai konsep damai awal tersebut kemarin. Rencananya, kedua pihak akan meneken kesepakatan damai pada 15 Oktober nanti. "Kesepakatan ini menandai langkah awal bagi kami untuk mewujudkan perdamaian abadi di Mindanao," kata pemimpin 52 tahun tersebut dalam siaran televisi nasional kemarin.

Mindanao merupakan salah satu pulau utama di antara tiga pulau terbesar di sisi selatan Filipina. Mayoritas warga di sana adalah muslim. Di pulau terbesar kedua Filipina itulah, selama ini MILF bermarkas dan mengoordinasikan aksi separatisme.

Berdasar kesepakatan, nantinya pemerintah Filipina akan mengakui wilayah semiotonomi Mindanao yang bernama Bangsamoro. MILF tidak akan lagi ngotot untuk menuntut kemerdekaan. "Tangan-tangan yang selama ini mengokang senjata nanti akan menggarap lahan, menjual hasil bumi, dan mengelola sumber daya alam yang ada," ujar Noynoy.

Presiden yang belum menikah itu menegaskan bahwa MILF dan pemerintah Filipina akan melanjutkan dialog guna mencapai kesepakatan damai secara permanen. Saat ini, kesepakatan yang tercapai di ujung dialog damai yang dimediatori oleh pemerintah Malaysia itu masih tahap awal. "Semua belum berakhir. Kami masih harus bekerja sama untuk menyusun pasal-pasal kesepakatan yang lebih rinci," ungkapnya.

Menurut Noynoy, MILF dan Manila butuh lebih banyak waktu untuk membahas detail tiga kesepakatan utama. Yakni, otoritas pemerintahan semiotonomi Mindanao, luas wilayah, serta pendapatan daerah.

"Jika semuanya berjalan lancar, kesepakatan damai permanen akan tercapai pada 2016 saat masa jabatan presiden berakhir," kata seorang pejabat pemerintah Filipina yang merahasiakan namanya.

Dalam waktu dekat, kedua belah pihak akan membentuk Komisi Transisi yang beranggotakan 15 orang. Nantinya, tim yang terdiri dari wakil pemerintah dan MILF itu akan merinci kesepakatan. "Komisi itu juga akan merancang undang-undang yang menjadi landasan lahirnya wilayah semiotonomi di Mindanao," lanjut pejabat tersebut.

Konon, pembentukan wilayah semiotonomi di Mindanao akan butuh waktu sekitar dua tahun. Seiring berjalannya proses tersebut, kata pejabat itu, MILF akan membubarkan diri secara bertahap. Sayang, dalam dokumen kesepakatan awal setebal 15 halaman itu tidak disinggung pelucutan senjata tentara MILF atau kapan batas waktu MILF harus membubarkan diri.

Kesepakatan awal yang akan menjadi landasan lahirnya Bangsamoro itu merupakan akhir dari perundingan alot MILF dan Manila yang sudah berlangsung sekitar 15 tahun. Dalam kurun waktu itu, sekitar 11.000 militan MILF telah melancarkan berbagai serangan mematikan. Sedikitnya 120.000 orang tewas dalam aksi separatisme tersebut.

Selain merenggut korban jiwa, serangan MILF membuat sedikitnya 2 juta warga telantar. Kebanyakan dari mereka kehilangan tempat tinggal atau lari dari Mindanao untuk mencari selamat. MILF juga membuat pemerintah Filipina cemas. Manila khawatir aksi radikal militan Moro itu akan memancing ekstremis Al Qaeda untuk mendirikan basisnya di Filipina. (AP/AFP/hep/dwi)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA