Date Selasa, 29 July 2014 | 23:48 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Nasional

Kontraktor Siap Mengganti Kapal Baru

Minggu, 30-09-2012 | 07:26 WIB | 975 klik
Kontraktor Siap Mengganti Kapal Baru

KRI Klewang 625

Banyuwangi, Padek—Penyebab kebakaran kapal reaksi cepat (KRC) KRI Klewang 625 belum ditemukan hingga kemarin (29/9). PT Lundin Industry Invest dan TNI AL masih melakukan investigasi untuk mencari penyebab kebakaran yang meludeskan kapal canggih seharga Rp 114 miliar itu.

Meski belum ditemukan penyebabnya, namun pihak PT Lundin Industry Invest sudah menyatakan sanggup untuk mengganti kapal yang terbakar tersebut. ”Hingga sekarang, penyebab kebakaran itu belum diketahui secara jelas. Kita tunggu hasil kerja tim investigasi,” ujar Direktur PT Lundin Industry Invest, Lizza Ludin. Lizza Ludin bersama Direktur Utama PT Lundin Industry Invest John Lundin, secara khusus menggelar jumpa pers di kantornya kemarin (29/9). Dalam kesempatan itu, Lizza menyampaikan akan segera membangun kapal kedua untuk mengganti kapal yang terbakar.

Saat ini, pihaknya sedang menurunkan tim investigasi bersama TNI AL.

Setelah kerja tim investigasi selesai, pihaknya segera duduk bersama untuk mencari solusi terbaik dengan pihak TNI AL. ”Koordinasi selesai, langsung kita bangun lagi kapal kedua. Proses pembangunan kapal kedua akan lebih cepat dari kapal pertama,” tegas Lizza.

Proses pembuatan kapal pertama memakan waktu sekitar dua tahun. Itu terjadi karena pembangunan kapal berbahan composit itu didahului kegiatan riset yang memakan waktu cukup panjang. ”Risetnya sudah dilakukan pada tahun 2007 lalu, kapal kedua akan lebih cepat dan tinggal melaksanakan,” katanya.

Lizza juga mengaku sudah mengontak mitra bisnisnya di luar negeri untuk memesan bahan baku. Mereka menyatakan sanggup dan akan mendukung untuk merealisasikan kapal kedua yang segera dibangun.

Sejatinya, lanjut Lizza, kapal jenis trimaran itu anti-kebakaran. Sebab, kapal canggih itu akan dilengkapi teknologi springkle yang dapat mendeteksi api, dan bekerja secara otomatis jika terjadi kebakaran dalam kapal. Namun saat terjadi kebakaran Jumat lalu (28/9), peralatan anti-kebakaran tersebut belum terpasang. Saat kebakaran terjadi, pekerja baru saja selesai istirahat untuk makan siang.

Tidak lama pekerja kembali ke kapal, terjadilah kebakaran. Saat itu, beberapa pekerja sedang memasang mesin, interior, pemasangan sistem elektrik, dan kegiatan pembersihan. ”Sedangkan alat-alat canggihnya belum dipasang. Kapal itu masih berbentuk kerangka saja, peralatan belum dipasang,” jelasnya.

Kalau saja peralatan antikebakaran sudah dipasang, jelas Lizza, tidak mungkin terjadi kebakaran. Sebab, alat tersebut akan bekerja secara otomatis jika terjadi percikan api dalam kapal atau dari darat ke kapal. ”Ini murni kecelakaan. Tidak perlu mencari siapa salah. Ke depan, kita akan lebih waspada dan lebih disiplin lagi,” jelasnya.

Lizza juga mengungkap, sebelum kebakaran terjadi, baru saja kedatangan tim inspeksi dari Mabes TNI AL. Kedatangan tim Mabes TNI itu untuk melihat proses pekerjaan yang sedang dilakukan PT Lundin Industry Invest.

Setelah tim inspeksi meninggalkan kapal, pihaknya menggelar rapat teknis untuk melanjutkan pekerjaan di dalam kapal. ”Saat itu, ada sekitar 30 pekerja ada di atas kapal. Alhamdulillah, semua pekerja kami selamat, dan sedikit pun tidak ada yang terluka sedikit pun,” ungkap Lizza.

Tidak hanya itu, kata Lizza, sebelum terjadi kebakaran sempat ada kegiatan pemindahan aliran listrik dari darat ke mesin genset. Hanya, apakah sumber api berasal dari saat pemindahan listrik itu, belum diketahui secara jelas. ”Ayo kita tunggu sama-sama hasil penyelidikan sedang berlangsung. Saya tidak mau mendahului hasil penyelidikan,” katanya.

Lalu bagaimana soal pembiayaan pembangunan kapal baru? ”Kapal itu sudah kita asuransikan. Tim asuransi nanti sore (kemarin sore, red) akan datang. Jadi, semua pembiayaan kapal baru akan ditanggung pihak asuransi,” tambah Lizza.

Lihat Bangkai KRI

Di sisi lain, sehari setelah kebakaran KRI Klewang 625, Panglima Armada Timur (Pangarmatim) TNI AL Laksamana Muda (Laksda) Agung Pramono langsung turun ke lokasi kebakaran. Hanya saja, kedatangan jenderal bintang dua tersebut tanpa disertai keterangan apa pun terhadap pers.

Panglima dan rombongan tiba di pangkalan TNI AL (Lanal) Banyuwangi sekitar pukul 08.00. Kedatangan perwira tinggi TNI AL itu disambut Komandan Lanal (Danlanal) Banyuwangi Letkol Laut (P) Muhammad Nazif dan beberapa pejabat PT Lundin Industry Invest.

PT Lundin Industry Invest merupakan kontraktor pembuat kapal reaksi cepat (KRC) KRI Klewang 625 yang berlokasi di Lingkungan Cacalan, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Kapal seharga Rp 114 miliar itu merupakan order dari Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI, untuk memperkuat alutsista TNI AL.

Saat terbakar, kapal yang diklaim paling canggih itu masih dalam proses pekerjaan akhir dan belum diserahkan. Pangarmatim Agung menolak memberikan keterangan, karena kapal tersebut belum menjadi milik TNI AL. ”Panglima tidak berkenan memberi keterangan, itu semua diserahkan pada PT Lundin,” ujar Danlanal Letkol Laut (P) Muhammad Nazif.

Pertemuan panglima dengan petinggi PT Lundin Industry Invest terjadi sekitar empat jam. Pertemuan berlangsung mulai pukul 08.00, dan baru meninggalkan Mako Lanal Banyuwangi sekitar pukul 11.00.

Belum diketahui secara jelas, apa saja materi pembicaraan antara produsen kapal canggih dan Pangarmatim. Hingga meninggalkan Mako Lanal, Laksda Agung tidak memberikan keterangan apa pun.

Sebelum meninggalkan Mako, Laksda Agung dan rombongan sempat mengunjungi dermaga Lanal. Dermaga merupakan lokasi KRI Klewang saat terjadi kebakaran.

Setelah mengunjungi lokasi kebakaran, Laksda Agung dan rombongan meninggalkan Makolanal dan langsung bertolak ke Surabaya. Beberapa saat kemudian, rombongan PT Lundin menyusul kemudian meninggalkan Mako Lanal Banyuwangi.

Sementara itu, lokasi kebakaran kapal menjadi tontonan warga. Puluhan warga silih berganti mendekati lokasi kebakaran untuk melihat puing kapal tersebut. Sayangnya, warga tidak bisa melihat secara detail lokasi kejadian.

Warga tidak diperkenankan untuk melihat bekas kebakaran kapal dari jarak dekat, dan mereka harus puas melihat dari kejauhan. Walau kondisi kapal tidak terbakar 100 persen, namun puing tidak kelihatan dari jarak jauh. Puing-puing kapal, tertutup air pasang. (afi/jpnn)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA