Date Jumat, 1 August 2014 | 18:49 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Mahyeldi: Ninik Mamak Setujui Relokasi

Korban Galodo mulai Sakit

Minggu, 16-09-2012 | 08:39 WIB | 1061 klik
Korban Galodo mulai Sakit

Foto dari udara kawasan galodo Batubusuk

Padang, Padek—Korban galodo (banjir bandang, red) menghantam kawasan Batubusuk, Kelurahan Lambungbukik, Kecamatan Pauh, Padang Rabu (12/9) lalu, mulai terserang penyakit. Sedikitnya 180 orang mendatangi posko kesehatan yang didirikan PT Semen Padang tak jauh dari lokasi bencana. Buruknya sanitasi di pengungsian dan cuaca dingin, kian memperburuk kondisi kesehatan korban galodo.

Anggota tim kesehatan di Posko PT Semen Padang, Jon Harfit kepada Padang Ekspres menyebutkan, kebanyakan warga menderita sakit batuk, demam, flu, reumatik, dan gatal-gatal. ”Penyakit ini memang akibat dampak bencana. Selain cuaca dingin, kebanyakan korban masih tidur di tenda pengungsian,” jelasnya.

Selama di pengungsian, tambah Jon, korban sering begadang sampai larut malam sehingga kian menurunkan psikis korban. “Kondisi inilah memperburut kesehatan mereka, sehingga penyakit-penyakit menular seperti batuk, gatal-gatal dan lainnya dengan mudah menyebar,” sebut Jon. Pantauan Padang Ekspres di tenda pengungsian di Batubusuk kemarin (15/9), korban galodo masih menempati tenda pengungsian. Sedikitnya ada 33 jiwa yang tinggal di pengungsian, sebanyak 15 di antaranya masih bayi dan balita.

Suasana dalam tenda pengungsian berukuran 4 x 7 meter itu sangat memprihatinkan. Selain pengap akibat sirkulasi udara tidak berjalan normal, juga terlihat tumpukan pakaian dan barang-barang yang berhasil diselamatkan. Rata-rata korban galodo ini terlihat kurang tidur dan masih trauma mengingat musibah yang baru saja mereka alami.

Di sisi lain, satu alat berat terlihat sedang bekerja mengangkut batu-batu besar dari dalam sungai ke pinggiran sungai.

Sejumlah pekerja terlihat memasang bronjong di kawasan itu untuk menimalisir dampak bencana. Agar air tidak menggerus tanah.

Sedangkan di jembatan Limaumanih, dua alat berat terlihat membersihkan material galodo dari dalam sungai. Puluhan pekerja juga terlihat memasang bronjong. Kondisi serupa terlihat di Kotopanjang, satu alat berat dipergunakan mempercepat pemasangan bronjong. Jembatan Kotopanjang yang putus saat banjir bandang 24 Juli lalu, saat ini, tengah dalam masa perbaikan.

Di Tabiang Bandagadang, korban galodo terlihat membersihkan pakaian dan alat elektronik serta belas lumpur dari rumah mereka.

Kerusakan di Hulu

Kemarin (15/9) sekitar pukul 11.00 hingga 13.30, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan pemantauan udara dengan helikopter untuk mengungkap penyebab galodo. Hasil pemantauan menguatkan temuan tim ekspedisi Sekretariat Bersama Pencinta Alam (Sekber PA) Sumbar sebelumnya.

“Seluruh sungai di Padang telah kami pantau, mulai Batang Kandis, Batang Kuranji, Sungai Airdingin, Batang Arau, serta Timbalun. Dari lima sungai itu, ada 10 titik potensi kantong air terbentuk. Lokasinya ada di tiga DAS (Daerah Aliran Sungai),” ujar Kepala BPBD Sumbar, Yazid Fadhi. Pemantauan menggunakan helikopter ini, tambahnya, berlangsung selama dua hari ke depan.

Dari pantauan udara, imbuh Yazid, terlihat kerusakan di hulu sungai berupa rekahan tanah dan bekas material kayu-kayu besar melintang di badan sungai. Kondisi tersebut mengancam terjadinya galodo di Padang. Kayu-kayu itu terdiri dari bekas longsoran pascagempa 2009 lalu, galodo dan akibat penebangan masyarakat. Untuk jangka pendek, material di atas bukit hulu sungai itu harus secepatnya dibersihkan.

“Jika kayu-kayu tak segera dibersihkan, maka penampung air itu bisa jebol ketika curah hujan tinggi. Kondisi ini akan menimbulkan banjir bandang lebih parah lagi,” bebernya. Namun karena cuaca tidak memungkinkan, helikopter tidak dapat menjangkau hulu sungai yang ditengarai sumber galodo. “Untuk lokasi yang tidak terjangkau, kami akan minta bantuan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) untuk mengetahui kondisinya,” ucapnya.

Selain di Padang, tambahnya, helikopter BNPB itu juga memantau kawasan rawan banjir dan longsor di Lembah Anai, Sicincin-Malalak, dan Pesisir Selatan. Kepala Pusdalops BPBD Sumbar Ade Edwar menambahkan, guna mengantisipasi risiko berulangnya galodo serta jatuhnya korban jiwa, BPBD memasang CCTV guna memonitor Batang Kuranji. CCTV ditempatkan di gedung Adzkia untuk memantau debit sungai secara real time yang langsung terkoneksi ke Pusdalops Penanggulangan Bencana BPBD Sumbar.

Selain itu, kata Ade, BNPB juga melakukan analisis penginderaan jauh menggunakan citra satelit guna menganalisis potensi longsor. Lalu, pembersihan kayu-kayu di hulu sungai dengan membongkar bendungan-bendungan kecil di hulu sungai dengan mengerahkan 100 personel beserta peralatan. Direncanakan, pembersihan dilakukan selama tujuh hari dimulai hari ini (16/9).

Lalu, mengaktifkan piket siaga 24 jam di lokasi rawan galodo dengan memberdayakan pemuda dan Kelompok Siaga Bencana (KSB) masyarakat setempat. Untuk jangka panjang, Pemprov Sumbar merekomendasikan kepada Pemko Padang merelokasi penduduk yang tinggal di sekitar perbukitan dan aliran sungai Batubusuk.

Yazid mengatakan, lokasi bermukimnya masyarakat di Batubusuk sangat terjal hingga kemiringan 70 derajat. Lokasi itu tidak layak dijadikan permukiman. Potensi longsor sangat tinggi. “Jika sudah hujan selama dua jam secara terus-menerus, sangat membahayakan bagi masyarakat di sana,” tuturnya.

Data Relokasi Tuntas Pekan Ini

Rekomendasi relokasi warga yang berdiam di lokasi rawan galodo di Batubusuk, diamini Wakil Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah. Politisi PKS itu menyatakan, untuk kawasan kampung Bukit Ubi sampai Patamuan, memang wajib direlokasi. Hal ini melihat kondisi perbukitan kawasan tersebut pascalongsor sudah tidak stabil dan masih rawan longsor susulan.

“Tidak semua warga Batubusuk kita relokasi, tapi untuk kawasan perkampungan Bukit Ubi sampai Patamuan wajib dipindahkan,” tegasnya usai mengunjungi korban galodo di tenda pengungsian Batubusuk.

Saat ini, tambahnya Mahyeldi, tim bentukannya sudah mulai melakukan penelitian dan pendataan terhadap kawasan perbukitan yang masih ditempati warga Batubusuk. Diyakinkannya, pekan ini keputusan nama warga yang akan dipindahkan sudah ke luar.

“Pekan ini keputusan itu sudah ke luar. Sebab, saya tadi sudah rapat di masjid beserta ninik mamak dan tokoh masyarakat Batubusuk. Mereka menerima rencana baik Pemko Padang untuk merelokasi,” ujarnya.

Untuk pemindahan warga Batubusuk nantinya, menurut Mahyeldi, pemerintah terlebih dahulu menyiapkan lahan setelah itu baru dibangun hunian tetap (huntap). Namun, Mahyeldi belum bisa memastikan di mana lahan relokasi korban galodo tersebut. “Semua ini dilakukan untuk mengurangi risiko jatuhnya korban jiwa di perkampungan mereka, saat ini sangat rentan terjadi longsor susulan,” katanya.

Soala jembatan gantung Batubusuk, Mahyeldi menegaskan, akan dibangun permanen. Sebab, jembatan tersebut satu-satunya akses jalur evakuasi bagi warga Batubusuk. Dananya dianggarkan APBD provinsi. “Saat ini sedang dilakukan proses tender. Jadi, dalam waktu tiga bulan tahun 2012 ini diharapkan pengerjaannya selesai,” tuturnya.

Mantan Wakil Ketua DPRD Sumbar itu mengharapkan dukungan masyarakat selama proses pembangunan jembatan. “Semua pemuda dan warga boleh ikut bekerja. Nantinya, semua itu akan kita hargai. Kita sangat mengharapkan jangan ada protes dari pihak mana pun terkait pembangunan jembatan ini. Jika ada tanah warga terpakai, harap direlakan karena semua ini demi kepentingan dan keselamatan bersama,” harapnya.

Buka Perkebunan

Di sisi lain, Ketua RW 03 Batubusuk Marial mengakui bahwa warganya memang ada membuka lahan perkebunan di beberapa kawasan perbukitan. Namun, itu semua hanya untuk kebutuhan hidup sehari-hari dan membiayai pendidikan anak.

“Tidak ada illegal logging. Yang ada hanya beberapa kawasan perbukitan diolah menjadi lahan perkebunan, seperti tanaman palawija, cokelat dan karet. Sebab, di semua titik longsor tidak ada kawasan hutan,” tegasnya.

Apabila warga tidak berkebun, kata Marial, dengan apa mereka membiayai sekolah anaknya sampai tamat kuliah. “Mereka melarang kami berkebun, memangnya mau membiayai anak-anak kami sekolah sampai tamat kuliah,” ujarnya.

Galodo di Batubusuk, menurut Marial, berawal dari gempa 2009 lalu yang memicu banyaknya tanah merenggang di perbukitan. Ketika hujan deras, maka air masuk ke sela-sela rongga tanah dan bebatuan sehingga memicu galodo.

“Informasi ini sudah lama saya terima dari warga yang biasa memikek burung. Mereka melihat banyak batu besar di lereng perbukitan yang sudah merenggang. Tanah pun banyak juga yang merekah,” katanya. (mg14/ayu/mg19)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA