Date Jumat, 1 August 2014 | 12:45 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Mantan Kabid Dikdas Pasaman Barat Ditahan

Selasa, 04-09-2012 | 13:38 WIB | 944 klik

Pasbar, Padek—Setelah dilakukan pemeriksaan secara maraton. Akhirnya, Iqbal mantan Kabid Dikdas Dinas Pendidikan Pemkab Pasaman Barat (Pasbar) ditahan Kejaksaan Negeri Simpangampek sekitar pukul 11.00 WIB Senin, (03/9). Iqbal yang sudah dijadikan tersangka terseret kasus dugaan korupsi dengan kerugian senilai Rp100 juta lebih.

”Ya, benar Iqbal sudah kita tahan dan saat ini telah dikirim dengan mobil kejaksaan untuk dititipkan di Rumah Tahanan (Rutan) Talu. Tujuannya untuk memudahkan pemeriksaan dan proses hukum,” kata Kajari Simpangampek, Idianto, melalui Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Erman Syafrudianto kepada Padang Ekspres di Simpangampek, Senin (3/9).

Dijelaskan, sebelumnya Iqbal sudah ditetapkan sebagai tersangka sejak sekitar Februari 2012 lalu. Iqbal terseret kasus pungutan liar terhadap guru-guru SD yang mengambil kuliah penyetaraan di Universitas Bung Hatta (UBH) yang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Pasbar. Akibat perbuatannya itu, ia akan dijerat dengan Undang-Undang Korupsi dengan menyalahgunakan wewenang.

Penahanan Iqbal itu sesuai surat Print nomor: 824/N.3.23/Fd.1/08/2012, tanggal 3 September tahun 2012. Iqbal ditahan setelah dilakukan penetapan tersangka dan telah dilakukan pemeriksaan rutin dan meminta keterangan saksi-saksi. Sebelumnya Safrida seorang guru Taman Kanak-Kanak di Kecamatan Kinali juga sudah dijadikan sebagai tersangka, tapi belum ditahan. ”Kita lihat sajalah nanti hasil pengembangannya. Yang jelas tersangka lain akan kita tahan sesuai dengan aturan,” terang panggilan Rudi ini.

Menurutnya, kedua tersangka akan dijerat pasal 12 f UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak pidana Korupsi. Dua tersangka itu diancam dengan penjara minimal 4 tahun dan maksimal 15 tahun penjara. Karena kedua tersangka telah melakukan pemerasan 75 mahasiswa. Sebelumnya telah dilakukan pemanggilan terhadap saksi berjumlah 80 orang lebih termasuk pihak dari UBH dan Dinas Pendidikan Pasbar.

Seperti diberitakan Padang Ekspres sebelumnya, kedua tersangka ini telah menjalani pemeriksaan di Kejaksanaan Negeri Simpangampek. Selain itu, mantan Kepala Dinas Pendidikan, Hendri Satriawan dan mantan Sekretaris Dinas Pendidikan, Ramli termasuk 6 orang guru berinisial ”D”, ”NR”, P”, ”HG”, ”NE” dan ”DL” yang menjadi korban pemerasan juga telah diperiksa. Pemanggilan para saksi ini untuk menguatkan laporan yang mereka laporkan ke Kejaksaan Negeri Simpangampek. Kuat dugaan, tersangka ini telah menyalahgunakan jabatannya untuk memeras para korban.

Adapun modus dugaan pungli itu adalah dengan cara meminta sejumlah uang kepada guru yang merupakan calon mahasiswa agar bisa diterima sebagai mahasiswa di UBH Padang. Jumlah uang yang diminta untuk bisa lulus (uang suntik) masing-masing sebesar Rp 1,5 juta per orang.

Belum lagi uang untuk mengantar pendaftaran sebesar Rp100 ribu per orang, kemudian uang untuk monitoring pejabat dikdas dan uang saku sebesar Rp20 ribu per orang/minggu. Uang jilid sebesar Rp25 ribu per orang. Transaksi penyerahan uang tersebut dilakukan di kantor Dinas Pendidikan Pasbar pada hari Sabtu atau di luar jam kantor. Kasus ini baru terkuak saat dilakukannya sosialisasi yang dihadiri ”I” dan dosen UBH, Henrizal, Febriyeni, Khairul, dan Nurhaini pada Juli 2011 di TK Pertiwi Padang Tujuah, Kecamatan Pasaman.

Seharusnya masing-masin guru membayar uang semester Rp 2.450.000 per orang, biaya pendaftaran Rp 150 ribu per orang dan penilaian portopolio Rp 150 ribu. Mendengar hal itu, membuat kaget guru dan dosen. Para dosen itu mengatakan kalau mereka telah dibiayai UBH dan tidak perlu uang saku atau uang sejenis lainnya. (roy)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA