Date Senin, 28 July 2014 | 21:21 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kriminal

Beroperasi di Kawasan Hutan Lindung

Tambang Batu Bara Dipertanyakan

Sabtu, 01-09-2012 | 11:40 WIB | 876 klik

Limapuluhkota, Padek—Izin tambang batu bara di nagari Galugua, Kecamatan Kapur IX di pertanyakan. Pasalnya, eksploitasi diduga berada di kawasan hutan lindung.

”Izinnya harus dari Kementrian Kehutanan, jika daerah mengeluarkan izinnya akan berdampak hukum. Bahkan dikhawatirkan bisa lebih fatal hingga ke ranah pidana,” ujar aktifis Forum Peduli Luak Limopuluah, Yudilfan Habib kepada Padang Ekspres beberapa waktu lalu.

Menurut Habib, sebenarnya adanya tambang batu bara di Kabupaten Limapuluh Kota tidak membawa dampak positif sebagai salah satu sumber pemasukan bagi daerah. Sebab yang akan menikmati hasilnya, selain investor adalah pemerintahan pusat. Sehingga Limapuluh Kota hanya akan menjadi tempat yang hutannya dirusak untuk keperluan tambang.

”Daerah tidak akan mendapat apa-apa dengan adanya perusahan tambang di wilayahnya. Sementara hutan yang merupakan paru-paru dunia mau tidak mau harus ditebang untuk melakukan eksploitasi. Hal ini sangat berdampak buruk untuk kelestarian lingkungan di masa mendatang,” tegasnya.

Lalu, seperti apa kondisi ideal untuk pengelolaan tambang di daerah seharusnnya? Menurut Habib, tambang bisa dikelola melalui tambang rakyat. Namun memang harus diajarkan kepada masyarakat yang akan menambang bagaimana cara penambangan yang aman. Sehingga masyarakat tidak lagi menjual tanahnya atau hanya menyerahkannya kepada investor untuk mengelolanya.

Meski di balik adanya eksploitasi tersebut memiliki dampak positif terhadap infrastruk jalan di kawasan itu, dan akan dimanfaatkan oleh masyarakat hingga terbebas dari isolasi, namun menurut Habib dampaknya belum seimbang. Sebab, berapa banyak hutan yang harus hilang dengan kondisi tersebut.

”Tentunya yang akan menerima untung besar dari kekayaan alam yang dimiliki bukan daerah. Sementara masyarakat tetap miskin tidak bisa menjadi lebih sejahtera dengan adanya kekayaan alam yang dimiliki, di tambah lagi kerusakan hutan yang tidak bisa dibendung,” jelasnnya.

Berdasarkab data Dinas Kehutanan dan ESDM Limapuluh Kota, tambang batu bara yang ada di Kabupaten Limapuluh Kota, hanya terdapat di tiga daerah; Nagari Galugua dan Nagari Koto Lamo, Kecamatan Kapur IX, serta di Nagari Manggilang, Kecamatan Pangkalan Koto Baru.

Hanya saja, Kepala Dinas Kehutanan dan ESDM Kabupaten Limapuluh Kota, Deswan Putra menyebutkan, tambang yang masih produktif saat ini di Nagari Galugua. Sementara yang di Nagari Koto Lamo dan Manggilang produksinya sedikit.

”Sekarang tambang batu bara yang di nagari Galugua sedang melakukan perpanjangan izinnya di kehutanan,” jelasnya. (*)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA