Date Jumat, 25 July 2014 | 13:44 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Sayangnya Petani belum Punya Alat Suling Modern

Pengolahan Minyak Nilam

Sabtu, 07-05-2011 | 13:59 WIB | 1970 klik
Pengolahan Minyak Nilam

Potensi Pasbar: Tanaman nilam menjadi produk unggulan Pasbar. Saat ini, pemkab f

Ramlan, salah seorang pedagang pengumpul dan petani minyak nilam di Pasbar mengatakan, tanaman nilam memiliki prospek yang bagus untuk dikembangkan. Bayangkan saja, 1 Kg minyak nilam dihargai Rp350 ribu.


Sebelum terjadi krisis ekonomi, harga minyak nilam dulunya mencapai Rp1 juta per kilogramnya. Seiring perkembangan harga di pasaran, harga nilam kembali berangsur naik.


Selain harga jual minyak nilam yang cukup tinggi, proses pengolahannya pun terbilang mudah. Tak hanya itu, proses pemasarannya juga mudah dilakukan, karena para pedagang pengumpul akan mendatangi langsung petani nilam.


“Tanaman nilam ini memiliki prospek yang cerah untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, karena penjualannya cukup menjanjikan,” katanya.
Selama ini, perkembangan usaha minyak nilam di Pasbar masih tergolong sederhana. Salah satu kendala yang dihadapi para petani nilam adalah tidak tersedianya alat suling yang modern guna membantu mereka untuk meningkatkan kualitas minyak nilam.


Selama ini, alat penyulingan nilam yang ada masih tergolong tradisional. Mereka belum memiliki mesin penyulingan minyak yang modern, sehingga produksi minyak nilam yang dihasilkan pun sedikit. Sebaliknya, jika menggunakan mesin penyulingan yang modern, jumlah produksi minyak nilam yang dihasilkan bakal lebih banyak.
Selain itu, pengolahan secara tradisional juga berdampak pada kualitas minyak nilam yang dihasilkan. Warnanya pun berwarna kemerah-merahan, sehingga harga jualnya pun menjadi rendah.


Dia menjelaskan, tanaman nilam bisa ditumpangsarikan dengan tanaman lain seperti jagung, dan tanaman lainnya. Satu hectare tanaman nilam, bisa menghasilkan minyak nilam sekitar 500-600 liter. Kondisi lahan dan cuaca, membuat tanaman nilam ini sangat cocok dikembangkan di Pasbar.
Meski prospek tanaman nilam sangat menggiurkan, namun belum membaiknya harga minyak nilam di pasaran membuat petani enggan mengembangkan tanaman ini. Bahkan para petani cenderung beralih ke tanaman kelapa sawit dan jagung.


Ini disebabkan proses menanam hingga memproduksi minyak nilam membutuhkan biaya yang besar. Biaya pemeliharaan tanaman tersebut tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.


“Karena itu, hasil minyak nilam di Pasbar cenderung stagnan, bahkan turun. Ini disebabkan lahan yang digunakan untuk tanaman nilam banyak yang dialihfungsikan menjadi lahan perkebunan sawit dan jagung,” jelasnya.


Untuk menyikapi hal ini, ia berharap pemkab dapat menggairahkan kembali petani untuk mengembangkan tanaman nilam ini. Salah satunya, dengan memberikan bantuan alat penyulingan modern dalam rangka meningkatkan produksi minyak nilam dan juga melalui progam pemberian bibit nilam gratis kepada masyarakat.
“Dengan upaya seperti ini, saya yakin petani nilam akan bergairah lagi dalam mengelola tanaman nilam sehingga Pasbar bisa menjadi penghasil nilam terbesar di Sumbar atau bahkan di Indonesia,” harapnya. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA