Date Jumat, 1 August 2014 | 12:45 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Internasional

Tentara Assad Eksekusi 200 Warga di Daraya

Pembantaian Baru di Dekat Damaskus

Senin, 27-08-2012 | 13:39 WIB | 522 klik

Damaskus, Padek—Korban dalam kekerasan politik dan perang saudara di Syria masih terus berjatuhan. Mayat dari sedikitnya 200 warga ditemukan di sebuah kota kecil dekat Damaskus Sabtu lalu (25/8). Para aktivis menyebut bahwa sebagian besar di antara mereka sepertinya dibantai oleh para tentara rezim Presiden Bashar al-Assad dengan cara dieksekusi atau sengaja ditembak mati dari jarak dekat.

Pembantaian di Darayya, sekitar 8 km barat daya ibu kota, itu adalah tragedi terbaru di tengah perang yang berkecamuk di Syria. Sebelumnya, tentara rezim Assad juga dilaporkan membantai 108 warga sipil di Houla, utara Kota Homs, sekitar 160 km utara Damaskus, pada 25 Mei lalu. Mayoritas korban jiwa saat itu adalah perempuan dan anak-anak. PBB mengecam pembantaian itu setelah timnya langsung turun untuk melakukan investigasi.

Tragedi baru di Darayya, Provinsi Rif Dimashq, itu juga menjadi bukti bahwa rezim Assad menempuh segala cara dalam mempertahankan kekuasaan dan menindas warga yang mendukung oposisi.

Abu Kinan, seorang aktivis di Daraya, mengungkapkan bahwa sebagian besar korban tewas ditemukan di rumah-rumah dan ruang bawah tanah sejumlah bangunan. Mereka ditembak mati tentara yang melakukan operasi dan razia dari rumah ke rumah. Laporan itu belum bisa diverifikasi secara independen karena tidak ada akses bagi media asing untuk masuk ke Syria.

Namun, aktivis mengunggah video yang menunjukkan sejumlah gambar korban dan lokasi pembantaian. "Dalam beberapa jam terakhir, 122 mayat ditemukan. Sekitar 20-an orang sepertinya tewas ditembak penembak jitu. Sebagian lain dieksekusi dengan ditembak dari jarak dekat," ungkap Kinan. "Tentara Assad telah melakukan pembantaian di Darayya," tegasnya.

Aktivis dari Komite Koordinasi Lokal (LCC) Darayya memaparkan bahwa di antara para korban tewas, ditemukan delapan orang anggota keluarga al-Qassaa yang ditembak pada bagian kepala. Mereka terdiri dari tiga bocah, ayah dan ibu, serta tiga anggota keluarga lainnya. Mayat mereka ditemukan di sebuah bangunan dekat Masjid Mussab bin Umeir, Darayya.

Video lain yang dirilis aktivis memperlihatkan sejumlah mayat pria muda diletakkan secara berjajar di Masjid Abu Suleiman al-Darani. Kebanyakan di antara mereka seperti ditembak di kepala dan dada. "Ini pembantaian," seru pria yang merekamnya dalam video. "Anda menyaksikan aksi keji pasukan Assad pada warga Darayya. Lebih dari 150 jenazah dibaringkan di lantai masjid ini," serunya.

Mohammad Hur, aktivis lain di Darayya menyebutkan bahwa 36 jenazah remaja pria ditemukan kemarin pagi di sebuah gedung bersama sejumlah orang lain yang terluka parah. Namun, mereka tidak bisa dilarikan ke rumah sakit karena penjagaan ketat tentara pemerintah. "Kami masih mengidentifikasi jenazah dan memastikan penyebab kematian mereka. Bukti-bukti awal menunjukkan bahwa sebagian besar di antara mereka ditembak dari jarak dekat pada bagian wajah, leher, dan kepala. Mereka seperti sengaja dieksekusi," papar Hur lewat telepon. "Sejumlah perempuan dari dua keluarga menceritakan bahwa tentara menembak mati saudara laki-laki mereka di depan mata mereka," tambahnya.

Serangan atas Darayya menjadi bagian dari kampanye tentara Assad dalam merebut kembali kontrol atas wilayah-wilayah pinggiran ibu kota. Kota berpenduduk sekitar 260 ribu jiwa dilaporkan menjadi salah satu wilayah kantong oposisi di sekitar Damaskus.

Menurut Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), pembantaian itu menambah jumlah korban jiwa di Darayya. Lembaga pemantau yang berpusat di Inggris itu menyebut bahwa sedikitnya 320 orang telah tewas di Darayya dalam lima hari terakhir akibat serangan pasukan rezim Assad.

"Tentara rezim kini telah beralih fungsi menjadi tentara pendudukan yang memerangi rakyat Syria. Mereka coba menghancurkan permukiman dan warganya," cetus LCC. "Sedangkan milisi shabiha (milisi bersenjata pro-Assad) telah ditransformasikan menjadi mesin pembunuh yang mengancam nyawa rakyat dan masa depan kami," lanjut organisasi aktivis oposisi di Syria tersebut.

Eskalasi kekerasan di Syria juga belum berhenti. Aktivis oposisi melaporkan bahwa lebih dari 440 orang tewas di seantero negeri itu dalam bentrok antara pejuang oposisi dan tentara loyalis Assad pada Sabtu lalu. Itu adalah korban jiwa terbesar dalam sehari selama revolusi anti-Assad sejak 18 bulan lalu.

Dini hari kemarin (26/8) sembilan mayat ditemukan lagi di Darayya. Menurut LCC, sedikitnya 25 orang tewas di seantero Syria kemarin.

Pemerintahan Assad berdalih lain soal pembantaian di Darayya. "Angkatan bersenjata telah membersihkan kota di pinggiran Damaskus dari para teroris. Tentara berhasil menyingkirkan sejumlah besar mereka," kata kantor berita Syrian Arab News Agency (SANA) mengutip keterangan pejabat pemerintah.

Sementara itu, untuk kali pertama sejak sebulan lalu, Wakil Presiden (Wapres) Farouq al-Sharaa tampil di depan kemarin (26/8). Kemunculan Sharaa sekaligus menjawab kabar bahwa dirinya berupaya membelot ke Jordania dan dijatuhi sanksi tahanan rumah.

Sharaa kemarin menerima kunjungan Ketua Komisi Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Alaeddin Boroujerdi di kantornya di Damaskus. Dia kali terakhir muncul di depan publik saat menghadiri upacara pemakaman para pejabat Syria yang tewas akibat serangan bom pada 18 Juli lalu.

Spekulasi merebak sejak pekan lalu bahwa Sharaa, yang juga pejabat tertinggi Muslim Sunni dalam pemerintahan Assad, dilaporkan oleh oposisi berupaya membelot. Rezim Assad digoyang oleh pembelotan sejumlah pejabat penting pemerintahannya. Antara lain, mantan Perdana Menteri (PM) Riyad Farid Hijab; dan Jenderal Manaf Tlass, teman masa kecil sang presiden.

Pemerintah Jordania dan kantor Sharaa telah membantah isu pembangkangan tersebut.

Wartawan pun menyaksikan langsung kemarin saat Sharaa keluar dari mobilnya dan menuju kantornya untuk bertemu dengan Boroujerdi. (AFP/AP/RTR/CNN/cak/dwi)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA