Date Senin, 28 July 2014 | 19:21 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Nasional

Masih Berpotensi Penyempitan Kendaraan Sumbar-Riau

Kelok 9 Siap Layani Pemudik

Rabu, 15-08-2012 | 11:31 WIB | 4847 klik
Kelok 9 Siap Layani Pemudik

Kelok Sembilan dijepret dari udara

Limapuluh Kota, Padek—Polemik penggunaan jembatan layang (fly over) Kelok Sembilan untuk arus mudik berakhir. Pemerintah Provinsi Sumbar akhirnya memutuskan jembatan layang di perbatasan Sumbar-Riau itu dibuka untuk mengurai kepadatan arus lalu lintas selama musim mudik di kawasan tersebut.

Hari ini (15/8), sekitar pukul 16.00, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno meresmikan penggunaan jembatan layang Kelok Sembilan yang berlokasi di Jorong Aieputiah, Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota. Pembukaan jalan dan jembatan Kelok Sembilan ini diprediksi mampu mempercepat arus mudik dan balik Lebaran tahun ini.

Untuk memastikan kesiapan penggunaan Kelok Sembilan, Kepala Dinas Prasarana Jalan dan Tata Permukiman (Prasjal Tarkim) Sumbar, Suprapto dan Kepala Dinas Perhubungan Kominfo Mudrika, bersama Bupati Limapuluh Kota Alis Marajo, serta Kapolres Limapuluh Kota AKBP Pratomo Iriananto meninjau lokasi dengan melintasi jembatan tersebut, kemarin (14/8).

Iring-iringan mobil rombongan melintas mulus di sepanjang jembatan. Seperti diketahui, peresmian penggunaan jembatan ini sempat terundur tiga kali akibat beberapa persoalan, terutama pertimbangan keselamatan pengguna jembatan.

Suprapto kepada Padang Ekspres saat uji coba jembatan mengatakan, jalan dan jembatan ini sudah layak secara teknis digunakan saat arus mudik dan balik Lebaran. Sebab, sudah memiliki tembok pembatas setinggi 1,5 meter, terpasang rambu-rambu dilarang berhenti, dan sudah ada lampu penerangan sepanjang Kelok Sembilan, meski masih sementara dengan lampu-lampu kecil.

”Hanya saja, pengamanan jalan harus diwaspadai kepolisian. Seperti pengguna jalan yang berhenti di atas jembatan, bisa memicu kecelakaan lalu lintas. Begitupun Pemkab Limapuluh Kota, harus menertibkan pedagang yang berjualan di gerbang jalan,” harap Suprapto.

Namun begitu, tambah Suprapto, pembukaan jembatan Kelok Sembilan ini sifatnya hanya sementara. Hanya melayani arus mudik dari Pekanbaru ke Sumbar. Sebelum Lebaran, jembatan ini hanya dibuka untuk arus kendaraan dari arah Pekanbaru ke Payakumbuh, sedangkan kendaraan dari Payakumbuh ke Pekanbaru masih menempuh jalan biasa.

Begitu sebaliknya, pasca-Lebaran, giliran arus dari arah Payakumbuh-Pekanbaru dibuka. “Ini bentuk ucapan selamat datang kita kepada perantau. Sehingga, kita akan membuka jalur saat mudik dan balik bagi perantau,” kata Suprapto.

Meski sudah layak secara teknis, Suprapto mengingatkan pengendara perlu berhati-hati melewati jembatan. Misalnya, kecepatan maksimun hanya 40 kilometer per jam. Selain itu, ada jalur penyempitan di atas jembatan guna menghindari benda jatuh dari atas tebing.

”Kita juga akan mengerahkan petugas Dishub Kominfo bekerja sama dengan kepolisian untuk pengamanan di atas jembatan. Khusus penertiban pedagang di pinggir pintu masuk, memang harus dipindahkan paling lambat pukul 00.00 malam ini (dini hari tadi, red),” ucap Kadishub Kominfo Sumba Mudrika kepada wartawan.

Mudrika yakin keberadaan jembatan ini bisa mengurai kemacetan. “Sebab, selama ini yang menjadi titik macet adalah di kawasan ini. Ke depan, kelancaran arus lalu lintas mudik dan wisata akan lebih baik dan tidak lagi terganggu,” tambahnya.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jembatan Kelok Sembilan, Rina Komalasasi didampingi Kasatker Dahler menyebutkan, penerangan jalan umum menggunakan solar cell (lampu dengan arus listrik dari cahaya matahari). “Ke depan, kita akan melengkapi pemasangan rambu-rambu lalu lintas yang sekarang belum sepenuhnya lengkap,” katanya.

Bupati Limapuluh Kota Alis Marajo berjanji melakukan penertiban terhadap pedagang di sekitar jembatan Kelok Sembilan. “Penertiban dan pemindahan pedagang akan kita lakukan di rest area sekitar 500 dari kawasan ini, tepatnya ke arah Huluaia, Nagari Sarilamak,” ungkap Alis Marajo kepada wartawan didampingi Kepala Satuan Polisi Pamong Praja, Nasriyanto.

Kapolres Limapuluh Kota, Pratomo Iriananto menyatakan kesiapan jajarannya mengamankan arus mudik di kawasan Kelok Sembilan. “Kita telah membuat posko pengamanan di kawasan Kelok Sembilan beroperasi 24 jam. Petugas juga akan melakukan patroli untuk mengantisipasi kemungkinan tak diinginkan,” ungkapnya.

Jembatan Kelok Sembilan yang dibangun sejak 2003 ini, telah menghabiskan anggaran Rp 351 miliar. Untuk menahan kemungkinan banjir bandang, Pemprov Sumbar menganggarkan dana melalui APBD untuk membuat cek dam, yang ditargetkan selesai tahun 2013 dengan dana Rp 9,3 miliar. Cek dam selebar 30 meter dan panjang 400 meter ini, mampu menampung 120 ribu kubik sedimen.

Data Kementerian Pekerjaan Umum, total panjang jembatan Kelok Sembilan 2.537 meter, terdiri dari 980 meter jembatan terbagi dalam enam bagian, serta 1.557 meter jalan penghubung. Jembatan ini ditargetkan mampu menampung lalu lintas harian rata-rata 6.800 unit kendaraan pada hari biasa, dan 11.350 unit kendaraan pada hari libur.

Selain kesiapan jembatan Kelok Sembilan, rombongan juga meninjau jalan lintas Padang-Bukittinggi. Hasil peninjauan ini tertungkap bahwa mendesaknya perbaikan salah satu pangkal jembatan di Kayutanam akibat terban. Mengatasi itu, PPK Jalan Nasional Yahya menargetkan pengerjaan perbaikan tuntas Kamis (16/8).

Rombongan juga meninjau kesiapan jalan alternatif Sicincin-Malalak. Khusus jalur alternatif ini, PPK Nasional Desman didampingi Kasatkernya M Radhi Kasim, menyampaikan bahwa masih ada tujuh jembatan belum permanen, serta beberapa ruas jalan masih sempit. Ini akibat masih ada tanah masyarakat di beberapa titik belum dibebaskan Pemkab Agam.

Ide (Alm) Mustasir

Pembangunan jembatan layang Kelok Sembilan berawal dari ide (alm) Mustasir, pakar jembatan di Kementerian Pekerjaan Umum (PU)? Semua itu berawal tahun 2001 lalu, Mustasir dalam satu kesempatan berhenti di Kelok Sembilan. Ia begitu mengagumi keindahan alam sekitar Kelok Sembilan. Namun, Mustasir prihatin melihat sempitnya ruas jalan melewati Kelok Sembilan.

Akibat jalan sempit itu, menurut Mustasir, jelas tidak memungkinkan dilewati truk-truk berukuran besar pengangkut komoditi perdagangan dari Sumbar. Apalagi pemerintah juga sudah meneken kerja sama dengan negara tetangga, yang akrab disebut Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT GT).

Beranjak dari kondisi itulah, Mustasir berkeinginan membuat jembatan layang Kelok Sembilan. Ide petinggi Kementerian PU itu disambut baik Gubernur Sumbar (alm) Zainal Bakar ketika itu, dan menjadi bahan kajian jajaran pimpinan Dinas Bina Marga (sekarang Dinas Prasarana Jalan dan Tata Permukiman/Prasjal Tarkim) Hediyanto, Dody Ruswandi, dan Suprapto (sekarang Kadis Prasjal Tarkim Sumbar, red). Berkat kerja keras meyakinkan petinggi Bina Marga (pemerintah pusat, red), akhirnya usulan pembangunan jembatan Kelok Sembilan mendapat persetujuan.

Berbekal persetujuan, maka dimulailah sosialisasi kepada masyarakat sekitar sehubungan akan dibangunnya Fly Over Kelok Sembilan. Beberapa desain pun bermunculan, dan akhirnya diseminarkan oleh Dinas Bina Marga bekerja sama dengan perguruan tinggi dan balai terkait.

Tahun ini, pembangunan tahap 1 tahap 2 fly over Kelok Sembilan rampung. Sampai sekarang, pembangunan fly over Kelok Sembilan ini menelan dana lebih kurang Rp 350 miliar. Untuk menuntaskan proyek jembatan sepanjang 3 km dengan lebar 15 meter menggunakan beton bertulang ini sampai tuntas, setidaknya menghabiskan dana Rp 550 miliar. Dijadwalkan hari (15/8), Gubernur Sumbar Irwan Prayitno meresmikan penggunaan jembatan tersebut. (*)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA