Date Rabu, 23 July 2014 | 16:51 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Pendidikan

Kasra Scorfi: Hanya Melahirkan Proyek Birokrat

UKG Online Dinilai tak Efektif

Senin, 30-07-2012 | 12:35 WIB | 2717 klik

Agam, Padek—Sebanyak 3128 orang guru di Kabupaten Agam mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG), Senin ini (30/7). Ujian dilaksanakan untuk pemetaan guru bersertifikasi di Kabupaten Agam secara serentak diseluruh Indonesia dengan menggunakan sistem uji online.

Ketua Pelaksana UKG Kabupaten Agam Eriswan kepada Padang Ekspres, Minggu (29/7) mengatakan, ujian dilaksanakan pada 16 lokasi. “Sebelumnya, kami telah berikan sosialisasi kepada peserta yang mengikuti UKG agar dalam pelaksanaan ujian bisa berjalan dengan baik,” katanya.

Kasra Scorfi, guru IPS di SMP 1 Palembayan, menyebutkan, uji kompetensi guru menurut Mendikbud M Nuh tidak tepat dikatakan ujian karena setiap ujian ada yang lulus atau tidak lulus, tetapi uji kompetensi ini, berapapun nilai yang diperoleh guru tidak ada istilah lulus atau tidak, dan tidak akan diberikan tanda lulus atau tidak.

”Ujian ini hanya semacam monitoring terhadap guru agar diperoleh peta kemampuan guru, oleh karena itu guru diharapkan jangan cemas mengikutinya. Ujian ini tidak ada pengaruhnya terhadap pengucuran uang sertifikasi,” kata Kasra mengutip pernyataan Mendikbud.

Lebih lanjut Kasra mengatakan, memonitor kinerja guru dengan cara online melalui internet tidak efektif, karena dengan soal-soal yang akan diberikan paling-paling hanya akan diperoleh gambaran kemampuan kognitif (pengetahuan teori) para guru. Padahal yang amat penting bagi guru adalah kemampuan dan keseriusan dalam bertugas di lapangan.

Oleh karena itu ujian kompetensi paling valid dan akurat adalah ujian langsung ke dalam kelas, seperti yang dilakukan pada zaman saisuak. Di mana sang penguji menanyai murid dalam kelas tentang materi pelajaran yang diajarkan guru. Misalnya, hai Upik 2X2 berapa? Kalau si Upik tidak bisa menjawab, maka gurunya diindikasikan kurang berkompeten, maka diberikan pembinaan kepadanya dengan briefing.

“Cara begini bisa dilakukan di lapangan dengan memanfaatkan dan menambah jumlah pengawas. Sekarang pengawas kurang termanfaat. Ironisnya, mereka direkrut dari guru bermasalah, kerjanya hanya mendatangi sekolah, cerita-cerita dan ketawa-ketiwi dengan kepala sekolah, mau pulang dititip amplop. Itu saja,” kata Kasra.

“Guru pun hanya dibebani dengan seabrek perangkat teori yang tidak dilaksanakan. Jadi, sekali lagi saya katakan ujian kompetensi jarak jauh tidak bakalan efektif. Itu hanya melahirkan proyek untuk menambah pendapatan birokrat yang mengurus guru dan membuat guru, cemas, repot, perai mengajar, sekolah diliburkan, menimbulkan biaya untuk pergi ujian, gregetan, stres, bisa-bisa menghadapi ujian itu guru bakalan di USG dan masuk UGD,” lanjutnya.

Makanya dia berpendapat, yang penting bagi guru bukan ujian ini, ujian itu. Cukuplah siswa yang diuji, guru telah jenuh diuji. ”Lulus ujian perguruan tinggi, ujian mendapatkan akta, ujian masuk PNS, ujian untuk memperoleh jatah untuk ikut ujian sertitifikasi, lalu di tatar 10 hari, diuji lagi, kalau tidak lulus ujian susulan, kini uji kompetensi lagi, kapan ngajarnya,” bebernya.

Bagi guru yang terpenting adalah suasana bertugas yang free and fresh. Jangan lagi diancam-ancam dengan aturan ini, itu. Mau mendapatkan tunjangan sertifikasi saja repotnya setengah mati, padahal polisi dan tentara dapat tunjangan remunirasi aman-aman saja.

”Sudah menjadi tradisi bagi borokrat mengharu biru guru, kalau demikian terus menerus mana mungkin pendidikan bisa maju,” tegas Kasra. (*)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA