Date Sabtu, 2 August 2014 | 09:28 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Harus Sediakan Alat Tanggap Darurat

Angkutan Lebaran Wajib Kir

Selasa, 24-07-2012 | 12:18 WIB | 319 klik

Padang, Padek—Angkutan Lebaran diwajibkan menggunakan peralatan tanggap darurat. Ini dilakukan untuk mencegah jatuhnya korban jiwa, akibat tidak memadainya sarana dan prasarana yang dimiliki awak angkutan. Jika tidak dipenuhi, Dinas Perhubungan, Informatika dan Telekomunikasi Sumbar tidak diizinkan sebagai angkutan Lebaran serta mencabut izin kir angkutan tersebut.

Demikian ditegaskan Kepala Dinas Perhubungan, Informatika dan Telekomunikasi Sumbar Mudrika didampingi Kepala Bidang Teknik Sarana dan Keselamatan Angkutan Darat Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Sumbar, Con Aspi kepada Padang Ekspres, kemarin (23/7).

Untuk angkutan Lebaran, Dishub sudah menyiapkan 1.927 angkutan kota dalam provinsi (AKDP) dan 523 angkutan kota antarprovinsi (AKAP). “Semuanya laik jalan. Namun, itu saja tidak cukup, setiap angkutan Lebaran wajib memiliki peralatan tanggap darurat. Ini belajar dari pengalaman terbakarnya bus PO Yanti di Payakumbuh beberapa waktu lalu yang banyak menelan korban jiwa,” ujarnya.

Sejak tahun 2003 lalu, sebenarnya setiap angkutan penumpang sudah diwajibkan melengkapi diri dengan peralatan tanggap darurat. Namun dalam praktiknya, banyak pemilik kendaraan yang mengabaikannya. “Memang selama ini sosialisasinya agak kurang,” ujarnya.

Kealpaan itu sudah diperbaiki dengan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 551.21/090/ LLAD-KA/2012 tentang Standar Keselamatan Tanggap Darurat Angkutan Penumpang. “Kami juga gencar merazia berbagai lokasi rawan kecelakaan lalu lintas,” ujarnya.

Peralatan tanggap darurat meliputi palu pemecah kaca, pintu darurat untuk evakuasi, racun api, P3K serta papan informasi tentang tata cara penggunaan alat tanggap darurat tersebut.

Dishub Sumbar akan melakukan kir ulang setiap kendaraan yang menjadi angkutan Lebaran.

Fokus pemeriksaan pada komponen motor penggerak kendaraan, rem, kemudi, lampu, ban dan peralatan tanggap darurat. “Kalau memenuhi persyaratan, baru ditempelkan stiker “Angkutan Lebaran”,” ujarnya.

Con Aspi menambahkan, dalam surat edaran tersebut, setiap mobil bus umum yang dirancang untuk mengangkut penumpang wajib memenuhi berbagai persyaratan keselamatan. Untuk bus berpenumpang kurang dari 15 orang, tidak termasuk pengemudi, harus mempunyai sekurang-kurangnya satu pintu keluar atau pintu masuk penumpang pada dinding kiri bagian depan atau belakang yang lebarnya minimal 650 milimeter dan setinggi dinding.

Untuk bus penumpang berkapasitas lebih 15 orang, tidak termasuk pengemudi, minimal harus mempunyai satu pintu keluar atau masuk minimal selebar 12.000 mililiter dan setinggi dinding atau dua pintu keluar atau masuk untuk penumpang selebar 650 milimeter dan satu pintu lainnya ditempatkan pada dinding kiri dengan lebar 550 milimeter, setinggi dinding.

“Kendaraan yang mengangkut penumpang sebanyak 15 orang atau lebih wajib mematuhi aturan main ini. Dasar dari SE ini adalah PP No 44/1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi serta SK Dirjen Perhubungan Darat Nomor: SK 1763/AJ. 501/DRJD/ 2003 tentang Petunjuk Teknis Tanggap Darurat,” ujarnya.

Kaca bus wajib menggunakan kaca keselamatan (safety glass). Setiap kendaraan juga wajib memasang tanda atau tulisan yang menyatakan tempat keluar darurat dan penjelasan mengenai tata cara membukanya.

Untuk kir kendaraan angkutan Lebaran akan dilakukan H-7 sampai H-7 di terminal-terminal atau lokasi yang telah ditunjuk sebagai tempat pelaksanaan kir kendaraan. Jika kendaraan tak memenuhi persyaratan teknis dan tidak memperhatikan keselamatan nyawa penumpang, Dishub akan cabut kirnya.

“Kami kan juga sudah menggelar razia di sejumlah tempat, yakni Payakumbuh, Padang, Tanahdatar, Pariaman, Solok dan Sijunjung. Ratusan kendaraan yang terjaring umumnya kir mati, tanpa papan trayek, mati kartu pengawas sampai kelebihan muatan,” ucapnya.

Ketua Organda Sumbar, Sengaja Budi Syukur mendukung langkah Dinas Perhubungan Sumbar. Menurutnya, peralatan tanggap darurat di angkutan penumpang harus ada. “Saya mengimbau seluruh awak angkutan selalu menyiapkan peralatan tanggap darurat ini. Saya juga minta kernet atau penumpang tidak menempatkan barang bawaan pada lorong pintu masuk dan pintu keluar agar akses keluar masuk tidak terhambat,” imbaunya. (ayu)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA