Date Kamis, 24 July 2014 | 03:21 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Ragam Info

Jangan Ada Kekerasan

MOS hanya Perkenalan?

Selasa, 10-07-2012 | 11:17 WIB | 796 klik
MOS hanya Perkenalan?

Model : Fitriyeni (SMAN 4 Padang ) Fotografer: Iwan Desain: Orta

MOS memang seru, tapi tak bagi semua orang MOS itu terasa seru. Pasalnya, masih ada sebagian orang yang pro pada MOS, akan tetapi ada juga yang kontra. Kenapa bisa seperti itu? “Pada dasarnya karena hakikat MOS itu mulai bergeser dari yang semestinya,” tutur Rian Hanami dari Unand. “Sesuai kepanjangannya, Masa Orientasi Sekolah. Harusnya MOS menjadi masa orientasi bagi siswa/mahasiswa baru agar bisa lebih mengenal sekolah/kampus baru mereka. Sekarang, MOS malah disusupi dengan kegiatan perpeloncoan di dalamnya. Jelas kegiatan seperti itu bertentangan dengan pengertian sebenarnya dari MOS. Karena hal itulah ada sebagian orang yang menjadi kontra dengan kegiatan MOS,” tambah cowok yang kini telah masuk semester tujuh ini.

Nah, Rian sendiri gimana? Masuk golongan yang pro atau kontra nih dengan MOS?

“Kalau aku sih, asalkan kegiatan MOS itu masih sesuai dengan semestinya ya jelas bakal pro dan itu pasti jadi MOS yang positif. Kalau kegiatan MOS itu udah disusupi perpeloncoan, nah itu yang nggak pernah aku suka. Karena jika MOS disusupi perpeloncoan, maka pada MOS tahun ajaran depan aksi perpeloncoan itu bakal tetap ada. Itu menjadi balas dendam bagi yang dulu dipelonco oleh seniornya. MOS yang seperti itu akan menimbulkan efek negatif terhadap siswa/mahasiswa baru.”

Penjelasan Rian diamini oleh Sri Ningsih dari UNP. Menurut cewek yang yang aktif di organisasi ini, kegiatan perpeloncoan sering terjadi di saat MOS berlangsung. Padahal sebenarnya kegiatan negatif tersebut bukanlah program resmi dari panitian MOS. “Biasanya perpeloncoan dilakukan oleh oknum mahasiswa, bukan dari organisasi mahasiswa di kampus. Boleh dibilang, oknum-oknum tersebut adalah preman kampus. Mereka biasanya bukan panitia resmi dari kegiatan MOS. Kegiatan perpeloncoan ini pun biasanya terjadi di saat jam istirahat kegiatan MOS, bukan pada jam kegiatan MOS berlangsung.”

Rekan sekampus Sri, yaitu Husna ikut menambahkan. Menurut Husna, oknum yang melakukan perpeloncoan tersebut biasanya adalah mahasiswa yang dulu juga menjadi korban perpeloncoan oleh seniornya dulu di saat MOS. “Jadi ya semacam balas dendam gitu lah sobeX. Kalau kegiatan perpeloncoan yang jelas-jelas negatif ini tetap dibiarkan, maka sampe generasi keberapapun bakal tetap ada kegiatan seperti itu dalam MOS. Harus dihentikan, minimal untuk tiga generasi. Maka setelah itu kegiatan perpeloncoan akan hilang dari kampus.”

Nah, gimana dengan kegiatan MOS di sekolah-sekolah yang ada di Padang? Ternyata nggak seseram kegiatan MOS di kampus lho sobeX. Kegiatan MOS di sekolah dipandu langsung oleh para guru-guru. Saat kegiatan berlangsung pun, hanya siswa yang menjadi panitia saja yang boleh ikut campur tangan. Siswa yang bukan panitia, pasti disuruh pulang. “Agar tak mengganggu,” ujar Ringga, salah seorang panitia MOS di sebuah sekolah. “Tapi beberapa siswa yang bandel tetap ada yang mengganggu. Mereka menggoda siswi baru. Jumlahnya nggak banyak, dan bisa diantisipasi. Lagipula hanya sekadar gitu aja kok, nggak sampai pake kekerasan.”

“Ya jangan sampelah acara MOS pakai kekerasan segala. Ini kan SMA sobeX, bukan STP… (menyebut nama sebuah kampus yang beberapa tahun lalu bermasalah dengan tindakan kekerasan para senior kepada juniornya). Kalau acara MOS tahun ini pake perpeloncoan, aku yakin seyakin-yakinnya deh sobeX, MOS tahun ajaran depan pasti para junior tersebut bakal balas dendam ke junior yang baru,” tutur Irna dari SMAN 3 Padang. “Efek jangka lamanya nih sobeX, bakal tercipta generasi muda yang lebih ngandelin kekerasan daripada kecerdasan. Nggak salah kan kalau banyak kejadian tawuran, kekerasan remaja dan kejahatan lainnya yang dilakukan orang muda saat ini. Salah satu penyebabnya ya perpeloncoan itu .

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA