Date Senin, 28 July 2014 | 13:14 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Demo Rumah Bupati, Warga Desak Kapolres Tindak Polisi Nakal

Oknum Polisi Peras Penambang

Sabtu, 30-06-2012 | 10:26 WIB | 586 klik
Oknum Polisi Peras Penambang

Para penambang emas demo ke kantor bupati.

Dharmasraya, Padek—Citra polisi kembali tercoreng menjelang peringatan Hari Bhayangkara yang jatuh Minggu (1/7) besok. Tidak tahan “diperas” oknum polisi, para penambang mendemo rumah bupati Dharmasraya, kemarin malam. Mereka mendesak bupati agar segera mengeluarkan regulasi pertambangan rakyat agar ada kepastian berusaha.

Massa datang sekitar pukul 20.00 WIB dari berbagai jorong di Kecamatan Kotobaru. Di antaranya Jorong Aurjaya, Sitiung V, Bukitmindawa, Seberangpiruko dan lainnya. Warga yang datang tidak saja kaum laki-laki, tapi juga kaum wanita dan anak-anak.

Massa juga meminta aparat membebaskan warga Aurjaya yang ditangkap Polres Dharmasraya saat razia penambangan emas tanpa izin, kemarin sore. Dalam demo itu, massa juga menyerahkan lima nama oknum anggota Polres yang diduga terlibat dalam illegal minning tersebut.

Semakin malam, massa yang datang makin banyak. Ada yang datang dengan sepeda motor, mobil pick up, truk dan lainnya. Massa disambut Bupati Dharmasraya Adi Gunawan, Kapolres Dharmasraya AKBP Chairul Aziz, dan Danramil Pulaupunjung. Puluhan anggota Polres yang berpakaian preman dan Pol PP terlihat berjaga-jaga. Aksi demo berjalan tertib dan lancar.

Salah seorang warga Aurjaya, Asep, 49, didampingi Marni, 38, yang suaminya ditahan di Mapolres Dharmasraya karena melakukan penambangan liar mengatakan, mereka menambang hanya untuk menghidupi keluarga.

“Kami bukan mencuri atau merampok. Kami menambang di tanah tambang yang kami sewa. Kenapa suami saya ditahan? Hidup kami tambah susah gara-gara tindakan aparat tersebut,” ucapnya.

Atas nama warga Aurjaya, Asep menyayangkan sikap arogansi oknum kepolisian. Setiap bulan, katanya, para oknum itu meminta upeti dari warga yang menambang. “Kami berharap Bupati Adi Gunawan yang kami pilih dalam pilkada lalu, merealisasikan janjinya. Kapolres juga kami minta menindak tegas oknum aparat nakal dan membebaskan warga kami yang ditahan,” tegasnya.

Adi Gunawan didampingi Kapolres usai aksi demonstrasi menyatakan tidak bisa mengizinkan penambangan emas liar karena bertentangan dengan hukum.

Kapolres AKBP Chairul Aziz menegaskan tidak akan menolerir aktivitas penambangan emas tanpa izin. “Yang sudah ditangkap akan diproses sesuai hukum,” tegasnya.

Terkait adanya oknum aparat yang terlibat, Chairul Aziz mengatakan sedang melakukan penyelidikan. “Jika terbukti kita akan proses sesuai aturan disiplin kepolisian,” tegasnya.

Meski dilarang, di lapangan masih terjadi pungli terhadap para penambang oleh oknum aparat. Para penambang mengaku harus membayar upeti kepada oknum polisi dengan jumlah bervariasi. “Sudahlah bayar upeti, kami dirazia pula,” kata salah seorang pendemo.

Para penambang emas dari Kotobaru ini merasa didiskriminasi oleh aparat. Mereka menilai polisi tebang pilih karena para penambang di kawasan Siguntur, Pulai dan Sipangku terkesan tidak tersentuh tangan aparat.

“Kenapa kami (Kotobaru, red) saja yang dirazia, sedangkan di tempat lain dibiarkan saja menambang. Kalau memang dilarang, ya harus semuanya ditertibkan. Jangan kami saja yang dirazia,” kritik penambang lainnya.

Para penambang emas dari Kotobaru itu hanya ingin kepastian berusaha dari Pemkab Dharmasraya. Mereka bersedia mengikuti aturan dan persyaratan yang harus dipenuhi, bila pertambangan emas rakyat dilegalkan.

“Kalau memang alasannya merusak lingkungan, kami bersedia mengurus analisa mengenai dampak lingkungan (amdal) atau UKL/UPL. Kalau harus bayar pajak, kami bersedia membayarnya setiap tahun. Kalau memang memiliki sejumlah perizinan, kami pun siap mengurusnya. Terpenting bagi kami adalah kepastian,” ujar penambang lainnya. Puas menyampaikan unek-uneknya, dengan tertib massa membubarkan diri massa sekitar pukul 24.00. (ita)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA