Date Rabu, 30 July 2014 | 16:02 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Tiga Pekerja Kabur

Bos Tambang Emas Tertangkap

Rabu, 27-06-2012 | 12:15 WIB | 2560 klik
Bos Tambang Emas Tertangkap

Polisi mengamankan dua unit mesin dompeng milik salah satu bos tambang di Solok

Solsel, Padek—Berselang sepekan, jajaran Polres Solok Selatan kembali mengamankan tersangka pelaku illegal minning (penambangan tanpa izin), Senin (25/6) lalu sekitar pukul 17.30. Dari tangan tersangka, polisi berhasil menyita barang bukti berupa dua set dompeng.

Tersangka yang telah diamankan itu berinisial HKA, warga Jorong Lubukgadang, Nagari Lubukgadang, Kecamatan Sangir, Solok Selatan. Saat ditangkap, lelaki berusia 25 tahun itu tengah menambang emas, bersama tiga rekannya, di kawasan Pamonggadang, Duriantaruang, Lubukgadang, Sangir. Tiga pekerja itu berhasil kabur, dan kini masuk daftar pencarian orang (DPO).

Belakangan diketahui, HKA merupakan pemilik dua set dompeng alias bos tambang. Lokasi penggerebekan rombongan HKA, hanya berjarak sekitar 500 meter dari penangkapan tiga tersangka illegal minning pada Sabtu (16/6) lalu. “Saat penangkapan, pemilik dompeng juga ikut bekerja,” terang Kapolres Solok Selatan AKBP Djoko Trisulo, didampingi Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Kasat Reskrim) AKP Basrial, Selasa (26/6).

Tiga pekerja yang telah menjadi DPO juga merupakan warga Kecamatan Sangir. Kini, tersangka sedang dalam pemeriksaan petugas. Operasi penertiban penambangan emas tanpa izin yang digelar jajaran Polres Solsel selama beberapa pekan terakhir merupakan bentuk komitmen kepolisian dalam rangka mewujudkan zero illegal minning.

Tersangka illegal minning akan diancam Pasal 158 UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara dengan ancaman kurangan 10 tahun penjara dan denda 10 miliar.

Sementara itu, berkas tiga tersangka illegal minning yang tertangkap sepekan lalu, Safri, 52, Romi Bukari, 29, Defni Saputra, 18, sudah siap. Sedangkan Toib, sang pemilik modal, keberadaannya masih misterius. “Berkasnya sudah siap, sekarang menunggu tahap satu,” imbuh Basrial.

Dia menambahkan, pihaknya terus melakukan penyisiran di seluruh titik penambangan untuk menghentikan penambangan ilegal di daerah tersebut.

Belum Ada Solusi

Hingga kini, kasus illegal minning masih menjadi persoalan pelik di Sumbar. Selain Solok Selatan, persoalan tambang emas liar juga marak di Dharmasraya. Hingga kini, masyarakat kedua daerah tersebut masih menunggu kebijakan pemerintah untuk menyediakan wilayah penambangan rakyat (WPR) agar mereka tak lagi dikejar-kejar aparat.

“Kita berharap Pemkab Solok Selatan segera mencarikan jalan keluar. Kasihan masyarakat kita. Mereka butuh lahan agar dapat bekerja dengan tenang. Harus segera disediakan WPR,” kata anggota DPRD Solsel, Mursiwal beberapa waktu lalu.

Di Dharmasraya, razia tambang emas dinilai tebang pilih. Sejak dinyatakan seluruh aktivitas tambang emas rakyat dihentikan pada pertengahan 2011 lalu, hingga kini dompeng-dompeng penambang emas masih leluasa beroperasi di sepanjang aliran Batang Hari.

Dari pantauan Padang Ekspres, tambang emas liar itu masih tetap beroperasi di Siguntur, Sipangku dan Pulai. Hanya saja, para penambang itu terkesan tidak tersentuh razia aparat. Padahal, lokasi tambang emas itu berada tidak jauh dari kawasan permukiman.

“Kalau dilarang, ya harus dilarang semua. Jangan yang satu dikejar-kejar, yang lain dibiarkan. Begitu juga bupati dan DPRD, cuek-cuek saja. Katanya akan dibuat WPR, nyatanya belum dibahas,” jelas salah seorang penambang. (sih)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA