Date Kamis, 24 July 2014 | 22:20 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Nasional

Perubahan Kultur Masyarakat Mandailing di Nagari Cubadak, Pasaman (1)

Peran Mamak Menguat, Marga tak Lagi Penting

Sabtu, 23-06-2012 | 16:34 WIB | 1608 klik
Peran Mamak Menguat, Marga tak Lagi Penting

Raja Sontang X Jamaan 1908-1939 bersama keluarga.

Cubadak di Dua Koto

Tigo Baleh Jorongnyo

Yo Baragam di Nagariko

Minang jo Mandailing Dipakainyo

DEMIKIAN pesan yang terpampang di Kantor Wali Nagari Cubadak saat Padang Ekspres menyambangi kantor tersebut Kamis (14/6) lalu. Nagari Cubadak, Kecamatan Duokoto, Kabupaten Pasaman punya keunikan dalam hal adat dan budaya. Di sana bermukim orang Mandailing dari marga Lubis dan Nasution, tetapi dalam keseharian masyarakatnya memakai adat istiadat Minang.

Nagari Cubadak merupakan satu dari 32 nagari yang ada di Kabupaten Pasaman. Luasnya 199,55 km2, berbatasan dengan Nagari Simpangtonang sebelah utara, sebelah selatan dengan Kecamatan Talamau, Pasaman Barat, sebelah timur dengan Kecamatan Panti dan Lubuksikaping, sebelah barat dengan Kecamatan Gunungtuleh, Pasaman Barat.

Memasuki Nagari Cubadak, suasana asri, damai dan tentram sangat terasa. Maklum, secara topografi, nagari itu merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian 600 meter dari permukaan laut dengan suhu rata-rata 25 sampai 270C. Kiri kanan jalan dihiasi beragam pepohonan. Sebagian ditanami kebun karet dan coklat. Di nagari itu juga masih ada ratusan hektare tanah ulayat berupa hutan yang tidak boleh dikonversi menjadi kebun untuk menjaga keseimbangan alam.

Pagi sampai jelang sore, kampung tampak sepi. Semua orang sibuk bekerja di sawah dan di ladang. Maklum, dari 14.357 jiwa penduduk, terdiri dari 6.756 jiwa laki-laki, dan 7.601 jiwa perempuan dengan jumlah kepala keluarga 3.361 KK itu, bekerja sebagai petani sawah, ladang dan dagang.

Namun di beberapa tempat terdengar bunyi dentuman keras yang tak kunjung berhenti, memecah kesunyian. Dari kejauhan terlihat percikan api. Sebagian masyarakat juga ada yang bekerja sebagai pandai besi. Di sepanjang jalan, usaha itu bisa ditemui. Saban hari mereka mengolah besi menjadi berbagai jenis peralatan, terutama alat-alat pertanian seperti alat penyadap karat, pisau, golok dan pedang.

Untuk menjangkau Nagari Cubadak, kita bisa masuk dari Lubuksikaping melewati Kecamatan Panti, memutar ke sebelah kiri dan menembus rimbo panti. Jaraknya sekitar 50 km, dapat dilalui dengan kendaran roda empat dan roda dua. Dari daerah itu juga bisa tembus ke Pasaman Barat melewati Kecamatan Talamau.

Kesejukan udara di nagari ini seakan membuat masyarakatnya hidup tenang berkorong berkampung. Nagari ini terkenal dengan keramahtamahan penduduknya, suka bergotong royong dan kekerabatan antara satu dengan yang lain terjalin baik.

Adat istiadat yang diwariskan para pendahulu nagari ini masih terus terlestarikan. Sebut saja bahasa, tetap menggunakan bahasa Mandailing, tetapi adat istiadat yang dipakai masyarakat, adat Minang. Kesenian masyarakat di sana juga berubah. Tak ada lagi tor-tor dan gordang sembilan, onang-onang, andung dan lain sebagainya yang menjadi ciri khas masyarakat Mandailing.

Lahir seni tradisi baru, yakni ronggeng. Seni tradisi itu masih ditampilkan dan lestari hingga kini. Kesenian ronggeng selalu menghiasai acara-acara adat, termasuk turun mandi anak. Adat Mandailing hanya lestari di dua daerah, yakni Sinuangon dan Sigalobur.

Sistem Kekerabatan

Dengan mengadopsi sistem matrilineal, sistem kekerabatan orang Mandailing yang patrilineal otomatis hilang. Karena itu, marga yang biasanya diturunkan dari bapak menjadi tak penting lagi. Kalaupun dipakai di belakang nama, kesannya hanya sebagai “hiasan”, bukan identitas yang penting.

Kini, sistem kekerabatan mereka menurut garis keturunan ibu. Karena itu, struktur masyarakat juga berubah dengan meningkatnya peran mamak dan melemahnya peran bapak dalam struktur masyarakat. Struktur dan istilah yang digunakan untuk setiap tingkatan dalam struktur masyarakat juga berbeda di setiap kampung. Penyebutannya menggunakan campuran bahasa Mandailing dan Minang.

Di Kampung Kambiri, Nagari Cubadak misalnya, dikenal istilah mamak kepala waris dan mamak kaum. Mamak kaum ini terdiri dari empat orang yang disebut mamak na opat atau mamak yang empat karena di kampung tersebut asal usulnya berasal dari empat induk atau empat keluarga. Mamak na opat ini memilik nama yang berbeda. Ada Sutan Burain, Sutan Kebaikan, Janaga dan Jamangatak. Fungsinya mangurung dan mangandangan anak kamanakan.

Di atasnya ada paduko alom atau yang disebut natobang, bertugas menyampaikan hasil musyawarah terkait berbagai persoalan di kampung kepada pucuk bulek. Nah, pucuk bulek inilah nanti yang akan menggodok dan melakukan finalisasi, tetapi hasilnya akan tetap disampaikan ke forum musyawarah sebelum diputuskan melalui musyawarah mufakat.

Kemudian, ada yang disebut Datuk Kando Marajo yang berperan sebagai ujung lidah sambung kato atau juru bicara. Posisi ini diisi secara bergiliran oleh mamak na opat. Ada namanya Laut Api yang berperan sebagai tempat konsultasi. Posisi ini diisi secara turun temurun. Laut Api juga disebut Natoras Diuta (kampung, red) yang merupakan orang pertama manaruko kampung.

Ada lagi yang disebut Datuk Mudo. Ini merupakan kumpulan orangtua para natoras atau natobang. Mereka dikasih gelar oleh anaknya yang membuka kampung. Ada lagi pemangku ibadat atau yang disebut sibijo putih. Mereka terdiri dari kotik, imam, bilal dan tuo malin. Jadi secara keseluruhan di Kampung Kambiri saja ada 12 ninik mamak. Ninik mamak ini bisa bertambah banyak sesuai dengan perkembangan masyarakat.

Di Kampung Paroman, tetangga Kampung Kambiri yang masih dalam naungan Nagari Cubadak berbeda pula istilahnya. Mamak kepala waris tetap sama, tetapi di atasnya disebut mamak tuo na opat karena kampung itu awalnya dihuni empat induk atau kepala keluarga. Mamak tuo na opat ini terdiri dari mak tuo kewarisan raja ampung, mak tuo kewarisan natoras, mak tuo kewarisan jamanangi dan mak tuo kewarisan pangulu.

Di atasnya ada lagi natoras yang terdiri dari natoras paroman dan rajo kampung. Natoras paroman sifatnya turun temurun dan rajo kampung dipilih. Natoras paroman berperan sebagai dewan pertimbangan agung karena menjadi tempat konsultasi penyelesaian berbagai persoalan yang terjadi di kampung. Pucek bulek tetap ada dan perannya sebagai pai tampek batanyo, pulang tampek babarito.

Pucuk bulek membahas dan menyampaikan menggodok berbagai persoalan dan hasilnya disampaikan ke forum musyawarah adat sebelum diputuskan. Sebelum itu dia akan berkonsultasi dulu dengan natoras paroman. Ada lagi yang disebut dengan tuo sumando yang merupakan kumpulan dari indek apak natoras atau orangtua natoras. Sementara untuk pemangku ibadat tetap sama dengan kampung yang lain, ada imam, kotik, bilal dan tuo malin.

Mandailing tak mengenal kedatukan, tetapi mengenal kerajaan yang masyarakatnya dibentuk berdasarkan marga-marga. Dalam masyarakat Mandailing yang kekerabatannya patrilineal, hubungan kekerabatannya bisa ditinjau dari pertalian darah dan perkawinan yang terpola. Dalam hal ini, orang Mandailing mengelompokkan diri menjadi tiga kelompok kekerabatan yang menjadi tumpuan dasar bagi berbagai aktivitas sosial-budaya mereka.

Menurut adat-istiadat, ketiga kelompok kekerabatan tersebut masing-masing berkedudukan sebagai mora, yaitu pemberi anak gadis, anak boru, adalah penerima anak gadis, dan kahanggi adalah kelompok kerabat satu marga yang ketiganya terikat satu sama lain berdasarkan hubungan fungsional dalam satu sistem sosial yang dinamakan Dalian Na Tolu (tumpuan yang tiga).

Pada masyarakat Mandailing juga ditemukan stratifikasi (pelapisan) social. Yaitu, (1) na mora-mora, adalah golongan bangsawan; (2) alak na jaji atau si tuan na jaji, adalah orang kebanyakan atau rakyat biasa; dan (3) hatoban atau partangga bulu, adalah hamba sahaya.

Na mora-mora merupakan kelompok tersendiri dalam kelompok marganya, yang secara patrilineal berasal dari pendiri pertama kampung mereka. Ini menunjukkan bahwa pada mulanya status kebangsawanan dahulu tidaklah dibawa lahir, melainkan karena penghargaan yang tinggi dari anggota masyarakat terhadap pendiri pertama kampung mereka tersebut. Setelah itu, barulah takhta kerajaan diwariskan secara berantai kepada keturunannya.

Sepertinya sebagian wadah atau kelembagaan yang gunakan di Nagari Cubadak, Duo Koto masih khas Mandailing seperti adanya Natoras dan Natobang tetapi wadah itu diisi dengan prinsip-prinsip Minangkabau seperti adanya mamak kepala waris dan mamak na opat yang mewakili keluarga dalam struktur masyarakat berdasarkan garis keturunan ibu. Hal ini berdampak pada hilangnya sistem Dalihan Na Tolu yang menjadi ciri orang Mandailing.

Wali Nagari Cubadak M Dahril Lubis kepada Padang Ekspres mengatakan, penggunaan sistem matrilineal dalam masyarakat Cubadak bukan karena keterpaksaan, tetapi keinginan sendiri. Itu menunjukkan masyarakat Cubadak sangat memegang prinsip “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”.

Karena marga tak lagi turut membentuk struktur masyarakat, terkesan orang Cubadak menganggap marga sesuatu yang kurang penting. Mereka jarang menuliskan marga di ujung nama anaknya yang menjadi kebiasaan dan kebangggaan orang Mandailing. Marga yang mereka miliki juga sumbernya beragam. Ada yang mengambil dari jalur ibu, tetapi masih ada juga yang dari bapak. Ada juga yang bingung saat ditanya tentang marganya.

“Kalau kita, marga masih dari bapak,” ujar M Dahril Lubis. “Kalau saya dari ibu, tapi nama-nama di keluarga tidak ada yang di ujungnya memakai marga. Anak-anak saya juga begitu,” kata Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Nagari Cubadak Ahmad Azizan. “Saya malah bingung marga saya dari ibu apa dari bapak karena tak pernah dibahas di keluarga,” sambung Kepala Jorong Hulu Pasaman Edefri.

Sistem matrilineal yang diduga mulai diterapkan saat Raja Sontang III yang rajanya bernama Ninggil berkuasa periode 1681-1734 M, kini benar-benar melekat di tengah-tengah masyarakat. Mereka tak pernah lagi berpikir untuk kembali ke adat Mandailing. Orangtua yang akan menikahkan anaknya juga selalu memberi garisan harus sumando (suami tinggal di tempat istri), tidak boleh manjujur (istri tinggal di tempat suami) yang lazim digunakan dalam adat Mandailing. Mereka kini benar-benar menjadi “orang Minang”.

”Bagi kami sistem sumando lebih baik. Laki-laki dan perempuan sama-sama bekerja. Mohon maaf ya, dalam sistem manjujur, terkadang laki-laki jadi pemalas, justru perempuan yang bekerja. Padahal dalam adat Mandailing, tanggung jawab laki-laki sangat besar. Makanya di sini, tidak ada orangtua yang mau anak perempuannya kawin dengan sistem manjujur,” ujar Yunaidi yang juga Rajo Kampung di Kampung Paroman.

Sistem manjujur di Nagari Cubadak secara umum hanya berlaku bagi laki-laki yang menikah dengan orang luar dari nagari tersebut. Tapi aturan ini juga tidak berlaku mutlak. Yang ingin manjujur juga dibolehkan dan tetap bisa diadati. “Yang berlaku umum sistem sumando, tapi kalau manjujur juga boleh dan tetap bisa diadati tapi tidak banyak yang melakukannya,” ujarnya Yunaidi. “Tapi entah kenapa kami merasa lebih dekat dengan keluarga ibu,” sambung Azizan.

Beda dengan adat Mandailing dan Minang yang tidak bisa melakukan proses adat jika perkawinan dilakukan dengan orang di luar etnisnya. Proses adat baru bisa dilaksanakan jika orang non-Mandailing atau non-Minang itu melakukan integrasi melalui pemberian marga atau dalam istilah Minang disebut dengan malakok melalui pemberian suku. “Itulah uniknya di tempat kita, sangat fleksibel. Tergantung kita mau pakai yang mana?” sambung Ahmad Azizan. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA