Date Selasa, 29 July 2014 | 05:31 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

SDN 13 Batugadang Raih Adiwiyata Mandiri

Pendidikan Lingkungan Hidup Masuk Kurikulum

Sabtu, 09-06-2012 | 13:16 WIB | 863 klik
Pendidikan Lingkungan Hidup Masuk Kurikulum

Murid SDN 13 Batugadang, Lubukkilangan

Adiwiyata bukan sekadar penghargaan bagi sekolah yang memiliki lingkungan sekolah yang rindang, bersih, memiliki banyak taman, atau memiliki bank sampah. Di balik itu, manajemen sekolah untuk tertib administrasi juga menjadi penilaian. Itulah yang membuat SDN 13 Batugadang, Lubukkilangan meraih Adiwiyata Mandiri.

HAWA sejuk begitu terasa. Dari sekolah terlihat pemandangan gunung dan hutan yang masih rimbun. Dengan penataan tanaman yang lengkap membuat sekolah ini layak mendapatkan penghargaan itu.

Meski begitu, Adiwiyata bukan sekadar sekolah yang bersih dan suasana rindang saja. Mengelola sekolah melalui tertib administrasi juga menjadi poin penilaian. Di sinilah sekolah yang dipimpin Nazrita Nazar unggul dibanding sekolah lain.

Bagaimana tertib administrasi yang dimaksudkan? Ya, seluruh agenda lingkungan hidup dilengkapi dengan dokumen.

Mulai dari surat edaran, undangan, bahkan daftar hadir kegiatan juga dilampirkan. “Ini saya ketahui setelah memahami konsep Adiwiyata yang sebenarnya,” ujarnya saat ditemui Padang Ekspres, kemarin (8/6).

Wanita yang telah memimpin sekolah ini lima tahun lalu, mencontohkan ketika mengadakan sosialisasi Adiwiyata dan membudayakan gotong royong di sekolah. Surat edaran kepala sekolah harus disampaikan pada seluruh guru. Ketika kegiatan berlangsung, juga dilengkapi dengan foto kegiatan dan tanda hadir peserta.

Bahkan untuk goro, juga diperlukan surat edaran pada kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pendidikan, bahkan undangan bagi masyarakat sekitar.

“Dalam setahun, surat menyurat kegiatan Adiwiyata ini bisa mencapai puluhan. Jika dikumpulkan bisa setumpuk,” ujarnya sambil memperlihatkan dokumen Adiwiyata tahun-tahun sebelumnya pada Padang Ekspres.

Kunci lainnya, kata Nazrita Nazar, memahami konsep Adiwiyata ini secara baik. Caranya, perlu kebersamaan. Nazrita tidak segan untuk mengundang dan meminta pendapat guru. Bahkan, bertukar pikiran dengan dinas terkait seperti Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) dan Dinas Kesehatan melalui puskesmas.

“Konsep pemahaman Adiwiyata yang diterjemahkan sekolah ini, melestarikan lingkungan, mengurangi pencemaran, dan mencegah bencana alam akibat ulah manusia,” sebutnya.

Konsep ini diaplikasikan dengan memberikan pemahaman pada warga sekolah, terutama murid. Hasilnya, ada beberapa program peduli lingkungan terlaksana di sekolah ini. Seperti pengolahan sampah menjadi kompos, bank sampah, hutan sekolah, dan taman-taman yang ditanami berbagai macam tumbuhan termasuk tumbuhan obat-obtan.

“Secara bersama, warga sekolah membuat green house, kolam, bahkan taman. Pengelolaan diserahkan pada warga sekolah dengan menunjuk penanggung jawab, yakni guru,” ujar Nazrita.

Meski ada penanggung jawabnya, warga sekolah lain juga ikut menjaga kebersihan dan keindahan sekolah. Ketika ada sampah, warga sekolah akan segera memungutnya ke tong sampah. Ini dibuat menarik dengan membuat yel-yel “Lala”. Artinya, Lihat ambil, langsung angkat.

Jika guru menyebutkan Lala, murid bergegas memungut sampah. Itulah yang membuat murid dengan senang hati menjaga kebersihan sekolah. Bahkan untuk taman, juga dibuat kompetisi. Setiap semester, ada kelas yang mendapatkan reward karena berhasil merawat taman tetap indah.

Reward yang diberikan bukan berupa uang atau benda berharga. Cukup memberikan stiker jempol pada pintu masuk kelas, ini akan membuat kelas tersebut jadi bangga,” ujarnya.

Bentuk keseriusan sekolah ini memperoleh Adiwiyata Mandiri, Nazrita tidak pernah bosan belajar dari sekolah yang sebelumnya telah mendapatkan Adiwiyata. “Ke depan, saya dan para guru berencana belajar ke salah satu sekolah di Jawa Timur yang memang bagus pelaksanaannya,” katanya.

Dalam implementasinya, materi ini dimasukkan ke dalam kurikulum salah satu mata pelajaran, yakni pendidikan lingkungan hidup setiap semester.

“Pelajaran ini membahas tentang tanah, air, energi, dan lainnya sehingga murid lebih memahami apa sebenarnya peduli lingkungan,” ungkapnya.

Dengan begitu, katanya, karakter murid akan terbentuk. Ini terbukti di rumah pun para murid juga menerapkan ilmu lingkungan hidup yang didapatkan.

Di rumah, peserta didik menerapkannya dalam keluarga seperti membuat pupuk kompos. Hal ini didukung sekolah dengan mengundang wali murid dan warga sekitar untuk memahami menjaga lingkungan hidup.

Sebagai peraih Adiwiyata Mandiri, sekolah ini melakukan pembinaan pada sejumlah sekolah. Dua di antaranya meraih sekolah Adiwiyata Nasional, SDN 20 Indarung dan SMP Semen Padang. Binaan ini, memberikan pemahaman tentang Adiwiyata dengan cara berdiskusi dan mengunjungi sekolah tersebut untuk melihat perkembangannya. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA