Date Jumat, 1 August 2014 | 02:36 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Internasional

Tentara dan Pro-Assad Serang Desa di Hama

Pembantaian Baru di Syria, 86 Tewas

Jumat, 08-06-2012 | 11:07 WIB | 507 klik
Pembantaian Baru di Syria, 86 Tewas

FOTO : AFP

Damaskus, Padek– Pembantaian yang merenggut nyawa warga sipil kembali terjadi di Syria. Darah pun kembali tumpah setelah tentara pemerintah dan loyalis Presiden Bashar al-Assad menggempur Desa Al-Kubeir (Al-Qubeir) di Provinsi Hama, tengah Syria, Rabu malam lalu (6/6).

Milisi bersenjata Shabiha yang pro-Assad juga terlibat dalam serangan dengan target warga sipil itu. Kelompok oposisi Syria menyatakan bahwa sedikitnya 86 orang tewas dalam serangan tersebut.

Rami Abdul-Rahman, pimpinan Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), menyatakan kemarin (7/6) bahwa pembantaian itu menewaskan sedikitnya 55 warga sipil. Bahkan, SOHR semula melaporkan bahwa korban tewas mencapai 100 orang. Tapi, mereka kemudian merevisinya. Kelompok aktivis oposisi yang lain, Local Coordination Committees (LCC), menyebut korban tewas berjumlah 86 orang. Tidak ada pihak independen yang bisa memastikan kebenaran laporan tersebut.

Itu kali kedua tentara dan milisi pro-Assad melancarkan serangan serta membantai warga sipil dalam sebulan ini. Pada 25-26 Mei lalu, para loyalis Assad menyerang dan menembaki rumah warga di Kota Houla. Dalam insiden itu, 108 warga sipil tewas. Termasuk, perempuan dan anak-anak.

Pembantaian saat itu mendapat reaksi dari masyarakat internasional. Pasalnya, pemantau PBB membenarkan soal pembantaian warga sipil tersebut. DK PBB mengutuk dan 14 negara Barat serta Jepang mengusir diplomat Syria yang bertugas di wilayah mereka. Bukannya keder, rezim Assad justru balas mengusir para diplomat Barat di Damaskus.

Menyusul pembantaian itu, SOHR mendesak agar PBB memerintahkan tim pemantaunya di Syria untuk mengecek kabar soal pembantaian di Al-Kubeir. ”Jangan menunggu sampai besok (hari ini) untuk menginvestigasi kekejian yang baru saja terjadi ini,” papar Abdul-Rahman kemarin.

Dengan demikian, tim pemantau dari gabungan berbagai negara itu bisa menyaksikan sendiri pembantaian tersebut. Namun, laporan terbaru justru menyebutkan bahwa tentara Syria menutup lokasi pembantaian itu dan melarang tim pemantau PBB berkunjung ke sana.

”Sebanyak 49 mayat telah diidentifikasi. Sebagian besar korban tewas berasal dari keluarga Al-Yateem,” lanjut pimpinan regional SOHR tersebut. Di antara korban yang sudah dikenali itu, 18 di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Sejumlah saksi mata melaporkan bahwa warga Al-Kubeir itu dihabisi milisi shabiha yang dikenal kejam.

Milisi bersenjata yang loyal kepada Assad itu memasuki rumah warga desa secara acak. Dengan senjata di tangan, mereka mengobrak-abrik rumah penduduk dan membunuh siapa saja yang ada di dalamnya. ”Mereka membantai tanpa ampun,” beber seorang saksi mata. Pembantaian yang dibarengi suara tembakan dan dentuman meriam itu memicu perlawanan dari oposisi.

Kemarin video amatir yang diunggah melalui YouTube menunjukkan situasi Al-Kubeir pasca-pembantaian itu. Puluhan mayat dengan label nama terlihat berjajar dalam sebuah ruangan. Selanjutnya, terlihat wajah beberapa anak dan bayi yang menjadi korban dalam serangan tersebut. SOHR dan koalisi oposisi Dewan Nasional Syria (SNC) mengutuk keras pembantaian tersebut.

Oposisi mengimbau dunia internasional meningkatkan tekanannya pada rezim Assad. SNC pun mengimbau Free Syrian Army (FSA) yang beranggotakan tentara pembelot untuk melipatgandakan serangan atas pasukan pemerintah. ”SNC meminta Free Syrian Army bertindak lebih agresif demi melindungi warga sipil dari serangan militer (pro-Assad),” tutur Mohammed Sermini, jubir SNC.

Sementara itu, pemerintahan Assad membantah keras tudingan keterlibatan pasukannya dalam pembantaian di Al-Kubeir tersebut. ”Apa yang diberitakan media tentang peristiwa di Al-Kubeir, Provinsi Hama, sama sekali tidak benar,” terang jubir pemerintah dalam pernyataan yang disiarkan televisi nasional kemarin. Rezim Assad lagi-lagi menyalahkan kelompok teroris atas kejadian tersebut.

Dalam keterangan itu, jubir pemerintah menyebutkan bahwa korban jiwa dalam insiden di dekat Hama itu hanya sembilan orang. (AP/AFP/RTR/BBC/hep/dwi)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA