Date Kamis, 31 July 2014 | 14:24 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Tingkatkan Konsumsi Sayur melalui Vertikultur

Jumat, 08-06-2012 | 10:09 WIB | 438 klik

Padang, Padek—Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Sumatera Barat, Rabu lalu (6/6), menyerahkan 160 paket vertikultur kepada sejumlah warga di Lubuk Minturun, Kota Padang. Program ini bertujuan untuk mendorong masyarakat di perkotaan bertanam sayur di lahan terbatas.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Sumbar, Yustiadi mengatakan, program vertikultur sudah dilaksanakan sejak tahun 2011 lalu. Masyarakat yang mendapat program tersebut diharapkan dapat merawat tanamannya dengan baik, sehingga produksinya optimal.

“Melalui program ini diharapkan konsumsi sayur masyarakat bisa meningkat. Sisanya bisa dijual sebagai salah satu sumber pendapatan. Ini juga salah satu upaya menekan konsumsi beras. Jadi ke depan masyarakat diharapkan bisa lebih sehat dan sejahtera,” ujarnya.

Saat ini, konsumsi beras Sumbar masih tergolong tinggi mencapai 123 kilogram per kapita per tahun. Lebih tinggi dibanding dengan Negara Thailand dan Jepang yang hanya 75 kilogram per kapita per tahun. Sumbar bertekad menurunkan konsumsi beras sebesar 2,5 persen per kapita per tahun. Hal ini bisa dilakukan dengan cara meningkatkan konsumsi buah dan sayur. “Program vertikultur ini merupakan salah satu upaya kita mendorong peningkatan konsumsi sayur di perkotaan,” ujar Yustiadi.

Vertikultur merupakan media tanam sejenis rak yang disusun vertikal dari bawah ke atas sebanyak 4 tingkatan atau disesuaikan dengan kebutuhan.

Vertikultur sangat cocok digunakan untuk optimalisasi pekarangan rumah.Kotak media tanamnya terbuat dari potongan talang PVC atau bisa juga dari bambu besar.Penyangganya bisa terbuat dari bambu atau kayu.

Media tanam berupa campuran tanah dan pupuk organik dengan perbandingan 2:1. Tanaman yang ditanam pada vertikultur berupa tanaman sayuran sejenis bayam, sawi, kangkung, bayam, bawang merah, bawang putih, vetsay, cabe atau tanaman obat.

Perawatan yang paling penting adalah penyiraman air yang dilakukan setiap pagi dan sore.Volume kotor setiap vertikultur adalah panjang di bagian depan 100 cm, lebar ke belakang 80 cm, dan tinggi 100 cm.

Pengembangan vertikultur ini juga merupakan bagian dari gerakan pensejahteraan petani (GPP). Mereka yang menerima program berada dalam satu lokasi sehingga mudah dalam memasarkan hasilnya. “Jika dalam satu bulan, produksinya lima ikat, dua ikat dikonsumsi dan tiga ikat dijual. Berarti, sudah ada 480 ikat sayur yang bisa dibawa ke pasar,” ujarnya.

Pemasaran hasil vertikultur ini tidak hanya pasar-pasar tradisional, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi souvenir pada berbagai kegiatan yang bertemakan pertanian. “Jadi semua pihak kita dorong untuk turut mendukung program ini. Salah satunya dengan memperbanyak peluang pasarnya,” ujar Yustiadi. (geb)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA