Date Kamis, 24 July 2014 | 15:24 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Nasional

ICW Ancam Praperadilan Kejagung

Sabtu, 02-06-2012 | 14:46 WIB | 270 klik

Jakarta, Padek—Keputusan Kejaksaan Agung (Kejagung) menghentikan perkara korupsi biaya akses sistem administrasi badan hukum (Sisminbakum) pada Kamis lalu (31/5) menuai protes. Indonesia Corruption Watch (ICW) pun bakal menggugat praperadilan keputusan tersebut. Mereka menduga kasus itu dihentikan karena tekanan dan intervensi.

”Ketika kasus ditingkatkan ke level penyidikan, pasti sudah ada bukti awal yang cukup. Kalau sekarang tiba-tiba Kejagung menghentikan karena tidak ada bukti, ada apa?” kata anggota badan pekerja ICW, Emerson Yunto kemarin (1/6). Emerson mengatakan, pihaknya sedang bersiap mengajukan gugatan praperadilan terhadap keputusan tersebut.

Kejagung menghentikan perkara yang disidik sejak 2010 silam itu dengan alasan karena tidak cukupnya alat bukti. Dengan demikian, status tiga tersangka pun otomatis batal. Yakni, mantan Menteri Hukum dan HAM Yusril Ihza Mahendra, pengusaha Hartono Tanoesoedibjo, dan mantan ketua Koperasi Pengayoman Pegawai Kemenkum HAM Ali Amran Janah.

Kejagung beralasan tidak punya alat bukti cukup untuk memperkarakan mereka. Selain itu, tiga dari empat terdakwa Sisminbakum tersebut dibebaskan oleh Mahkamah Agung (MA) karena program itu merupakan kebijakan negara yang tidak bisa dipidana. Biaya pembuatan Sisminbakum juga tidak menggunakan uang negara.

Namun, proses keluarnya SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan) juga menimbulkan pertanyaan. Sebelum dihentikan, Yusril Ihza Mahendra yang masih berstatus tersangka bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di kediamannya. Jaksa Agung Basrief Arief juga pernah bertemu Yusril dan Hartono Tanoesoedibjo. Padahal, status Yusril dan Hartono saat itu masih tersangka.

Basrief yang dikonfirmasi kemarin (1/6) mengakui adanya pertemuan tersebut. Tapi, dia bersikukuh bahwa pertemuan itu tidak membahas perkara. Dia juga menegaskan bahwa pertemua tersebut tidak mempengaruhi keputusan Kejagung menghentikan Sisminbakum. ”Memang kalau saya ada apa rupanya? Saya kan tidak berstatus sebagai apapun di sana,” katanya dengan nada tinggi. (aga/jpnn)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA