Date Selasa, 29 July 2014 | 11:37 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Moratorium Pendidikan Kesehatan Dievaluasi

Senin, 28-05-2012 | 15:16 WIB | 636 klik
Moratorium Pendidikan Kesehatan Dievaluasi

Wamendikbud Musliar Kasim menandatangani prasasti pertanda diresmikannya kampus

Khatib Sulaiman, Padek—Perguruan tinggi yang berniat membuka program studi kesehatan harus bersabar. Sebab, moratorium (penghentian sementara) pendirian program studi kesehatan belum akan dicabut karena masih dalam proses evaluasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Penerapan moratorium itu karena kualitas program studi kesehatan di seluruh Indonesia belum merata. Jadi, evaluasi terhadap keberadaan program studi kesehatan ini terus dikebut,” kata Wakil Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Musliar Kasim, saat peresmian gedung kampus Akademi Kebidanan dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Alifah Padang, kemarin.

Evaluasi itu meliputi jumlah kebutuhan tenaga kesehatan dan berapa kemampuan perguruan tinggi yang ada sekarang. “Hasil evaluasi diperkirakan dapat diketahui tahun depan,” kata Musliar Kasim.

Musliar mengatakan, moratorium berawal dari laporan asosiasi ilmu kesehatan ketika melihat kualitas perguruan tinggi kesehatan menurun. Karena itu, selama masa moratorium, dilakukan pembenahan kualitas.

“Tentu kami melihat dulu apakah gedung sudah mandiri, ketersediaan dana, sarana-prasarana dan tenaga dosennya harus sudah memenuhi kualifikasi. Sebab, tugas yang dihadapinya berurusan dengan nyawa orang lain,” kata mantan Rektor Unand ini.

Wamendikbud memberi apresiasi kepada lulusan Akbid dan Stikes Alifah Padang, karena tak ada lulusannya yang menganggur. Ke depan, akan diberikan dan dibekali mahasiswa kompetensi. “Saat tamat, mereka lebih percaya diri dan berani menghadapi dunia kerja,” ujarnya.

“Kita jangan hanya bangga dengan sarana-prasarana yang dimiliki, tapi harus pula bangga apabila lulusan punya kompetensi,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengingatkan Akbid dan Stikes Alifah Padang untuk melakukan peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang kebidanan dan keperawatan. “Salah satunya peningkatan soft skill mahasiswa dalam bahasa, terutama Bahasa Inggris,” kata Irwan.

Saat ini, jelas Irwan, Timur Tengah membutuhkan tenaga perawat dari negara-negara Asia. “Kini tenaga perawat Filipina mendominasi. Seharusnya kan perawat Indonesia. Tapi karena keterbatasan bahasa, perawat kita kalah bersaing. Untuk itu, kami mengharapkan Alifah Padang mencetus melahirkan perawat memiliki kompetensi,” harapnya.

Ketua Yayasan Alifah Nur Ikhlas Padang, Fatmi Arma mengatakan, kehadiran gedung ini makin memantapkan Alifah Padang dalam peningkatan tenaga kesehatan.

“Tak hanya gedung yang megah, kami terus meningkatkan kualitas dosen. Ditargetkan 2014, dosen Alifah Padang sudah bergelar S-2 sesuai amanat UU Guru dan Dosen,” tukasnya. (ril)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA