Date Senin, 28 July 2014 | 23:25 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Nasional

Dewi Mahyuni, Pejuang Kaum Jompo di Sumbar

Urus Puluhan Lansia tanpa Harapkan Upah

Jumat, 25-05-2012 | 14:04 WIB | 1076 klik
Urus Puluhan Lansia tanpa Harapkan Upah

Penghuni Panti Sasana Tresna Werda Jasa Ibu, Jorong Lakuang, Nagari Situjuahbatu

Seorang ibu rumah tangga di Sumatera Barat, bertahun-tahun mengurus puluhan lelaki dan wanita lanjut usia, dalam sebuah panti jompo yang sudah lapuk dimakan waktu. Bagaimana ibu rumah tangga tamatan SMA itu bisa bertahan, sementara suaminya cuma pedagang kecil dan bantuan pemerintah seadanya?

DUA wanita dan seorang lelaki lanjut usia, bercengkerama di samping Masjid Muttaqien, Jorong Lakuang, Nagari Situjuahbatua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumbar yang berada sekitar 135 km dari Padang, Kamis (24/5) siang.

Saat didekati Padang Ekspres, seorang di antara mereka, berkelamin wanita, menyapa dengan ramahnya. “Mancaghi sia nak? Kalau Dewi, lai ado di dalam panti. Coliaklah ka kiun (Mencari siapa Nak? Kalau Dewi, di dalam panti. Lihatlah ke sana),” ujar wanita yang diketahui bernama Zainab, 85, asal Situjuah tersebut.

Dewi yang dimaksud Zainab adalah Dewi Mahyuni, 39, pengelola Panti Sasana Tresna Werda Jasa Ibu. Panti itu berada di samping Masjid Muttaqien Jorong Lakuang. Dulu, Jorong Lakuang bernama Dusun Lakung dan menjadi bagian dari Desa Serumpun. Tetapi, sejak Pemkab Limapuluh Kota, mengembalikan sistem pemerintahan dari desa ke nagari awal tahun 2000, Desa Serumpun hilang ditelan bumi.

Dua dusun yang ada di dalam Desa Serumpun, yakni Lakung dan Bumbung, berganti nama menjadi Jorong Lakuang dan Jorong Bambuang. Selanjutnya, pemerintahan di Jorong Lakuang dan Jorong Bumbuang, digabung menjadi Pemerintah Nagari Situjuahbatua. Selain Bumbuang dan Lakuang, di Nagari Situjuahbatua terdapat pula Jorong Tangah, Jorong Tapi, Koto dan Jorong Kubangbungkuak.

Kendati nama Dusun Lakuang, Desa Serumpun sudah lenyap, namun Panti Sasana Tresna Werda Jasa Ibu yang berdiri sejak tahun 1978, tetap ditulis beralamat di Dusun Lakung, Desa Serumpun. Penulisan ini tentu semata-mata dilakukan pengelola panti, agar pihak-pihak yang selama ini memberi bantuan, tidak menganggap Panti Sasana Tresna Werda Jasa Ibu sudah mati atau pindah alamat.

Panti Sasana Tresna Werda Jasa Ibu sendiri, bernaung di bawah Yayasan Jasa Ibu. Yayasan ini didirikan oleh pasangan suami-istri almarhum Mahyuni Dt Marajo Nan Gamuak dan Khuzaimah. Semasa hidupnya, Mahyuni dikenal sebagai tokoh sentral di Kecamatan Situjuah Limo Nagari, terutama di Nagari Situjuahbatua.

Selain pernah menjabat sebagai anggota DPRD Limapuluh Kota, Mahyuni merupakan penulis sejarah peristiwa Situjuah 15 Januari 1949, sebuah peristiwa heroik semasa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia 1948-1949 di Sumatera. Adapun Khuzaimah, merupakan pekerja sosial masyarakat teladan yang pada tahun 1987 meraih penghargaan dari Presiden Soeharto.

Sehingga tidak heran, bila di tangan Mahyuni dan Khuzaimah, Yayasan Jasa Ibu bergerak sangat dinamis. Yayasan yang didirikan berdasarkan Akta Notaris No 10 Tahun 1991 ini, juga mampu mempertahankan kesinambunganPanti Sasana Tresna Werda Jasa Ibu yang merupakan satu dari dua panti jompo di Provinsi Sumatera Barat.

Hanya saja, perjuangan Mahyuni dan Khuzaimah, membesarkan Yayasan Jasa Ibu dan Panti Sasana Tresna Werda Jasa Ibu, tidak bisa bertahan lama. Terhitung sejak tahun 2007 lalu, Mahyuni karena faktor usia mulai sakit-sakitan, hingga akhirnya meninggal dunia sekitar dua tahun silam. Sedangkan Khuzaimah karena faktor kesehatan, tidak bisa total lagi mengurus yayasan maupun panti.

Kondisi ini, tentu sangat dilematis, mengingat puluhan wanita dan lelaki lanjut usia dari berbagai daerah di Sumbar, masih menjadi penghuni panti. Begitu pula masyarakat dari berbagai kabupaten/kota, masih suka mengantar orang-orang tua telantar ke Panti Sasana Tresna Werda Jasa Ibu di Jorong Lakuang, Nagari Situjuahbatua.

Dalam kondisi dilematis itu, muncul nama Dewi Mahyuni. Wanita kelahiran 13 Juni 1973 ini, mengambil alih peran Mahyuni dan Khuzaimah mengelola Yayasan Jasa Ibu, sekaligus mengurus Panti Sasana Tresna Werda Jasa Ibu. “Saya mulai mengelola panti jompo ini sejak tahun 2007,” ucap Dewi saat bertemu Padang Ekspres.

Bermula dari Keprihatinan

Dewi Mahyuni merupakan bungsu dari enam bersaudara, hasil pernikahan mendiang Mahyuni Dt Marajo Nan Gamuak dengan Khuzaimah. Kakak pertama Dewi, Sisderfi Dt Singo, 50, merupakan seorang penyuluh pertanian di Kota Payakumbuh. Sedangkan kakak keduanya, Melfi Mahyuni, 48, berdomisili di Duri, Provinsi Riau.

Kakak ketiga Dewi, Linda Mahyuni, 46, pegawai Dinas Kesehatan Limapuluh Kota. Kakak keempatnya, Hendra Mahyuni, 44, mantan kapten kesebelasan Semen Padang. Hendra atau Mamak seangkatan dengan pelatih tim nasional Nilmaizar dan asisten pelatih Semen Padang Delvi Adri. “Sedang kakak kelima saya, Yos Hendri Mahyuni, merantau ke Bangka,” kata Dewi.

Sebelum mengelola Panti Sasana Tresna Werda Jasa Ibu, Dewi dan suaminya Zisferdi, 37, menetap di Duri, Provinsi Riau. “Tapi sejak kondisi papa mulai sakit-sakitan, kami pulang kampung. Setiba di kampung, kami lihat papa dan mama tidak mampu lagi mengelola panti. Daripada penghuninya telantar, kami putuskan untuk ikut membantu mengelola, sekalian belajar menjadi orang lanjut usia,” ucap Dewi.

Awal mula mengelola panti, Dewi berhadapan dengan kondisi lumayan memiriskan. Alumni

SDN 02 Situjuahbatua, SMPN 1 Situjuah dan SMAN 2 Payakumbuh itu melihat, asrama panti seperti kurang terawat. Makan para penghuni panti yang berjumlah sekitar 25 orang juga mulai tidak teratur.

“Dalam kondisi serba dadakan, saya mulai merapikan asrama panti dan mengatur makan para penghuninya. Waktu itu, tidak ada motivasi lain kecuali panggilan kemanusiaan. Hati kecil saya, merasa kasihan saja melihat para lanjut usia hidup di panti jompo. Saya berniat, membantu semampu saya,” ucap Dewi.

Setelah beberapa bulan mengurus Panti Sasana Tresna Werda Jasa Ibu, Dewi menemukan berbagai kurenah lelaki dan wanita lanjut usia. Terkadang, Dewi sering dibuat tersenyum dan menangis sendiri, dengan kurenah yang ada. “Siklus hidup manusia itu memang benar. Kita berawal dari bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, tua dan kembali menjadi kanak-kanak,” ucapnya.

Semua kurenah penghuni Panti Tresna Werda Jasa Ibu, dinikmati Dewi layaknya menikmati hidup. Wanita yang hobi membaca puisi dan menari ini, sama-sekali tidak merasa terbebani. Hanya saja, saat melihat anggaran pengelolaan panti yang terbatas, Dewi mula berpikir keras. “Ternyata, mengelola sebuah panti jompo itu tidak gampang,” ucapnya.

Di Panti Tresna Werda Jasa Ibu, terdapat 25 lelaki dan wanita lanjut usia. Mereka tidak hanya datang dari kampung-kampung di Kecamatan Situjuah, tetapi juga dari Padang, Batusangkar, Bukittinggi, Agam.

Untuk seorang lanjut usia, pengelola panti membutuhkan banyak biaya. Sementara, subsidi yang diberikan pemerintah atau Kementerian Sosial Republik Indonesia, hanya Rp 3.000 per hari. Sedangkan, Pemerintah Provinsi Sumbar, baru mampumembantu beras 4 ons per hari.

“Sedangkan dari pemerintah kabupaten, sejak beberapa tahun terakhir, sudah tidak ada lagi bantuan. Beruntung kita masih punya kerja sama dengan Yayasan Dharma Bhakti Sosial atau Yayasan Dharmais di Jakarta,” ujar Dewi.

Dari Yayasan Dharmais, para penghuni panti mendapat subsidi Rp 1 juta per bulan. “Penghuni panti makan tiga kali sehari. Untuk kebutuhan sarapan pagi, setiap penghuni panti mendapat gula seperempat kg per minggu,” tutur Dewi.

Untuk menjaga kesehatan para penghuni panti, Dewi baru bisa menghadirkan tenaga medis dari Puskesmas Situjuah dua kali sebulan. “Untuk sekali pemeriksaan kesehatan, setiap lansia membutuhkan biaya karcis puskesmas Rp 4 ribu. Kalau obat, kita hanya memberikan buat yang benar-benar sakit. Sebab kalau semuanya diobati, anggaran tidak ada,” ujar Dewi.

Lantas, bagaimana kalau para lansia menginginkan roti atau cemilan? Di sinilah, Dewi terkadang kesulitan. “Anggaran untuk itu, tidak ada. Kita hanya berharap bantuan dari donatur. Seperti dari Isbanda (istri pegawai Bank Nagari), Bhayangkari (istri polisi), Persit Kartika Chandra Kirana (istri TNI), atau Yayasan Bundo Jakarta,” kata Dewi.

Sementara, anggaran untuk Dewi sendiri, sebagai pengola panti jompo ternyata tidak ada. “Kalau anggaran langsung tidak ada. Paling kalau ada yang termakan oleh saya dari panti ini, seperti makanan yang dibawa oleh para donatur. Itu pun sebelum donatur pergi, saya sering sampaikan, kalau ada yang termakan oleh kami pengelola, mohon direlakan,” ucap Dewi.

Urus 25 Anak Asuh

Selain mengurus 25 lanjut usia, Dewi diam-diam juga membantu sekitar 25 anak yatim, piatu dan anak-anak dari keluarga miskin. “Semua anak-anak itu dari Jorong Lakuang. Sebab, baru itu yang bisa saya bantu dan saya asuh,” kata Dewi.

Bantuan yang diberikan Dewi, tidak langsung berupa uang ataupun benda, tetapi melalui keterampilan anak-anak menari dan membaca puisi.

“Setelah melihat penampilan anak-anak itu, biasanya anggota rombongan terketuk hatinya memberi bantuan. Bahkan ada yang bersedia membiayai kuliah. Sekarang, dari 25 anak asuh saya, sudah 2 yang kuliah di IAIN dan UNP,” ujar Dewi bangga.

Kendati merasa bangga bisa membantu kaum lanjut usia dan bocah yatim-piatu, Dewi tetap memendam harapan. “Saya berharap, ada usaha ekonomi produktif yang bisa diberikan pemerintah ataupun swasta, untuk menghidupi panti ini. Selama ini, memang sudah ada bantuan sapi, tapi itu untuk jangka panjang. Untuk jangka pendek, kalau bisa juga ada usaha,” kata Dewi.

Ibu dari Rezifah Putri Widia, 13, dan M Bima Rizky Mahesan ini, membayangkan panti jompo yang dikelolanya memiliki mobil pengangkut barang. “Suami saya pedagang kecil. Ia menjual beras dan berbagai kebutuhan pokok ke Riau. Setiap bulan, ia merental mobil L-300. Kalau panti punya mobil, tentu suami saya bisa merental ke panti. Sehingga, pendapatan panti bertambah dan anggaran panti yang kurang terpenuh,” kata Dewi.

Selain bisa menambah pendapatan, sebut Dewi, mobil itu diperlukan jika ada penghuni panti yang sakit. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA