Date Sabtu, 2 August 2014 | 07:22 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Uji Sampling Bapedalda di Atas Baku Mutu

3 Perusahaan Cemarkan Batang Anai

Rabu, 25-04-2012 | 08:15 WIB | 845 klik
3 Perusahaan Cemarkan Batang Anai

(*)

Padang, Padek—Badan Pengendali Dampak Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda) Sumbar mengumumkan tiga perusahaan yang menjadi sumber pencemaran utama di Batang Anai.

Dari 11 perusahaan yang diduga melakukan pencemaran, hanya tiga perusahaan yang menjadi sumber pencemaran Batang Anai. Ketiganya; PT Bumi Sarimas Indonesia (BSI), PT Kaling Lestari dan PT Nusatama Beta Farma.


Terungkapnya tiga perusahaan pencemar sungai tersebut, setelah tim Bapedalda Sumbar melakukan uji sampling di laboratorium. Hasilnya, menunjukkan pengelolaan lingkungan yang dilakukan tiga perusahaan tersebut, di atas baku mutu.


”Batang Anai diduga sudah tercemar. Tapi tercemarnya bukan di lokasi yang dikeluhkan warga yang mengalami gatal-gatal. Kami sudah meneliti aliran airnya,” ujar Kepala Bapedalda Sumbar, Asrizal Asnan, kemarin (24/4).
Ada 11 perusahaan yang diduga mengalirkan limbah ke Batang Anai (lihat grafis).


11 perusahaan tersebut telah mengantongi dokumen kelayakan lingkungan. Bapedalda sudah melakukan tiga uji sampel pada PT BSI. Sampel 1, Biochemical Oxgen Demand (BOD) 519mg/L, Chemical Oxygen Demand (COD) mg/L, pH4, 6.


Sampel kedua, BOD 690 mg/L, COD 2.761 mg/ L, pH 4,5 dan total suspended solids (TSS) 150 mg/L . Sampel ketiga, BOD 3.610 mg/L, COD 14. 410mg/L , pH 4,5 , TSS 2.180 mg/l. Sementara standar baku mutu untuk BOD adalah 75 mg/L, COD mg/ L, pH 6,9, TSS 100 mg/L .


Hasilnya, tingkat pencemaran lingkungan PT BSI sangat tinggi. Sebelumnya, Bapedalda Sumbar juga telah memberikan teguran terhadap PT BSI karena telah melakukan pelanggaran. ”PT BSI telah berjanji memperbaiki kualitas pengelolaan lingkungannya, sehingga Februari lalu, sanksi administrasinya kami cabut. Namun ternyata setelah sanksi administrasi dicabut, PT BSI kembali berulah. Bahkan dari temuan tim, ada indikasi PT BSI mem-bypass saluran pembuangan limbah,” ungkapnya.


Pertama, PT BSI mengakali dengan menutupnya dengan seng. Begitu seng dibuka, terlihat saluran disumbat dengan plastik. Tujuannya, agar limbah dapat dibuat secara langsung tanpa dilakukan pengelolaan terlebih dahulu.


Karena kesalahan PT BSI telah berulang kali, Asrizal berjanji memberikan sanksi terhadap perusahaan tersebut. Pemkab Padangpariaman diminta bersikap tegas terhadap perusahaan yang telah melakukan pelanggaran terhadap pencemaran lingkungan.


”Beberapa hal yang menyebabkan tingginya kadar pencemaran lingkungan adalah instalasi pengolahan air limbah (IPAL)-nya kurang berfungsi dengan baik serta kapasitas IPAL-nya tidak lagi memadai,” ujarnya.


Untuk memastikan dugaan pencemaran limbah, Bapedalda memulai penelusuran dari Muara Batang Anai (bagian hilir) sampai bagian rentang Batang Anai, dekat PT BSI. Hasilnya, terlihat buih putih di bawah jembatan menuju BIM. Keterangan masyarakat yang terkena dampak, diketahui bahwa penduduk di RT 01 RW 03 berada di sempadan sungai. Sementara warga RT 01 RW 04 berada jauh dari Batang Anai.


Saat penelusuran sungai tidak ditemukan adanya ikan dan udang yang mati, penduduk tidak melakukan MCK di Batang Anai karena mereka sudah punya kamar mandi sendiri. Penduduk yang terkena gatal-gatal hanya dialami beberapa orang penambang pasir, khususnya di Batang Gosong.


”Penambang pasir yang terkena gatal-gatal tersebut, dialami ketika mereka melakukan penambangan pasir di Batang Gosong dekat rawa yang banyak ditumbuhi tumbuhan nipah, rerumputan dan tumbuhan semak lainnya,” tuturnya.


Kepala Kantor Lingkungan Hidup Padangpariaman, Abdul Khaidir Jailani mengatakan, temuannya berbeda dengan Bapedalda Sumbar dan Bapedalda Padang karena lokasi pengambilan sampel berbeda. ”Perbedaan hasil ini bukan karena kami ingin menutup-nutupinya.

Tapi mungkin saja karena lokasi pengambilan sampelnya berbeda. Tentunya kami tidak akan menolerir tindakan yang dilakukan perusahaan yang melakukan pencemaran lingkungan,” pungkasnya.


Jailani mengatakan, tiga perusahaan yang diduga menjadi sumber utama pencemaran Batang Anai akan dibina terlebih dahulu. Namun jika tak bisa dilakukan pembinaan, maka pemkab akan menyegel perusahaan tersebut,” tuturnya. (*)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA