Date Jumat, 1 August 2014 | 20:51 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Rekayasa Pembakaran Toko

Ketua Hanura Solok Ditahan

Sabtu, 14-04-2012 | 09:34 WIB | 630 klik
Ketua Hanura Solok Ditahan

(*)

Solok, Padek—Ketua Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Kota Solok, Ardianto ditahan aparat Kejaksaan Negeri (Kejari) Solok, kemarin. Dia ditahan atas kasus dugaan rekayasa pembakaran toko P&D miliknya sendiri Toko Kurnia Maju tahun 2006 lalu.

Ardianto diduga sengaja membakar tokonya sendiri dengan dalih mendapatkan uang asuransi kebakaran. Kemarin, politisi Solok ini resmi menjadi salah seorang penghuni Lembaga Pemasyarakatan kelas IIB Laing Kota Solok sebagai tahanan titipan Kejari Solok.


Ardianto ditahan Satreskrim Polresta Solok setelah ditetapkan sebagai tersangka, Rabu (11/4). Setelah berkasnya lengkap (P-21), ia resmi menjadi tahanan Kejari Solok. Kasi Pidana Umum (Pidum) Kejari Solok, Syahrial ketika dikonfirmasi, tidak bersedia berkomentar banyak. Ia hanya membenarkan bahwa pihaknya telah menahan Ardianto.


Kasus Haji Anto—demikian panggilan akrabnya—telah lama menjadi cerita miring di masyarakat Kota Solok. Aparat baru bisa menangkapnya enam tahun kemudian. Sementara, dua pelaku pembakaran yang mengaku disuruh Ardianto langsung ditahan, tidak lama setelah kejadian.


Kapolresta Solok, AKBP Lutfi Martadian mengatakan, keterlambatan kasus tersebut bukan disebabkan kelalaian pihaknya. Lamanya penanganan kasus, kata Lutfi, disebabkan berkas sering bolak-balik antara kejaksaan dan kepolisian.


”Meski sebenarnya kalau sebuah berkas telah diteliti kejaksaan dalam 14 hari, sudah otomatis P-21 dan segera dilimpahkan ke pengadilan.
Tapi untuk menghormati mereka (kejaksaan, red), kita tetap sabar menunggu sambil terus berkoordinasi,” ujarnya.


Kasus Ardianto bermula dari terjadinya kebakaran di Toko Kurnia Maju di kawasan Pasar Raya Solok. Awalnya, kasus ini dianggap kasus kebakaran biasa. Yang membuatnya ganjil, usai musibah tersebut, dana asuransi tersendat keluar. Pasalnya, pihak asuransi tidak langsung percaya begitu saja dengan laporan polisi atas kejadian itu. Mereka kemudian menurunkan petugasnya untuk meneliti apakah ada unsur kesengajaan.


Kecurigaan pihak asuransi inilah menjadi awal kasus ini. Meski tetap bersedia membayar, klaim yang diberikan hanya separuh dari perjanjian semula. Kasus ini semakin seru setelah ternyata Ardianto mengambil tiga paket asuransi dari tiga perusahaan yang berbeda pula. Dugaan rekayasa dan kesengajaan semakin terang setelah didapati bahwa waktu pengambilan ketiga paket asuransi itu, hanya beberapa saat sebelum kebakaran terjadi. (rzy)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA