Date Jumat, 1 August 2014 | 04:36 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Pemerintahan

Gedung HBT Terbuka untuk Umum

Senin, 19-03-2012 | 13:06 WIB | 453 klik

Bukittinggi, Padek—Ketua Himpunan Bersatu Teguh (HBT) Pusat, Padang, Andreas Syofiandi, Sabtu (17/3), meresmikan pemakaian Gedung HBT Cabang Bukittinggi. Dengan adanya gedung baru HBT Cabang Bukittinggi tersebut, diharapkan dapat menunjang Bukittinggi Kota Wisata. Sebab, menurut Andreas, gedung HBT Bukittinggi itu juga terbuka untuk umum.


”Gedung HBT bukanlah tempat ibadah, melainkan sebagai sekretariat bagi anggota HBT, karena HBT merupakan sebuah perhimpunan sosial. Dengan adanya gedung baru HBT Cabang Bukittinggi ini, diharapkan dapat menunjang Bukittinggi sebagai Kota Wisata, karena gedung ini juga terbuka untuk umum,” kata Andreas, usai membuka selubung papan nama HBT tersebut.


Gedung HBT Cabang Bukittinggi yang diresmikan itu, merupakan bangunan lama, yang sebelumya dipergunakan sebagai tempat berkumupulnya masyarakat Tionghoa, yang diberi nama Kongsi Heng Beng Tong, didirikan tahun 1894. Karena sudah cukup tuanya bangunan sebagai tempat berkumpul, maka bangunan tersebut pun direnovasi sedemikian rupa.


Bahkan menurut Andreas, bangunan ini juga merupakan gedung serbaguna, karena gedung ini tidak hanya untuk anggota dalam menangani masalah sosial, tetapi juga terbuka untuk umum, seperti tempat pesta perkawinan dan lainnya. ”Bahkan bangunan ini dulunya juga merupakan gedung cagar budaya.Sebagai bangunan cagar budaya, maka gedung ini juga dapat menunjang pariwisata Bukittinggi, dan bisa dimanfaatkan bagi masyarakat umum,” paparnya.


Usai peresmian pemakaian gedung, pihaknya juga memberikan bantuan kepada Masjid Al Falah Tembok, dan santunan kepada 33 orang anak Panti Asuhan Budhi Bakti, Jembatan Besi, Bukittinggi.


Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Antarumat Bergama (FKUB) Kota Bukittinggi, H Salman, mengakui, gedung yang baru saja diresmikan itu untuk kegiatan sosial bagi anggota HBT Cabang Bukittinggi dan menangani masalah sosial. “Gedung ini bukanlah rumah ibadah, dan kepada masyarakat diminta agar tidak beranggapan negatif,” harap Salman.


Salah seorang warga, H King Churcil, mengaku sangat gembira melihat kekompakan para anggota. Karena di HBT tidak membedakan suku bangsa atau ras. Apalagi gedung yang telah direnovasi secara swadaya lebih kurang setahun itu, juga dapat dijadikan ajang penelitian bagi pengunjung sebagai cagar budaya. (rul)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA