Date Selasa, 29 July 2014 | 23:48 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Nasional

Hasil Uji Kompetensi Akademik Guru Jeblok

Sabtu, 17-03-2012 | 13:40 WIB | 3152 klik
Hasil Uji Kompetensi Akademik Guru Jeblok

(*)]

Jakarta, Padek—Bila hasil uji kompetensi akademik (UKA) guru dijadikan patokan kualitas, maka masyarakat harus prihatin. Ujian yang akan dipakai sebagai patokan ikut sertifikasi dan pemberian tunjangan profesi itu, hasilnya jeblok.

Dengan nilai maksimal 100, nilai rata-rata tertinggi hanya mencapai 58,87. Angka itu dicapai oleh guru di jenjang taman kanak-kanak (TK). Nilai rata-rata terendah adalah 32,58, yang dicapai para pengawas sekolah.


Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mochammad Nuh cukup prihatin dengan capaian para pengawas itu. ”Harus dievaluasi total ini. Harusnya nilai yang mengawasi itu lebih bagus daripada yang diawasi,” katanya. Namun kenyataannya, nilai rata-rata pengawas jauh lebih rendah dibandingkan guru-guru di tingkatan TK, SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB.


Nuh menduga beberapa penyebab jebloknya nilai pengawas. Pertama, jabatan pengawas rata-rata diisi guru tua atau senior. Jabatan ini dijadikan sebagai jenjang karir terakhir bagi guru. Setelah menjadi guru, lalu wali kelas. Terus menjadi wakil kepala sekolah, kemudian kepala sekolah. Terakhir baru menjadi pengawas sekolah. Dalam kondisi ini, faktor umur menjadi dominan dalam penentuan jabatan seorang pengawas sekolah.


Dugaan kedua, berlaku prinsip ”daripada menganggur” dalam penentuan posisi pengawas sekolah. Nuh menerangkan, ada kecenderungan kepala sekolah yang tidak lagi menjabat dan usianya mendekati pensiun, didaulat menjadi pengawas sekolah. Bagimanapun kompetensinya, dia tetap dijadikan pengawas. ”Intinya itu tadi, daripada nganggur,” katanya.


Nuh meminta ada perbaikan serius dalam penentuan sorang guru untuk dipromosikan menjadi pengawas.
Tidak boleh hanya karena umurnya sudah tua. Atau juga tidak boleh karena alasan daripada nganggur. Posisi pengawas cukup strategis, karena bertugas mengawasi jalannya pendidikan di tingkat sekolah.


Nuh juga mengatakan, akan memberlakukan agenda khusus saat PLPG (pendidikan dan latihan profesi guru) untuk para pengawas yang lulus UKA. Nilai tertinggi UKA untuk pengawas sekolah ini direngkuh ST Syuhaeni S dari Dinas Dikpora Kepulauan Yapen, Provinsi Papua dengan nilai 72.


Menurut Nuh, rata-rata nilai peserta UKA memang kurang bagus. Dia mengatakan, paling tinggi rata-rata didapat oleh guru kelompok TK. Disusul kemudian SMA, SMK, SLB, SMP, dan SD. Nuh mencoba optimistis dengan nilai rata-rata yang kurang memuaskan itu. Dia mengatakan, ada hal positif di balik perolehan nilai yang rata-ratanya tidak bagus itu. Pertama, menyebut kondisi ini membuktikan tidak terjadi kebocoran naskah soal UKA. ”Jika bocor, tentu nilainya tidak seperti ini,” katanya.


Kedua, nilai rerata yang kurang bagus ini menurut Nuh terjadi karena para guru mengerjakan soal dengan jujur. Jika terjadi sontek masal di ruang ujian, nilainya cenderung bagus-bagus. ”Tapi bukan berarti yang dapat nilai bagus itu dapat bocoran soal, atau mencontek ya,” papar Nuh.


Dugaan yang terakhir adalah, tingkat kesulitan soal yang harus dikerjakan para guru. Seusai mengerjakan soal UKA 25 Februari lalu, sejumlah guru mengeluh karena soal cukup sulit. Beberapa guru bahkan menyebut, soal yang dikerjakan tingkat kesulitannya sama seperti waktu kuliah. Dan selama menjadi guru, mereka tidak pernah membuka materi kuliah lagi.


Nuh mengatakan, tidak menjadi persoalan nilai-nilai yang diperoleh para guru itu rendah. ”Toh, faktanya seperti ini. Mau diapakan lagi. Selanjutnya adalah tugas LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) sebagai operator atau pelaksana PLPG memperbaiki kemampuan para guru,” urai Nuh.


Mantan rektor ITS itu menyebutkan, kesuksesan LPTK dalam melaksanakan PLPG adalah berhasil mengatrol nilai atau kemampuan guru dari hasil UKA dan ujian akhir setelah mengikuti proses PLPG. Nuh menegaskan, jika LPTK tidak bisa meningkatkan kemampuan guru setelah mengikuti PLPG, maka akan dikurangi kuotanya.


Di saat perolehan rerata nilai yang kurang bagus tadi, Kemendikbud masih menutup rapat informasi berapa guru yang lulus UKA. ”Pertemuan ini khusus untuk menerangkan hasilnya dulu. Berapa jumlah yang lulus, nanti,” kata dia. Pengumuman kelulusan UKA dilakukan besok (18/3).


Pada intinya, kata Nuh, yang lulus tidak bisa 100 persen. Hal itu merujuk pada kuota sebesar 250 ribu itu. Dia juga mengatakan harus merujuk pada nilai yang diperoleh saat UKA. ”Jika hanya kuota saja, tidak perlu UKA,” katanya. Sebab, menurut Nuh, UKA ini berfungsi sebagai alat penetapan kelayakan guru calon peserta sertifikasi.


Nuh menerangkan, bagi guru yang dinyatakan tidak lulus UKA bisa ikut lagi tahun depan. Sebelum ikut UKA lagi, mereka akan digembleng untuk dibina pada Mei dan Juni nanti. Dengan jadwal ini, diharapkan pada tahun ajaran baru 2012-2013, para guru yang tidak lulus UKA ini bisa mengajar lebih mantap. (wan/nw/jpnn)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA