Date Jumat, 25 July 2014 | 07:33 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Pemerintahan

Organda: Memberi Peluang Spekulan

Kenaikan BBM Sudutkan Sopir

Senin, 12-03-2012 | 13:07 WIB | 624 klik

Bukittinggi, Padek—Ketua Organda (Organisasi Angkutan Darat) Bukittinggi-Agam, Asril Manza, menilai, rencana pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) awal April mendatang, semakin menyudutkan posisi sopir angkutan umum. Bahkan kenaikan BBM justru memberi peluang bagi spekulan untuk menumpuk barang dan menaikkan harga.


“Dengan kondisi harga BBM Rp4.500/liter saja, penghasilan sopir angkutan kota (angkot) dan angkutan pedesaan (angdes), sudah cukup sulit. Selama ini banyak yang mengeluh, karena penghasilan mereka setiap hari terus menurun. Rata-rata setiap sopir kini hanya mampu memperoleh penghasilan sampai 60 persen dari angka normal,” katanya, kemarin.


Asril yang juga mantan ketua Koperasi Ikabe Bukittinggi itu menyebutkan, selain karena persaingan antara sesama angkutan penumpang umum sejenis atau angkutan jenis lain yang se arah, sopir angkot dan angdes selama ini harus menghadapi persaingan dengan kendaraan ojek yang sudah merambah sampai ke pelosok kota dan nagari.


Dengan kenaikan harga BBM, Asril memastikan posisi dan penghasilan sopir angkot dan angdes akan semakin sulit. Wajar, kenaikan harga BBM banyak memunculkan penolakan. Dikhawatirkan, dampak lain secara sosial juga akan bermunculan. Dia menilai, agar tidak memunculkan persoalan lain, sebaiknya kenaikan harga BBM ditunda.


Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) Bukittinggi, Kumar Z Chan, juga menyebutkan, ketika masih dalam bentuk wacana saja, sudah memberi peluang bagi spekulan untuk menaikkan harga atau menimbun barang. Buktinya, sejak muncul rencana pemerintah menaikkan harga BBM, harga barang-barang, termasuk sembako, sudah mulai naik.


Tidak hanya itu, akibat kenaikan harga BBM dan harga-harga kebutuhan lainnya juga naik, hal itu juga membuat kebanyakan masyarakat semakin kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, para pelaku ekonomi, terutama terhadap masyarakat dengan tingkat ekonomi lemah dan menengah, jelas akan mempengaruhi usahanya.


Kumar berpendapat, dengan kenaikan harga BBM tersebut, justru semakin melahirkan kemiskinan dan meningkatkan angka kriminalitas seperti terjadi di daerah lain. Kenaikan BBM yang tengah digodok pemerintah, jelas merupakan kebijakan yang sangat tidak populis. (rul)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA