Date Sabtu, 26 July 2014 | 00:40 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Tertib Lantas, bukan Geng Motor

Mengintip Komunitas Motor Ceper

Kamis, 01-03-2012 | 12:59 WIB | 1705 klik
Mengintip Komunitas Motor Ceper

Motor Modif: Kontes motor ceper menampilkan puluhan modifikasi kendaraan bermoto

Modifikasi kendaraan bermotor dipandang banyak orang pekerjaan mubazir, gaya-gayaan dan tidak berfaedah. Namun bagi komunitas Padangpanjang Motor Ceper Modifikasi (P2MCM), tidak demikian. Bagaimana ceritanya?


Lebih panjang, ban kecil, kaca spion antik dan ditempeli banyak stiker, demikian penampilan sejumlah motor ceper yang mangkal di beberapa tempat di Kota Padangpanjang. Pengendaranya rata-rata anak-anak muda.


Jangan salah, walau masih muda, mereka disiplin dalam berlalu lintas. Kebiasaan itu mentradisi karena menjadi “aturan main” yang harus dipatuhi setiap anggota P2MC.


Apa itu? Ya, apalagi kalau bukan kelengkapan alat kendaraan seperti helm standar, knalpot dan kaca spion. Bahkan, anggota P2MCM diwajibkan menyalakan lampu pada siang hari.


“Club motor ceper bukan geng motor. Di dalam keanggotaan, kami diikat dengan Anggaran Dasar Rumah Tangga (ADRT) yang mengatur berbagai ketentuan yang berkaitan dengan ketertiban berlalu lintas. Jika dilanggar, dikeluarkan dari keanggotaan dan dilarang menggunakan atribut klub,” ujar Slamet Riadi, Pembina Ikatan Motor Ceper Sumbar (IMCS) dan P2MC Padangpanjang.


Banyak hal positif lainnya. Klub P2MC yang berdiri sejak Mei 2005 itu, juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Di antaranya penggalangan dana untuk bantuan korban bencana alam. Kegiatan positif lainnya, P2MC juga sering dilibatkan dalam sosialisasi UU No 22 Tahun 2009 tentang Tata Tertib Lalu Lintas.


“Tidak hanya itu, sisi positif kehadiran P2MC bagi kalangan komunitas modifikasi, khususnya motor ceper, yakni membangun pergaulan seluas-luas dalam koridor positif. Ini sangat berdampak terhadap pembentukan mental generasi muda, seperti terhindar dari tindak kriminal serta penggunaan narkoba. Kami antinarkoba dan minuman keras,” ungkapnya.


Banyaknya pandangan negatif terhadap hobi modifikasi motor, Ismet menanggapi hal itu merupakan persepsi yang salah. “Di satu sisi, pandangan itu ada benarnya. Namun banyak sisi lainnya yang tidak diamati kalangan orangtua,” tutur Slamet.


Motor ceper bagi mereka, sekaligus media melatih kesabaran. Dengan motor ceper, pengendaranya tidak dapat memacu kendaraan sebagai mana kendaraan standar.


“Coba sama kita lihat, tidak ada motor ceper yang kebut-kebutan di jalan raya. Beda dengan motor standar, motor ceper harus dikemudikan dengan penuh kesabaran dan kehati-hatian karena berisiko terhadap kerusakan jika menghantam lubang ataupun tanggul. Secara otomatis, risiko kecelakaan lebih rendah,” jelas Slamet.


Roni, 30, anggota senior P2MCM, mengaku banyak hal positif yang dipetiknya dalam komunitas motor ceper tersebut. Di antaranya menumbuhkan rasa persaudaraan meski tidak saling kenal.


“Buktinya, saat kita melakukan perjalanan ke daerah lain, seperti Jambi, perjalanan dapat dilakukan dengan nyaman dan tenang. Meski kita tidak kenal nama, namun ketika sudah berkumpul, apa pun kebutuhan kita seperti makan dan penunjuk jalan, tidak perlu lagi khawatir. Kita dijamu makan di setiap kota yang dilalui, sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya. Itu enaknya klub motor ceper,” ungkap Roni.


“Dalam klub, kita juga diajarkan secara tak langsung bagaimana cara berorganisasi yang baik. Kita dibentuk sebagai orang yang dapat menghargai karya orang lain,” pungkasnya. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA