Date Rabu, 23 July 2014 | 17:01 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Pekerja Kebersihan Unand Minta Naik Gaji

Minggu, 12-02-2012 | 12:24 WIB | 594 klik
Pekerja Kebersihan Unand Minta Naik Gaji

OGAH DEMO: Meski mendapat upah yang rendah, namun pekerja kebersihan Unand teta

Demo buruh atau pekerja akhir-akhir ini menjadi sorotan hangat publik. Upah dan kesejahteraan hingga jaminan lainya yang masih dianggap belum mensejahterakan menjadi faktor pemicu utama demontransi besar-besaran, seperti halnya yang dilakukan Forum Buruh DKI Jakarta ataupun unjuk rasa yang dilakukan sekitar 200 guru honorer Kota Bekasi, minggu lalu.


Demonstasi buruh ataupun perkerja merupakan akhir dari tindakan yang dilakukan karena sudah tidak ada lagi cara yang dapat membuat buruh atau pekerja untuk menuntut hak dan kesejahteraannya.


Walaupun menuntut kesejahteraan dengan cara demonstrasi sering terjadi, namun lain bagi pekerja lingkungan Unand yang satu ini. Tidak mau melakukan demo, tapi tetap berharap untuk diperhatikan.


Hal yang sama juga dirasakan ratusan pekerja di Unand yang berkegiatan di bidang kebersihan dan penanaman pohon ini masih menunggu kenaikan gajinya. Menunggu kenaikan gaji tidaklah hal yang asing lagi baginya. Sudah sering di iming-imingi kenaikan gaji, tapi tak kunjung terbukti sampai saat ini.


“Sebelumnya kami sudah sering diiming-imingi kenaikan gaji, tapi sampai saat ini gaji kami masih tetap seperti empat tahun lalu yaitu sebesar Rp600.000 perbulan,” ucap Panjul, salah seorang pekerja.


Gaji sebesar Rp600.000 perbulan tanpa adanya jaminan kesehatan dan hari tua masih tetap diterima bapak yang sedang bekerja ini. Jika memicu kepada Upah Minimum Kota (UMK) Padang yang lebih Rp1 juta per bulan, tentulah sangat jauh minimnya. Apalagi ditambah dengan tidak adanya jaminan hari tua.


Menurut Rapi, pekerja kebersihan Unand lainnya, gaji sebesar ini tentulah belum cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Jangan untuk keluarga untuk mamenuhi kehidupan sendiri saja masih susah.


Walaupun susah, mereka tetap tabah dan tak mau melakukan aksi demo untuk menuntut kesejahteraan kepada atasannya. Padahal kesejahteraan terhadap pekerja telah ditentukan di dalam Undang Undang Ketenagakerjaan.


“Kami tidak bisa menuntut untuk kenaikan gaji karena kami takut dipecat dari pekerjaan ini, apalagi menuntut dengan cara demonstasi bisa-bisa kami semua akan diberhentikan” tambah Rapi.


Menurut mereka, jika melakukan penuntutan gaji dengan cara mendemo pihak rektorat sebagai atasan, rasanya tidak mungkin memenuhi permintaan kami, sebab mahasiswa saja yang sering demo di kampus ini tidak pernah didengarkan aspirasinya apalagi kam.


“Kami tahu bahwa gaji ini tidak mensejahterakan. Seharusnya pemerintah juga bertanggung jawab, tapi kami mau apalagi. Memang kami sangat berharap banyak kepada rektor sekarang ini, agar dapat mempertimbangkan jerih payah kami, tetapi rasanya sudah bosan berharap terus-menerus”. ungkap Panjul. (Gema Justisia)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA