Date Kamis, 24 July 2014 | 03:20 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Pemko Patenkan Tiga Varietas

Bareh Solok Dipalsukan

Sabtu, 04-02-2012 | 12:01 WIB | 386 klik
Bareh Solok Dipalsukan

Program Sukses: Wako Solok, Irzal Ilyas panen padi tanam sabatang.

Solok, Padek—Bareh solok yang beredar di pasaran saat ini, tidak lagi memiliki keistimewaan dibanding beras dari daerah lain. Ini disebabkan bareh solok yang kini beredar banyak oplosan atau dipalsukan.


Bareh solok oplosan tersebut ditemukan di sejumlah hueller (penggilingan padi). Pencampuran dilakukan saat penggilingan dengan mencampur padi asli Solok dengan padi dari daerah lain, seperti padi dari Sijunjung dan Dharmasraya.


Pencampuran itu diperkirakan 3 berbanding 1. Sehingga, sepintas beras itu sulit dibedakan oleh orang awam. Akibat pencampuran itu, cita rasa bareh solok sama saja dengan beras dari Bukittinggi dan Payakumbuh.


“Pedagang tidak salah mengatakan itu bareh solok asli, karena memang digiling di Solok. Cuma saja, ada sebagian dari beras itu dari padi Sijunjung, sehingga muncul istilah beras Solok padi Sijunjung,” ujar Wako Solok, Irzal Ilyas yang sebelumnya pedagang beras.


Dari sekian banyak varietas beras solok, Irzal menilai yang paling enak saat ini hanya verietas anak daro. Sementara beras solok varietas caredek, saribaganti dan randah kuniang, tak lagi bisa ditemui.


Kedua varietas itu sudah lama hilang karena tak diminati petani dengan alasan masa tanamnya lama. Varietas caredek baru panen setelah berumur enam bulan, sedangkan varietas randah kuniang panen berumur lima bulan. Sedangkan varietas anak daro, bisa dipanen saat berumur tiga bulan.


“Varietas anak daro sudah diakui Kementerian Pertanian RI sebagai beras unggul dari Solok. Varietas ini akan dijaga kemurniannya dan berasnya akan dikemas sebaik mungkin sehingga akan menjadi oleh-oleh khas Kota Solok,” kata Wako Solok yang berencana segera mematenkan varietas bareh solok tersebut.


Seperti diketahui, Kota Solok memiliki 1.254 hektare luas lahan. Dengan produksi mencapai 19 ribu ton gabah kering atau setara 12 ribu ton beras. Sehingga, secara logika dengan konsumsi beras di Solok yang mencapai lebih dari dua kali lipat, berarti hanya setengah warga Kota Solok yang mengonsumsi bareh solok. Belum lagi, bareh solok yang dijual di luar Solok dan Sumbar.


Di samping mempertahankan lahan yang ada, Dispernakhut Kota Solok juga melakukan upaya intensifikai lahan dengan cara induksi teknologi. Beberapa pola tersebut adalah program padi tanam sebatang (PTS), teknik komposting dan bantuan benih murni bareh solok.


“Program PTS cukup berhasil diuji coba meski kita harus mengubah pola petani tradisional. Sementara pada teknik komposting, kita memberikan insentif kepada petani yang tidak membakar jerami dan menjadikannya kompos,” ujarnya.


Laju pembangunan kompleks perumahan baru kini mengancam lahan sawah di Solok. Kalau dulu bareh solok bisa melengkapi ketiga kebutuhan tersebut (sandang, pangan dan papan), kini saling menggerus. Tuntutan perumahan membuat areal persawahan menyempit. Di sisi lain, kebutuhan pakaian dari hasil bersawah juga semakin sulit karena kebutuhan pangan tetap harus diimpor dari daerah lain.


Beruntung Kota Solok memiliki Pasar Raya, sehingga Bareh Solok yang berasal dari Saoklaweh, Cupak, Talang, Kotobaru dan Selayo tetap bisa dinikmati warga kota. (rzy)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA