Date Jumat, 25 July 2014 | 15:24 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Pemerintahan

6 Jalan Rusak Berat, 3 Jembatan Menanti Maut

Sitanang, Penghasil Karet yang Berbatas Dengan Riau

Kamis, 26-01-2012 | 13:33 WIB | 434 klik
Sitanang, Penghasil Karet yang Berbatas Dengan Riau

BUTUH PERHATIAN: Sesudut jalan di Nagari Sitanang, Kecamatan Lareh Sago Halaban

Nagari Sitanang, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumbar, merupakan kampung penghasil karet yang berbatas langsung dengan Provinsi Riau. Nagari ini juga merupakan salah satu pusat adat di Minangkabau. Sayang sekali, kalau 6 ruas jalan dan 3 jembatan gantung di Sitanang, dibiarkan rusak berat tanpa diperbaiki.


Berkunjung ke Sitanang awal Januari lalu, kerinduan akan Minangkabau masa silam seperti tak bisa disembunyikan. Terlebih saat melihat bangunan adat bernama Balai Malintang, masih berdiri kok di Nagari Sitanang. Menurut bekas Ketua LKAAM Sumbar mendiang Kamardi Rais Dt Panjang Simulie dalam buku catatan hariannya yang dinamai Acta Diurna, Balai Malintang di Sitanang berada dalam wilayah Lareh.


Kamardi Rais mencatat, tempo dulu, sebelum mengenal pemerintahan seperti sekarang, kawasan Luak Limopuluah (meliputi Limapuluh Kota, Payakumbuh dan sebagian Riau) terdiri dari lima wilayah. Yakni, wilayah Hulu, Luak, Lareh, Ranah dan Rantau. Khusus wilayah Lareh, berada antara Bukik Cubadak Mudiak sampai Padang Balimbiang Hilia.


Wilayah Lareh dipimpin seorang pemegang tampuk adat ulayat bernama Dt Paduko Marajo. Sang datuk, berkedudukan di Sitanang Muaro Lakin. Sitanang Muaro lakin itu,diperkirakan terdiri dari Nagari Sitanang, Nagari Labuahgunuang dan Nagari Tanjuanggadang. Namun sejak tahun 1886, Sitanang berdiri menjadi nagari sendiri.


Ini juga dibenarkan Wali Nagari Sitanang saat ini, Asmadi Dt Pangeran. ”Ya, Nagari Sitanang mengalami pemekeran sekitar tahun 1886. Nagari Sitanang berkembang dari keturunan 7 niniak-mamak atau niniak mamak nan batujuah,” ujar Asmadi yang pensiunan PNS Pemko Payakumbuh kepada Tim Jelajah Nagari Padang Ekspres.


Ia mengatakan, keturunan niniak mamak nan batujuah berkembang pesat di Sitanang. ”Kini, warga Sitanang tercatat 3.466 jiwa. Mereka tersebar pada 5 jorong setingkat dusun di pulau Jawa. Yakni, Jorong Balaipanjang, Kampai, Batukabau, Tanahmungguak, Coran dan Sungai-ipuah,” ujar Asmadi yang lahir di Sitanang, 16 Maret 1952.


Asmadi Dt Pangeran menambahkan, Sitanang memiliki luas 147,68 kilometer persegi. Jorong Balai Malintang merupakan jorong paling kecil di Sitanang. Sedangkan Jorong Sungai-ipuah merupakan jorong paling luas karena berbatas langsung dengan Provinsi Riau. Warga Sitanang mayoritas adalah petani. Mereka, menggarap 521 hektare padi dan 33 hektare palawija.


”Petani Sitanang sering kesulitan dalam mendapatkan pupuk. Saat butuh, pupuk tidak ada. Ketika tak butuh, pupuk datang. Kami mohon, ini jadi perhatian dinas terkait. Kami juga berharap, sebagian jaringan irigasi yang rusak di Sitanang, dapat diperbaiki pemerintah daerah. Kami punya 15 jaringan irigasi,” imbuh Asmadi.


Selain bertani padi, warga Sitanang rajin pula berkebun karet. Karet paling banyak ditanam di Jorong Coran, Sungai-ipuah, Batukabau, dan Jorong Mungguak. Total karet yang ditanam warga, sudah mencapai 600 ribu batang. Kedepan, Asmadi dan pemerintah nagari bertekad untuk membudidayakan karet, dengan memanfaatkan potensi nagari yang luas.


”Karet akan dijadikan produk unggulan Sitanang. Selain pemeliharaannya yang mudah, resiko kegagalan yang kurang, proses perkebunan karet juga menjanjikan. Kita berharap, Pemprov Sumbar dan Pemkab Limapuluh Kota, dapat membina petani secara khusu, mulai dari pembibitan, pemeliharaan dan pemupukan,” ujar Asmadi.


Tidak hanya karet, warga Sitanang rajin pula berkebun kakao, beternak sapi dan beternak ayam potong. Khusus pengembangan kakao dan sapi, Asmadi meminta Pemprov Sumbar dan Pemkab Limapuluh Kota, mengucurkan bantuan buat warga Sitanang. ”Di sini, sapi dan kakao bisa di-integrasikan, melihat wilayah yang luas sekali,” ucapnya.


Sekilas Sitanang
Nagari Sitanang secara pemerintah memang dipimpin Asmadi Dt Pangeran. Tapi dalam tugas, ia dibantu 5 kepala jorong. Yakni, Kepala Jorong Balaipanjang Hafnir, Kepala Jorong Kampai Syahril, Kepaal Jorong Batukabau Izazul Atril, Kepala Jorong Coran J Dt Mangun, Kepala Jorong Sungai-ipuah Jafar, dan Kepala Jorong Tanahmungguak B Dt Pangeran Nan Sati.


Selain dibantu 5 kepala jorong, Asmadi Dt Pangeran juga diperkuat Sekretaris Nagari Zulfikar, Kaur Pembangunan Yeni Erianti, Kaur Pemerintahan Syafrianis, Kaur Administrasi/Keuangan Syaflinun. Mereka, selalu berkrodinasi dengan Ketua Bamus Awil Syahruman, Ketua KAN A Dt Marajo Nan Kijik, Ketua LPM NN Dt Rajo Mangkuto, dan Ketua PKK Husda.


Nagari Sitanang memiliki 1 TK, 4 SDN dan 1 SMPN untuk mendukung program wajib belajar 9 tahun warganya. Sedangkan untuk sarana ibadah dan sosial, Sitanang punya 6 masjid, 12 surau dan mushalla, serta 13 TPA dan MDA. Sementara bidang kesehatan, Sitanang punya 7 Posyandu, 6 Poskesri dan 1 Puskesmas Pembantu.


”Terkait Poskesri, kami sangat berharap Dinas Kesehatan dapat membangun gedung Poskesri di Jorong Sungai-ipuah, Jorong Tanahmungguak dan Jorong Batukabau. Sebab, masyakat memang sangat butuh infrastruktur kesehatan,” ujar Asmadi yang peduli dengan nasib warganya.


Asmadi juga meminta pemerintah daerah memperbaiki 3 ruas jalan kabupaten. Yakni, ruas jalan Labuahgunuang sampai Jembatan Titian Kampai yang rusak berat sepanjang 4 KM dan ruas jalan Coran-Sungai Ipuah yang masih pengerasan sepanjang 4 KM. Kemudian, ruas jalan Tanjuangcendi-Tanahmungguak-Batukabau-Coran sepanjang 7 KM.


”Kami juga berharap, jalan lingkar nagari seperti ruas Kampai-Tanahmungguak sepanjang 2 kilometer dapat diperbaiki. Begitupula, ruas Batukabau menuju Padangduek dan Coran sepanjang 3 kilometer. Serta ruas jalan Balaimalintang sampai Batupayuang sepanjang 2 kilometer yang masih tanah,” harap Asmadi.


Ia berharap, pemerintah memperbaiki 3 jembatan gantung di Sitanang. Yakni, jembatan gantung Sawahgaduang sepanjang 75 meter yang membelah Batang Sinama. Jembatan ini dibangun tahun 1974 oleh ABRI Masuk Desa. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA