Date Jumat, 1 August 2014 | 04:37 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Sentra Tanaman Hias yang Lamban Berhias

Lubuk Minturun; Agrowisatanya Kota Padang

Senin, 23-01-2012 | 13:24 WIB | 570 klik
Lubuk Minturun; Agrowisatanya Kota Padang

TEMPAT PERMANDIAN: Sungai Lubukminturun dijadikan warga tempat permandian.

Aktivitas ekonomi masyarakat Lubuk Minturun semakin menggeliat. Kawasan ini tidak saja tersohor dengan objek pemandiannya yang alami, tapi juga potensi tanaman hiasnya.


BAGI pecinta tanaman hias di Padang, bahkan Sumbar, sudah akrab berburu aneka bunga di Lubuk Minturun. Mulai dari harga puluhan ribu, sampai puluhan jutaan rupiah.


Begitu memasuki kawasan ini, mata kita langsung dimanjakan dengan hamparan taman bunga yang berjejer indah di sepanjang jalan. Hampir di setiap pekarangan rumah penduduk, dihiasi aneka tanaman hias berupa warna.


Bukan sekadar penghias taman rumah, melainkan menjadi sumber mata pencarian warga setempat. Bertruk-truk bunga keluar dari kawasan ini. Tak heran, ekonomi penduduk Lubuk Minturun tampak cerah dari bisnis tanaman hias itu.


Ada yang benar-benar menjadikan bisnis tanaman hias sebagai mata pencarian utama, ada juga yang sekadar usaha sampingan.
Darni Wilis misalnya. Seluruh pekarangan rumahnya sudah ditanami tanaman hias.


Dari seharga Rp 800 hingga jutaan rupiah. Darni mengoleksi ratusan jenis tanaman hias.
“Usaha tanaman hias sudah memberi dampak positif mendongkrak perekonomian keluarga. Tak hanya itu, juga membantu perekonomian warga lainnya,” tuturnya.


Darni menuturkan, konsumen tanaman hias tak hanya dari Sumbar, tapi juga dari daerah tetangga.
Karena itu pula, Lubuk Minturun mendapat penghargaan dari pemerintah pusat sebagai kawasan penghasil tanaman hias dan daerah yang mampu melaksanakan program pengelolaan air bersih berbasis masyarakat.


“Selain di Lubuk Minturun, Bungus juga mendapat penghargaan dalam pengelolaan air bersih di Padang,” kata Lurah Zulkifli.
Dalam perjalanannya, Lubuk Minturun semakin menguatkan citranya sebagai agrowisatanya Padang. Keindahan objek wisata pemandian alamnya, semakin lengkap dengan pemandangan taman bunga di sepanjang jalan.


Hanya saja, potensi besar itu belum diikuti dengan perhatian pemerintah kota terhadap Padang pinggiran kota ini. Di tengah minimnya “campur tangan” Pemko, ekonomi warga setempat terus berbenah mengembangkan bisnis tanaman hias itu.


Lihat saja fasilitas umum dan sarana penunjang di kelurahan ini, masih minim. Banyak jalan di kelurahan belum layak dilalui, rusak dan perlu pembenahan. “Misalnya saja, jalan yang menuju pemandian Lubuk Minturun atau Kampung Lori. Aspal jalannya telah habis terkikis, jalan pun berlubang, dan tidak rata. Selain itu, lokasi pemandiannya kurang terkelola dengan baik,” katanya.


Padahal, tempat pemandiannya telah digunakan sejak tahun 1883, seperti yang terlihat dari monumennya. Itu tampak dari lori atau kereta gantung peninggalan Belanda di kawasan itu. Sayangnya, objek wisata pemandian alam itu tidak banyak bersolek dari dulu hingga kini.


Kawasan ini memiliki luas sekitar 23,29 km persegi. Jaraknya 16 km dari pusat kota Padang. Tata ruang kelurahan dibagi keenam sektor. Kawasan perdagangan seluas 3,40 hektare, kawasan industri 4,20 hektare, kawasan peternakan 5,70 hektare, serta kawasan permukiman15,00 hektare.


Di samping itu, Lubuk Minturun memiliki kawasan pertanian dengan luas 262,50 hektare dan kawasan hutan lindung 338,00 hektare.
Kelurahan Lubuk Minturun memiliki 13 kampung; Kampung Lubuklagan, Simpang Tigo, Lori, Sungaigariang, Sungaiduo, Kabunsarai, Bukitputih. Kemudian, Kotorapak, Lubukgajah, Sungailareh, Sikuliek, dan Kandihteleang.


Penduduknya mayoritas hidup bertani. Jumlah petani mencapai 461 orang. Tapi saying, lahan produktif yang dulunya luas, kini kian menyempit dimangsa lahan perumahan. “Lihat saja sekarang, jumlah perumahan sudah masuk ke lahan-lahan produktif,” ujar pemuka masyarakat setempat, Arlisan.


Hingga sekarang, pembangunan perumahan terus berlangsung. “Semua itu dibangun di atas lahan produktif yang tadinya menghasilkan padi seperti di Sungailareh dan Sungaiduo,” ujarnya.


Areal persawahan semakin berkurang. Hasil panen padi yang dulunya mencukupi untuk kebutuhan warga sekitar, kini terpaksa membeli ke pasar.
Tak hanya itu, seiring dengan perkembangan zaman, Lubuk Minturun yang dulunya memegang kuat nilai adat dan budaya, perlahan tergerus modernisasi. (mg10)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA