Date Senin, 28 July 2014 | 19:21 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Tertantang Kritik Gubernur

Berkunjung ke Wisata Agro Terong Belanda

Senin, 16-01-2012 | 12:18 WIB | 2240 klik
Berkunjung ke Wisata Agro Terong Belanda

Terong Belanda: Perkebunan rakyat terong belanda di kawasan Wisata Danau Kembar,

Nasrizal, 39, termasuk wirausaha yang cukup jeli membaca peluang pasar. Di saat kebanyakan masyarakat memandang sebelah mata terhadap terung belanda, Nasrizal malah mempertaruhkan modalnya untuk berinvestasi membudidayakan tanaman tersebut. Alhasil, ide kreatifnya membangun wisata agro terong belanda, diklaim menjadi satu-satunya di Sumbar.


Di atas ketinggian tiga meter lebih dari permukaan jalan raya, hamparan tanaman terung belanda terbentang mempesona. Kebun terung belanda ini menambah asri panaroma Desa Wisata Danau Kembar dengan latar Gunung Talang.


Tanaman yang bernama latin cyphomandra betacea ini tidak asing lagi oleh masyarakat Solok. Hampir setiap warga menanam dan menikmati hasilnya. Akan tetapi, jarang ada yang terinspirasi membudayakannya. Sehingga, terung belanda nyaris seperti tanaman liar. Dibiarkan tumbuh, berbuah, dan tak terawat. Hasilnya juga alakadar.


Nasrizal, warga Jorong Lurah Ingu, melihat sisi lain dari tanaman itu. Ini berawal dari tantangan Gamawan Fauzi, Gubernur Sumbar saat itu, agar masyarakat Danau Kembar menambah nilai bisnis dari terung belanda. ”Kata Pak Gamawan waktu itu, kenapa di sini tidak ada yang berpikir membudidayakan terung belanda secara maksimal. Padahal, daerah kita cukup potensial,” kenang Nasrizal.


Memang, waktu itu, warga Danau Kembar hanya menanam terung belanda sekadarnya di pekarangan rumah. Tidak satu pun yang fokus mengembangkan terung pirus itu. Akhir 2010, Nasrizal mulai merintis budidaya terung pirus ini. Dari pengalaman studi banding ke Jawa, lelaki tiga anak itu kemudian mempersiapkan lahan.


Di areal 2 hektare, Nasrizal memperkerjakan dua karyawan menggemburkan tanah, lalu menanamnya. Dari jalan raya, sepintas tanaman itu terlihat seperti pohon jati. Namun, saat mulai berbuah, barulah orang tahu bahwa yang ditanami oleh Nasrizal adalah terung belanda.


Saat berbuah itulah, akhir 2011, Nasrizal kemudian membuka Wisata Agro Terung Belanda sebagai alternatif tujuan wisata. Ada 400 batang tanaman terung belanda di kawasan itu. Pengunjung boleh memetiknya sendiri, sambil membawa keranjang yang disediakan petugas. Nanti, di pintu gerbang, ada juru timbang yang akan menghitung berapa rupiah yang harus dibayar. ”Satu kilogram terung belanda harganya Rp 2.500. Jumlahnya sekitar 20 buahlah,” ujarnya.


Selain terung belanda, Nasrizal mengembangkan 500 batang jeruk, jambu paraweh, dan buah melosa. Soal rasa dan tampilan terung belanda ala istri Liza itu, berbeda dengan terung belanda yang banyak beredar di pasaran. Rasanya khas, dan matangnya sempurna.

Terlihat dari warna ungunya yang bercampur kuning, mengkilat. ”Satu batang dapat menghasilkan 100 buah dan usianya sampai 10 tahun. Perawatannya juga tidak boleh memakai pupuk kimia, hanya pupuk kompos,”ujarnya menerangkan. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA