Date Kamis, 24 July 2014 | 01:16 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Potensi Besar, tapi Minim Fasilitas Pemasaran

Melihat Produk SMKN 6 dan SMKN 9 Padang yang Go Public (2/habis)

Sabtu, 14-01-2012 | 12:04 WIB | 715 klik
Melihat Produk SMKN 6 dan SMKN 9 Padang yang Go Public (2/habis)

Bikin Donat: Siswa SMKN 9 Padang membuat donat di sekolahnya.

Produk kreatif siswa SMKN Padang jelas tak kalah saing dengan SMKN lainnya secara nasional. Lihat saja, hotel setara bintang empat, catering berkelas internasional, sampai desain busana bersaing di pasaran. Namun begitu, bukan berarti kedua sekolah ini tanpa kendala. Berikut ceritanya?


Empat kelas workshop (bengkel) menjahit SMKN 6 Padang dipenuhi siswa praktik, Selasa (10/1) lalu. Jari-jari lentik mereka berpacu mengoperasikan mesin jahit manual di bengkel itu. Sesekali mereka serius mendengarkan arahan guru pendamping.


”Setahun kami bisa selesaikan 3.000 lembar pakaian,” kata Ketua Jurusan Tata Busana SMKN 6 Padang, Wiswitri kepada Padang Ekspres. Biasanya, tiap tahun mereka rutin mengerjakan pakaian seragam siswa baru sekolah tersebut. Mulai pakaian seragam, batik, hingga baju praktik.


Sejumlah sekolah tinggi kesehatan di Padang memesan baju wisuda di sini. Termasuk mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Padang (UNP), juga memesan baju praktik di sini.

Tak hanya itu, sejumlah toko di Pasar Raya Padang, mempercayakan bahan kain mereka diolah berbagai jenis pakaian jadi. ”Dari situlah kami memulai usaha, kan sekolah tidak punya modal,” katanya.


Soal keuntungan, pihak sekolah tidak terlalu memikirkannya. Terpenting, siswa bisa menyerap pelajaran dan puas atas kualitas hasil kerja mereka.
”Fungsi sekolah adalah menciptakan output, dengan kualitas bersaing dengan produk sejenis di pasaran,” imbuh Kepala SMKN 6, Djafri.
Di SMKN 6, dibuat sanggar busana sebagai tempat memajang hasil karya siswa. Setiap hasil karya itu dikomersilkan. Mulai pakaian kerja, pakaian pesta, hingga kebaya. Kualitas pakaian pun tidak kalah bersaing dengan butik-butik ternama di Padang.


”Biasanya, tamu hotel banyak membeli. Bahkan, ada siswa menjualnya melalui website,” sebut Wiswitri, alumni tata busana UNP itu. Pihak sekolah sendiri, sudah merencanakan membuka toko online. Upaya ini dilakukan untuk merambah pasar lebih luas lagi, ternasuk internasional. ”Ini lebih baik ketimbang mendirikan butik, butuh biaya lebih besar dan sekolah tak memiliki anggaran khusus untuk itu.


SMKN 6 Padang tak main-main dalam pengembangan kemampuan siswa. Mereka dibimbing 20 guru tata busana lulusan perguruan tinggi lokal maupun nasional. Mereka, kata Wiswitri, memiliki kompetensi guna menghasilkan pakaian terbaik. Mulai pengetahuan menggambar desain, memilih bahan, menjahit halus sesuai serat benang, hingga pengelolaan manajemen butik.


Tak hanya itu, siswa juga didukung peralatan mesin jahit high speed sebanyak 40 buah. ”Saat ini mesin kami masih banyak manual. Empat buah bengkel, masing-masing berjumlah 36 unit. Maunya sih semuanya high speed demi menunjang kualitas,” katanya.


Kendati sudah komersil, bukan berarti mengorbankan aspek pendidikannya. Raymond, kepala SMKN 9 Padang, menegaskan bahwa tujuan utama sekolah tetap menciptakan lulusan berkualitas. ”Terpenting sekarang adalah regulasi pemerintah. Sampai saat ini belum ada kejelasan, bagaimana status hotel dan unit-unit usaha yang kami kelola. Apakah sekolah dibolehkan berbisnis atau seperti apa kepastiannya,” tanya Raymond.


Raymond tetap komitmen memegang idealismenya. Dia bersikukuh sisi bisnis bukanlah tujuan utama. Baginya, keuntungan hanyalah dampak dari sebuah pendidikan berkualitas. Sekolah ini menjadikan unit usaha itu terhimpun dalam koperasi.


Terhadap perkembangan kedua SMK itu, Kepala Dinas Pendidikan Padang, Dian Wijaya menyatakan komitmennya memberi perhatian pada SMKN 6 dan SMKN 9. Pengembangan sekolah jurusan akan diarahkan ke sekolah ini.


Kabid Bina Lembaga Dinas Koperasi dan UMKM Padang, Nurhidayati menyebutkan, potensi SMKN bisa dikomersilkan melalui koperasi siswa (Kopsis). ”Tujuan pendidikan memang ke sana. Ada hasil yang diperoleh dari pendidikan, seperti hasil karya siswa bisa dikembangkan pemasarannya melalui kopsis,” sebutnya kemarin (12/1).


Keanggotaannya, kata dia, sampai siswa menyelesaikan pendidikannya di sekolah tersebut. Jika alumni masih ingin bergabung dan mengelola koperasi tersebut, bisa diangkat menjadi karyawan. Atau, bisa membuka usaha sendiri jika mampu secara finansial maupun manajemen. ”Saat ini belum banyak sekolah memiliki kopsis. Ke depan, kami akan coba lagi menggandeng dinas pendidikan untuk menghidupkan kopsis di Padang. Terutama, SMP dan SMA sederajat,” katanya.


Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumbar, Maulana Yusran menekankan agar pengelolaan hotel kedua SMKN ini terus ditingkatkan profesionalitasnya. ”Misalkan, pelayanan tamu, kualitas kamar, serta hal lain menyangkut layanan. Kami mengapresiasi kedua sekolah ini mampu mengelola hotel,” pujinya


Pengamat ekonomi dan pemasaran dari UNP, Yunia Wardi mengatakan, persoalan utama pengembangan potensi SMK adalah promosi dan kemitraan. ”Ini mesti menjadi tugasnya pemerintah sebagai fasilitator, untuk mengembangkan potensi mereka,” katanya. Dia menyebutkan, produk SMKN, mulai dari perhotelan, katering, hingga pakaian perlu dikomersilkan melalui program pariwisata. ”Kreativitas mereka harus disinergikan dengan aktivitas lainnya,” kata Dekan Fakultas Ekonomi UNP itu.


Dia berpendapat, SMK dikatakan berhasil jika melahirkan tenaga kerja siap pakai. Biar begitu, lulusan SMK tidak cukup hanya memiliki kompetensi di satu bidang, tetapi juga melahirkan jiwa entrepreneurship. ”Tugas pemerintah dan perbankan lah memfasilitasi mereka, karena seringkali mereka memiliki potensi besar terkendala modal.

Dengan begitu, fungsi SMK sebagai labor pendidikan kejuruan jelas melahirkan profesional berdaya saing tinggi,” sebut dosen manajemen pemasaran itu. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA