Date Selasa, 29 July 2014 | 15:39 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Kelola Hotel Setara Bintang Empat

Melihat Produk SMKN 6 dan SMKN 9 Padang yang Go Public (1)

Jumat, 13-01-2012 | 13:39 WIB | 894 klik
Melihat Produk SMKN 6 dan SMKN 9 Padang yang Go Public (1)

Langsung Praktik: Siswa SMKN 6 Padang didampingi guru menata tempat tidur. (kan

Jika siswa SMK Solo berhasil menciptakan mobil setara pabrikan berkelas, anak-anak SMK Padang juga tak kalah kreatif. Di antaranya adalah SMKN 6 dan SMKN 9. Sejak dua tahun lalu, siswa kedua SMK ini berhasil mengelola hotel bertaraf bintang empat. Mereka bersaing dengan hotel-hotel ternama di Sumbar. Bagaimana ceritanya?


Nuansa eksklusif langsung terasa ketika memasuki sebuah hotel di kawasan Jati, tepatnya di Jalan Situjuh, Padang. Hiasan lampu sepanjang lorong antarkamar menciptakan suasana berbeda, menyejukkan hati.

Sepintas, tak ada yang membedakan Edotel Minangkabau (nama hotel tersebut, red) denga hotel berkelas lainnya di Sumbar. Atmosfer serupa juga terasa di Jalan Bundo Kandung. Bangunan megah Edotel Bundo Kandung, terlihat serasi dengan bangunan megah di sekitarnya.


Ya, kedua hotel itu dikelola SMKN 6 di Jati dan SMKN 9 di Jl Bundo Kanduang. Seluruh pelayanan dan pengelolaan hotel, mulai menyambut tamu, membersihkan kamar, hingga pembuatan, dan penyediaan makanan di restoran hotel, dikerjakan para siswa. Kedua hotel itu masing-masing memiliki 18 kamar. Mulai dari tipe sweet, deluxe, hingga superior.


Pengelolaan hotel dilakukan siswa jurusan perhotelan, terutama siswa magang semester IV dan V. Untuk pengelola senior atau manajer, diserahkan ke alumni. Sedangkan pengawasan kinerja, dilakukan para guru.

”Yang jelas, tidak ada orang luar ikut campur dalam pengelolaan,” kata Kepala SMKN 6 Padang, Djafri saat berbincang-bincang dengan Padang Ekspres di lokasi hotel, Selasa (10/1), lalu .


Para siswa diatur jadwalnya secara bergantian. Jam piket mereka dibagi sedemikian rupa. Di SMKN 6, misalnya. Dari 18 kamar yang dioperasikan sejak Oktober 2009 silam, 12 kamar telah dikontrak perusahaan penerbangan Lion Air. ”Kamar itu untuk penginapan pilot, pramugari, engineer, dan kru perusahaan. Sedangkan enam kamar lagi untuk umum,” ujar Djafri.


Tak heran, setiap hari hotel ini selalu ramai oleh tamu. Bahkan, tak jarang kekurangan kamar ketika tamu membeludak. ”Kebanyakan tamu umum ini berasal dari instansi pemerintah yang studi banding ke Padang,” imbuhnya.


Sejak dibuka dua tahun lalu, Djafri mengaku belum ada keluhan dari tamu seputar pelayanan hotel. Untuk menjaga kenyamanan tamu, setiap pekerjaan siswa dievaluasi guru. Jika ada belum sesuai standar, sang guru langsung meminta siswa bersangkutan mengulangi pekerjaan itu. ”Dilakukan berulang kali sampai siswa benar-benar menguasai,” sebutnya.


Ingin tahu tarif kamarnya? Djafri berani menggaransi lebih murah. Seperti tipe sweet dibandrol Rp 650 ribu sehari, deluxe Rp 350 ribu, dan superior Rp 300 ribu. Fasilitas kamar terdapat layanan jaringan internet gratis, kamar mandi memiliki dua keran air panas dan dingin, dan LCD TV.


Pola sama juga diterapkan di SMKN 9 Padang. ”Pengelolaannya berjenjang. Siswa kelas satu belum boleh terlibat, mereka fokus menguasai materi perhotelan terlebih dahulu. Pekerjanya adalah siswa kelas dua dan tiga, dibimbing seniornya yang ditunjuk sekolah,” papar Kepala SMKN 9 Padang, Raymond.


Jadwal piket siswa dibagi secara teratur. Karena itu, setiap hari para tamu dilayani orang-orang berbeda. Mereka praktik sungguhan melayani tamu secara berkelanjutan, dan penilaian dilakukan guru. Tidak hanya praktik, siswa piket juga berhak memperoleh daily payment (upah harian) sebesar Rp 35 ribu sehari. Upah harian ini ditujukan supaya siswa bekerja maksimal dan bertanggung jawab.


Akbar, siswa kelas III SMKN 9 Padang, mengaku beruntung bersekolah di SMK. ”Senanglah, baru magang dapat uang jajan pula,” katanya.
Raymond sendiri tidak menyangka program digagas Kementerian Pendidikan Nasional untuk sekolah kejuruan bidang pariwisata melalui pengembangan hotel, bisa sukses sedemikian rupa. ”Awalnya saya tidak menyangka bisa maju sepesat ini. Di banyak daerah program ini tidak jalan,” sebutnya.


Sejak dibantu 8 unit kamar oleh Dinas Pendidikan, hotel ini terus berkembang. Jumlah kamar mencapai 18 unit. Permintaan kamar untuk hotel sekolah, diakui Raymond tergolong tinggi. Setiap hari tidak pernah sepi pengunjung. Padahal, lokasinya berdekatan dengan hotel-hotel berbintang, semisal Hotel Bumiminang, Pangeran City, The Alena Hotel (bekas Hotel Ambacang), Grand Inna Muara, Mariani International, dan lain-lain.


”Pengelolaan yang kami lakukan tidak memikirkan keuntungan. Terpenting biaya operasi terpenuhi. Biarpun begitu, sekarang malah sudah menghasilkan. Itulah sebabnya, kita makin bersemangat mengembangkannya tanpa mengurangi orientasi awal sebagai media pelatihan,” kata Raymond.


Jurusan Tata Boga

Nilai plus pengelolaan kedua hotel ini bertambah dengan keseluruhan menu masakan berasal dari hasil karya siswa juga. Ya, siswa jurusan Tata Boga menyediakan fasilitas makanannya. SMKN 9, misalnya. Catering Bundo Kandung yang mereka kelola sudah terbang ke mancanegara di bawah Aero Catering Food Service (ACS) milik PT Garuda Indonesia.


Mereka menyuplai makanan untuk pelanggan Garuda, termasuk menjamin kebutuhan makanan jamaah haji Embarkasi Padang sejak 2006 lalu. Jika musim haji tiba, dalam sehari setidaknya mereka menyediakan 700 paket nasi kotak. Belum lagi pesanan-pesanan lainnya.


Kepala Bidang Haji, Zakat dan Wakaf Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumbar, Japeri Jarab menyebutkan, pemilihan penyedia jasa katering haji melalui mekanisme tender ketat.

”Untuk katering kami tidak asal pilih. Ada banyak ketentuan harus dipenuhi. Misalnya soal gizi, termasuk kadar kolesterolnya. Sebab, jamaah haji rata-rata berusia di atas 50 tahun, makanya makanan harus selektif,” katanya. Keseluruhan prasyarat itu harus dipenuhi pihak katering


Keunggulan katering Bundo Kandung terlihat dari menunya. Tak hanya mengutamakan cita rasa, tetapi juga kandungan gizinya. ”Salah satu guru tata boga di sekolah kami bahkan sudah mengikuti pendidikan gizi di Australia,” katanya bangga. Sehingga, takaran dan kebutuhan gizi dalam makanan memang diatur sedemikian rupa sesuai kebutuhan.


Hal sama dilakukan di SMKN 6. Katering Cimpago yang mereka kelola tidak pernah kekurangan order. Mereka melayani pesanan acara-acara pertemuan, pesta, dan berbagai acara lainnya. Selain itu, juga menyediakan makanan hotel restorannya.


Dengan berbagai keunggulan itu, tidak lantas membuat minat pelajar Sumbar bersekolah di SMK. Itu pula yang membuat Raymond tidak habis pikir. ”Minat siswa masuk SMK masih terbilang rendah, apalagi bidang pariswata. Tamatan SMP lebih memilih SMA favorit sebagai pilihan pertama, SMA swasta, SMK bidang teknik dan ekonomi, baru pilihan terakhir SMK bidang pariwisata,” akunya. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA