Date Sabtu, 26 July 2014 | 08:04 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Nasional

Bukan Preman Tanah Abang

Raditya Priamanaya Djan, Pelanjut Bisnis Djan Faridz

Kamis, 12-01-2012 | 12:29 WIB | 1269 klik
Raditya Priamanaya Djan, Pelanjut Bisnis Djan Faridz

PENDIDIKAN SEJAK LAMA: Priamanaya Djan didekatkan di lingkungan bisnis oleh ayah

Pasar Tanah Abang yang dulu kumuh mampu diubahnya menjadi pusat grosir terbesar seAsia Tenggara dengan omzet Rp 15 miliar lebih per hari. Usahanya terus berkembang hingga sekarang menyasar bisnis batu bara dan pembangkit listrik mulut tambang.

SEJAK masih sekolah dasar (SD), Raditya Priamanaya Djan diajarkan cara bernegosiasi dan berkomunikasi dengan rekanan bisnis. Darah pengusaha yang mengalir dari kakek serta ayahnya sangat membentuk mental bisnisnya sekarang hingga bisa memimpin Priamanaya Group menjadi sukses.


”Dari kecil saya sering diajak ayah ketemu relasi untuk negosiasi, kontrol proyek, dan lain-lain, khususnya kalau Minggu. Ya, ngikut aja, ngekor. Ayah juga sering bawa berkas-berkas kantor untuk ditandatangani di rumah. Saya tahu betul bagaimana bisnisnya naik turun, kadang susah, nanti naik lagi,” ujar Pria saat ditemui di kantornya, Jl Talang, Jakarta.


CEO Priamanaya Group tersebut juga menyatakan sejak kecil diajari ketelatenan dan kesabaran oleh ayahnya, Djan Faridz. Waktu itu, ayahnya yang sekarang menjadi menteri perumahan rakyat (Menpera) hanya bisa membelikan mobil butut untuk melatih jiwa bisnisnya. ”Ayah saya kasih hobi baru, disuruh bangun mobil tua yang dia beli,” ungkapnya.


Mobil pertama yang diberikan saat dia SD adalah Chevrolet 1955 yang harganya Rp 5 juta. Kemudian, menginjak SMP, Pria dibelikan mobil Mercy 1972. ”Waktu itu nggak bisa nyetir. Tapi, mesti ngurusin mobil, beli spare parts, dan lain-lain. Yang tadinya 1–2 unit berkembang jadi belasan. Lama-lama jadi koleksi mobil tua, lantas yang bagus-bagus kita jualin,” tuturnya.


Namun, lama-kelamaan banyak juga koleksi mobil kunonya yang terjual karena kesibukannya saat ini. ”Dari situ saya paham, intinya saya dikasih pelajaran bahwa membangun bisnis itu harus sabar, belajar sesuatu yang jelek diperbaiki, kemudian dijual. Konsep bisnis seperti itu juga yang saya terapkan sekarang,” lanjutnya.


Dia sangat menghormati pelajaran-pelajaran yang diberikan ayahnya. Apalagi nama grup bisnis yang dimiliki ayahnya memakai nama dirinya. ”Ayah saya kasih nama PT (perseroan terbatas, red) pakai nama anak-anaknya semua. Karena saya anak nomor satu, jadi grup pakai nama saya. Priamanaya itu bahasa Sansekerta. Artinya matahari yang kucinta,” cetusnya.


Meski anak pemilik perusahaan, Pria mengawali karir dengan menjadi staf marketing. Saat itu, ayahnya baru menjalankan bisnis pembangunan pembangkit listrik di beberapa daerah. ”Awal-awal lulus kuliah masuk kerja menjadi staf marketing, kadang nemenin ayah ketemu orang PLN, melobi, dan kumpul temen-temennya,” kata dia.


Baru sekitar 2002–2003, Pria diserahi pekerjaan untuk membangun Pasar Tanah Abang yang kumuh agar menjadi pasar grosir yang modern. ”Saya yang membangun dan membenahi di situ. Learning by doing, aja. Tapi, ada direksi yang paham banget ilmu penjualan kios di Tanah Abang. Mereka mentor saya. Bahkan, dulu ada kelas khususnya,” ungkap Pria.


Membangun kembali Pasar Tanah Abang yang sempat terbakar bukanlah mudah. Kultur pedagang asli dan preman Tanah Abang yang dikenal berwatak keras harus dihadapinya. ”Situasi di Tanah Abang begitu keras. Itu akhirnya membentuk orang-orang di sana menjadi fighter semua. Saya harus bertemu dan berhadapan dengan mereka. Harus bisa negosiasi.”


Menurut dia, menjual kios kepada pedagang lama (sebelum kebakaran) tidak semudah menjual apartemen. Pasalnya, mereka adalah orang-orang yang sangat perhitungan dalam hal harga. ”Orangnya benar-benar kritis, karena terbiasa berhitung berdasar keuntungan. Mereka penguasa di Tanah Abang yang sudah puluhan tahun berada di situ sebelum kebakaran,” katanya.


Sekarang Priamanaya Group menjadi satu-satunya pengembang properti yang fokus di bidang pusat grosir. Ke depan Pria menyatakan akan membangun pasar serupa di daerah-daerah. Setelah berhasil membesarkan Tanah Abang menjadi pasar grosir terbesar se-Asia Tenggara, belakangan Pria juga masuk ke bisnis pertambangan batu bara.

Inovasi divisi perusahaan terus dilakukan, seperti membangun pembangkit listrik mulut tambang yang bisa langsung memproses batu bara menjadi listrik di lokasi. ”Itu kan added value (nilai tambah),” tuturnya.


Selain itu, Priamanaya Group memiliki bisnis bank perkreditan rakyat (BPR) yang memiliki spesialisasi memberikan pinjaman kepada para pedagang, khususnya di Tanah Abang. ”Kita memberikan kredit murah khusus pedagang Tanah Abang. Mungkin nanti cikal bakal juga. Kalau berkembang, bisa jadi bank umum,” jelasnya. (wir/jpnn)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA