Date Rabu, 30 July 2014 | 18:07 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Mita Habis Diborong Berdrum-drum

Rabu, 11-01-2012 | 11:50 WIB | 204 klik

Alai, Padek—Ada saja tingkah pemilik pangkalan minyak tanah sekarang. Tidak sekadar harga yang naik, pembeli pun tidak diizinkan melihat langsung pengisian minyak tanah ke jeriken warga.


Ketika mengisi minyak tanah pembeli, pemilik pangkalan menutup pintu gudang. Tak satu pun yang boleh masuk. Jeriken warga baru bisa diambil esoknya.


Hal itu dialami warga RT 1 RW 9, Kelurahan Alai Parak Kopi ketika membeli minyak tanah ke pangkalan dengan Nomor NIAP: 12 3 127.
“Aneh, kenapa pintunya harus ditutup. Kenapa pula harus menunggu sehari baru bisa dibawa pulang,” kata Nengsih, 52, warga sekitar pangkalan, Selasa (10/1).


Harga mita dijual Rp 3.500 seliter. Warga dibatasi membeli mita 10 liter per kepala keluarga (KK). “Saya sering perhatikan ketika tangki Pertamina datang, banyak mobil pick up yang antre mengisi berdrum-drum mita dan dibawa ke daerah lain. Itu biasanya dilakukan pada malam hari,” bebernya.


“Warga yang ingin membeli mita, sering pulang dengan tangan kosong karena pemilik pangkalan mengatakan minyak habis. Tidak mungkin rasanya minyak tanah 1.500 liter langsung habis dalam sehari,” ungkap istri Ketua RT 1 RW 9 itu.


Ia juga sering melihat minyak tanah bersubsidi itu dijual keliling kota dengan becak. “Wajar saja minyak tanah langsung habis kalau begitu,” ujar Neni, 54, warga RT 1 RW 9 lainnya.


Firdaus, adik pemilik pangkalan, yang disebut sering menjual mita dengan becak ketika dikonfirmasi, terkesan mengelak. Ia menampik tuduhan itu. “Tidak, saya tidak ada membeli minyak di sini (di pangkalan kakaknya, red). Tapi saya mencari minyak berkeliling di agen-agen lain,” tuturnya.


Dia membenarkan stok mita di pangkalan kakaknya habis karena jarang masuk. “Minyak terakhir masuk pangkalan sekitar sebulan lalu. Biasanya minyak tanah itu masuk 1 kali 20 hari. Tapi hingga sekarang belum masuk. Entah kapan masuknya lagi, saya tidak tahu. Biasanya minyak dijual di sini seharga Rp 300 per liter,” katanya.


Sementara itu, ketika akan dikonfirmasi, pemilik pangkalan tidak ada di rumah.
Menanggapi itu, Ketua Komisi IV DPRD, Azwar Siry berjanji memanggil pihak Pertamina untuk rapat dengar pendapat. “Kondisi itu sudah berlangsung cukup lama, tapi pihak Pertamina terkesan tidak peduli.

Tidak ada pengawasan ketat Pertamina dan pemerintah sehingga pemilik pangkalan leluasa bermain,” ujarnya. Humas Pertamina ketika dihubungi melalui nomor telepon genggamnya tidak aktif. (mg17)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA