Date Senin, 28 July 2014 | 23:25 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Jadi Tontonan di Tengah Kerumunan

Kisah Qorry Tegar Maulana, Korban Selamat Kecelakaan KA

Rabu, 11-01-2012 | 09:43 WIB | 1556 klik
Kisah Qorry Tegar Maulana, Korban Selamat Kecelakaan KA

MASIH DIRAWAT: Qorry Tegar Maulana, masih dirawat di ruang TC RSUP M Djamil, kem

Qorry Tegar Maulana, 14, korban terjatuh dari kereta api wisata Sibinuang, Minggu (8/1), masih terbaring lemah di Trauma Center (TC) RSUP M Djamil Padang. Di balik peristiwa itu, ada sosok “malaikat” membopong tubuhnya di antara ratusan mata yang “menonton” peristiwa itu. Seperti apa ceritanya?


Di ruangan TC berukuran 8x4 meter itu, Qorry Tegar Maulana tengah tertidur pulas didampingi ibunya Yusnieti, 46.
Tangan Tegar terpasang infus dan kepala diperban. Anak baru gede itu baru usai menjalani tindakan debridement (pembersihan luka, bila ada jaringan yang mati digunting dan disatukan kembali, red). Sedangkan paha kirinya, baru saja dioperasi plastik karena luka sobek.


Kepada Padang Ekspres, ibunya Yusnieti menceritakan di balik kecelakaan maut pada Minggu (8/1). Dalam kondisi terkapar tak berdaya di jalan, Tegar merasakan ada tangan “malaikat” yang menyelamatkannya.


Cukup lama Tegar tergeletak di jalan. Padahal, samar-samar dia melihat kerumunan orang. Ketika kejadian, ratusan warga hanya “menonton” penderitaan Tegar.


“Bukannya membantu, kerumunan orang malah memfoto-foto Tegar dan menonton,” ujar Yusnieti,
seperti yang diceritakan Tegar kepadanya.


Dalam sakit yang teramat sangat itu, tiba-tiba ada seorang lelaki muda membopongnya. Pemuda itu tidak peduli badannya bersimbah darah Tegar pada sore itu. Bersama rekannya, lelaki itu membawa Tegar ke Rumah Sakit Ibnu Sina Padang dengan motor.


“Padahal, di lokasi kejadian itu banyak orang yang hanya melihat penderitaan Tegar. Bahkan, Tegar sudah berusaha minta tolong dan menjerit kesakitan, tapi tidak ada yang membantunya,” tutur ibu empat anak itu kepada Padang Ekspres.


Sungguh pedih hati wanita berusia 46 tahun itu, mendengar cerita anaknya. Bencana bagi seseorang, tontonan bagi orang lain. Dia tidak habis pikir betapa kurangnya rasa kepedulian masyarakat terhadap sesama manusia yang mengalami musibah.


“Apa mereka tidak merasakan jika anggota keluarganya mengalami hal serupa, dibiarkan orang begitu saja, “ sesal Yusnieti.
Yusnieti mengatakan, pria berusia 25 tahun yang dianggap “malaikat” itu, telah datang membesuk Tegar.

“Dia sudah datang Senin (9/1) membesuk Tegar, tapi saya lupa namanya. Dia tinggal di Aurduri,” kata Yusnieti seraya mengucapkan terima kasih pada pemuda yang menolong anaknya. (mg6)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA