Date Kamis, 31 July 2014 | 20:30 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

LBH Padang dan Komnas HAM Lakukan Investigasi

Tim Mabes Temukan Kejanggalan

Selasa, 10-01-2012 | 09:39 WIB | 393 klik
Tim Mabes Temukan Kejanggalan

Kejanggalan

Padang, Padek—Investigasi tewasnya Faisal, 14, dan Busri M Zein, 17, dua kakak beradik di tahanan Polsek Sijunjung terus bergulir. Tim Mabes Polri terdiri dari jajaran Bareskrim, Puslapfor dan Puldolkes sudah berada di Sijunjung, sejak Jumat (6/1) lalu, mengumpulkan fakta-fakta.


Tim terdiri dari tiga instansi itu dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah tim dari Bareskrim. Tim ini secara khusus bertugas menyelidiki kembali kasus tersebut mulai dari awal guna mengungkap penyebab tewasnya dua orang tahanan itu.

Tim kedua terdiri dari seorang anggota Puslapfor dan seorang lagi dari Pusdolkes. Tim investigasi juga sudah meminta keterangan dokter yang melakukan otopsi kedua jenazah, menganalisa dan olah tempat kejadian peristiwa (TKP), serta kembali melakukan pemeriksaan labor. ”Masih proses awal, tapi sudah ada titik terang,” kata seorang perwira pemeriksa pada koran ini kemarin.


Meninggalnya kakak beradik itu diduga tidak wajar oleh keluarga. Versi Polsek Sijunjung, keduanya bunuh diri dengan gantung diri, namun keluarga menduga ada penganiayaan. ”Kami cek ulang TKP-nya, kita juga periksa petugas saat kejadian,” lanjutnya. Hasil pemeriksaan ini akan dilaporkan langsung ke Kabareskrim Polri dan Kadivpropam. Kasus ini mendapat atensi serius dari pimpinan Mabes Polri.


Kabid Humas Polda Sumbar, AKBP Mainar Sugianto menyebutkan, tim ini berada di Sumbar sampai mendapatkan bukti kuat terkait kematian dua orang tahanan itu. ”Kami hanya menunggu hasil dari tim Mabes tersebut. Apakah hasil tim memerintahkan untuk membuka kembali kasus itu atau tidak, masih kami tunggu,” ujarnya kepada Padang Ekspres, kemarin (9/1). Saat ini, tambah Mainar, tim Bareskrim masih melakukan penyidikan di Mapolsek dan Mapolres Sijunjung. Sedangkan tim kedua sudah kembali ke Jakarta.


Di sisi lain, Kabid Penum Mabes Polri, Kombes Pol Boy Rafli Amar menyebutkan, penyidikan tim Mabes diarahkan pada kelalaian anggota yang tidak mengetahui tahanan tewas. ”Terkait indikasi kelalaian tersebut, Mabes menyerahkan proses hukumnya ke Mapolda Sumbar,” terang Boy pada Padang Ekpsres.


Temukan Kejanggalan
Secara terpisah, Koordinator Divisi Hukum LBH Padang Roni Saputra menilai langkah Mabes Polri menyelidiki kasus ini patut diapresiasi. ”Ini langkah maju karena penjelasan dari Polda Sumatera Barat selalu tidak jelas,” katanya kemarin.


Menurut Roni, selama ini pihak keluarga tidak pernah dipanggil untuk dimintai keterangan. Bahkan, Polda Sumbar telah menyatakan menghentikan kasus ini. ”Kami temukan fakta-fakta yang menunjukkan kejanggalan,” kata Roni. Keluarga dan LBH Padang sudah menemui dokter di RSUP M Djamil yang mengotopsi kedua jenazah. ”Dari dokter Rika disebutkan surat otopsi baru diberikan ke Polres Sijunjung pada 4 Januari, tapi Polda sudah berani merilis 2 Januari keduanya bunuh diri,” katanya.


Di surat itu, lanjut Roni, juga tidak disebutkan alasan keduanya meninggal. ”Dokter tidak menyebutkan keduanya dibunuh atau bunuh diri. Hanya disebutkan ada bekas jeratan di leher,” katanya. Dokter juga menemukan bekas-bekas luka pada keduanya yang diperkirakan terjadi sebelum meninggal. ”Pernyataan ini berbeda dengan versi dari polisi,” kata Roni. Kapolda Sumatera Barat juga belum memberikan keterangan langsung pada pengacara dari LBH Padang maupun pihak keluarga. ”Harapan kami tinggal tim Mabes itu,” katanya.


Kejanggalan lain yang ditemukan LBH juga pada sarana yang dipakai bunuh diri. Versi polisi, keduanya menggantung menggunakan seragam tahanan berlengan panjang. ”Tapi kami cek, tidak ada pakaian tahanan yang lengan panjang dan memang dilarang memakai baju panjang dan celana panjang,” ujar Roni.


Polisi juga enggan memperlihatkan TKP keduanya gantung diri. Bahkan, foto pun tidak ada. Polisi juga tidak memberitahukan kejadian itu langsung pada keluarga. ”Pada saat kejadian tentunya ada petugas piket. Nah, ini yang kita pertanyakan, mengapa petugas membiarkan kalau keduanya hendak bunuh diri,” katanya.


Besok (11/1), pihak keluarga dan LBH Padang akan menemui Kabareskrim Komjen Sutarman untuk meminta bantuan keadilan. Mereka juga akan melapor resmi pada Komnas HAM. ”Keduanya masih anak-anak saat ditangkap. Hingga sekarang juga tidak ada surat penangkapan maupun surat penahanan,” katanya. Secara terpisah, Kadivhumas Polri Irjen Saud Usman Nasution mengaku belum mengetahui perkembangan kasus Sijunjung. ”Coba ditanyakan ke Polda Sumbar,” katanya.


Anggota Komisi III DPR, Martin Hutabarat menilai aneh perihal meninggalnya kedua kakak beradik itu. ”Kalau bunuh diri, dari mana anak kecil itu mendapat alat untuk bunuh diri?” kata Martin, Senin (9/1), di Jakarta. Martin tambah heran ketika Kapolda Sumbar menyatakan korban tewas bunuh diri, sedangkan hasil visum menunjukkan ada tindak kekerasan di tubuh kedua jenazah.

”Hasil visum ada patah tulang dan sebagainya. Hasil visum itu keluar setelah dua hari Kapolda mengumumkan bunuh diri,” jelas anggota Dewan Pembina Partai Gerindra itu.


Turunkan Tim
Tim penyidikan gabungan LBH Padang dan Komnas HAM Sumbar, hari ini (10/1), dijadwalkan memulai penyidikan. Menurut rencana, tim ini kembali mendatangi Mapolsek dan Mapolres Sijunjung guna meminta langsung hasil otopsi dari penyidik Sijunjung.

”LBH dan Komnas HAM juga akan kembali melakukan kroscek pada keluarga korban,” ungkap staf Divisi Pembaruan Hukum dan Peradilan LBH Padang, Dedi Alfaresi kepada Padang Ekspres, kemarin (9/1). Kesimpulan sementara LBH dan Komnas HAM, sebut Dedi, tetap menyatakan bahwa tahanan kakak beradik itu meninggal duluan dan kemudian digantung.


Sekadar diketahui, indikasi kekerasan itu diketahui orangtua kedua tersangka saat diperiksa di Mapolsek Sijunjung. Dalam pertemuan singkat, Faisal meminta ibunya segera pulang agar tidak melihat dirinya dipukuli polisi.


Saat akan dikuburkan, pihak keluarga melihat kepala kedua jenazah lebam, telinga kiri dan kanan hijau, hidung mengeluarkan darah, leher merah, kedua jempol kaki pecah, kedua pangkal paha lebam, sekujur tubuh memar, rahang patah, gigi rontok dan kaki kiri di bawah lutut ada bekas sayatan, tangan sebelah kanan patah menggembung.


Dua anak di bawah umur itu ditahan karena diduga melakukan pencurian kotak amal dan pencurian sepeda motor tersebut, mendekam dalam sel Mapolsek Sijunjung dari tanggal 21 Desember 2011. Mereka diketahui meninggal oleh pihak keluarga hari Rabu, tanggal 23 Desember 2011, dari pengakuan polisi keduanya meninggal murni bunuh diri. (jpnn/kd)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA