Date Selasa, 29 July 2014 | 09:35 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Malin Kundang yang tanpa Klimaks

Parade Naskah Teater Wisran Hadi

Selasa, 15-11-2011 | 12:27 WIB | 607 klik
Parade Naskah Teater Wisran Hadi

MENANG DI 1977: Adegan dalam naskah Malin Kundang yang dipentaskan Teater Imaji

Berbagai tafsir bisa saja muncul dari Malin Kundang, sosok melegenda di Minangkabau. Seperti dalam naskah teater yang ditulis Wisran Hadi, tentang tafsir kerinduan Malin Kundang pada sosok ayahnya. Naskah ini dipentaskan Teater Imaji dengan sutradara Muhammad Ibrahim Ilyas di Teater Utama Taman Budaya Sumbar, Senin (14/11) sore.

CERITA dimulai dengan pembacaan puisi terakhir dari seorang penyair yang kemudian berlaku seperti janang dalam randai. Penyair inilah yang menentukan lakon dan cerita Malin Kundang di atas panggung. Lalu mengalirlah cerita dalam dialog-dialog yang puitik antara perempuan dan laki-laki. Dia bisa saja ibu, ayah, Malin Kundang, atau istri Malin Kundang.


Penghadiran cerita serupa konsep randai ini, kata Muhammad Ibrahim Ilyas, sebagai pilihan untuk mengakali bagaimana naskah tersebut bisa dipentaskan secara utuh. Sebab, diakuinya, naskah Malin Kundang berat diusung ke atas panggung.


Di samping harus meliarkan imajinasi, naskah ini juga sangat sastrawi, dengan dialog-dialog puitik yang sulit terpemanai.
“Sebenarnya dengan tutup mata saja naskah ini sudah selesai dan dapat,” kata salah seorang penonton yang enggan disebut namanya.


Tentang tempo permainan, pementasan ini cenderung bergerak datar tanpa klimaks. Seharusnya ketika pencariannya pada sosok ayah tidak pernah ditemukan itu, Malin Kundang sudah sampai pada klimaks, namun itu tidak terjadi.


Sebelumnya, pada Minggu (13/11) malam, Teater Kamus mementaskan Matrilini. Pementasan yang pada bagian awal cukup atraktif dengan penampilan breakdance sebagai permainan anak nagari dalam pesta perkawinan Matrilini itu, juga belum mampu mengakali kenakalan-kenakalan Wisran. Sebab, setelahnya tetap saja monoton.


Pementasan Senin (14/11) malam ditutup dengan Perantau Pulau Puti oleh Old Track Teater Padang, garapan sutradara Rizal Tanjung. Kemudian hari ini (15/11), dibuka dengan pementasan Uji Coba oleh Ranah Teater sutradara S Metron M, pukul 16.00 WIB.


Kemudian, dilanjutkan dengan Kemerdekaan oleh Teater Kuflet Padangpanjang, sutradara Sulaiman Junet, pada pukul 20.00 di Teater Utama Taman Budaya Sumbar. (no)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA