Date Rabu, 23 July 2014 | 17:00 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Peristiwa

Punya Bendungan 75 Tahun, Tetap jadi Lumbung Beras

Sungaibaringin, Nagari Pertama yang Disentuh Teknologi Pertanian

Senin, 14-11-2011 | 13:12 WIB | 309 klik
Sungaibaringin, Nagari Pertama yang Disentuh Teknologi Pertanian

Bahcril Baheram

Nagari Sungaibaringin bisa jadi merupakan nagari paling awal di Sumbar yang mengenal teknologi pertanian, setelah kampung-kampung di sekitar aliran sungai Batanghari, Kabupaten Dharmasraya. Tidak heran, bila dari dulu sampai sekarang, Sungaibaringin selalu menjadi lumbung beras, walau pasokan pupuk buat petaninya sering kurang.

Antara petani di Nagari Sungaibaringin dengan petani nagari lain di Kabupaten Limapuluh Kota, sejatinya tidak jauh berbeda. Hanya saja, petani di Sungaibaringin sepertinya lebih duluan berkenalan dengan teknologi pertanian, ketimbang petani di nagari lain.


Ya, walau para petani di Sungaibaringin tidak banyak (bahkan nyaris tidak ada) yang mengecap pendidikan khusus teknologi pertanian, terutama teknik air dan tanah, tapi mereka sudah 75 tahun lebih, mengenal sesuatu yang sekarang disebut irigasi, pengawetan, dan pelestarian sumber daya air maupun tanah.


Bila Anda tidak percaya, sekali-sekali, datanglah ke Jorong Lareh Nan Panjang di Nagari Sungaibaringin, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota. Di jorong tersebut, mengalir sebuah sungai bernama Batang Lamposi. Airnya memang tidak sejernih puluhan tahun silam, namun di sungai itu terdapat bendungan ‘raksasa’ pada zamannya.


”Bendungan Batang Lamposi dibangun pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1936. Barangkali, termasuk bendungan tua yang masih terjaga keutuhannya di Sumbar,” ujar Wali Nagari Sungaibaringin, H Bahcril Baheram, 65, ketika ditemui tim Jelajah Nagari Padang Ekspres, pekan lalu.


Perlu diketahui, bendungan Batang Lamposi sebagaimana dijelaskan Bachril Baheram, mampu mengairi belasan ribu hektare areal pertanian. Tidak hanya di Nagari Sungabaringin, tetapi sampai ke Nagari Piobang, Nagari Koto Baru Simalangang, bahkan Nagari Koto Nan Ompek dan Koto Nan Gadang di Kota Payakumbuh.


Dengan keberadaan bendungan itupula, Nagari Sungaibaringin sejak dulu kala sampai sekarang, bisa menjadi salah-satu lumbung beras di Sumbar. Tapi belakangan, luas areal pertanian di nagari ini mulai berkurang, tinggal sepertiga wilayah saja atau sekitar 350 hektare.


”Padi tetap menjadi komoditi unggulan Sungabaringin. Hanya saja, kendala untuk pertanian padi adalah pupuk. Walau harganya sudah sesuai dengan harga eceran tertinggi, tetapi pupuk bersubdisi susah didapatkan petani. Kuota kebutuhan pupuk, tidak terpenuhi. Butuh perhatian serius Dinas Pertanian Sumbar maupun Limapuluh Kota,” kata Bahcril.


Kakao Juga Primadona
Nagari Sungaibaringin, sekarang memiliki luas 968 hektare. Penduduknya mencapai 2.708 jiwa. Mereka tersebar pada empat jorong, yakni Tanjuangmonti, Guguak, Kototangah, dan Lareh Nan Panjang. Masing-masing jorong dipimpin seorang kepala jorong, sebagai perpanjangan tangan wali nagari.


Kepala Jorong Tanjuangmonti ialah Yendrianto, Kepala Jorong Guguak Dasmal, Kepala Jorong Kototangah Khaiya Sabrul, dan Kepala Jorong Lurah Nan Panjang Husni R. Mereka, selalu membantu tugas Bachril Baheram sebagai wali nagari yang selalu memberi pelayanan prima terhadap masyarakat.


Selain dibantu empat kepala jorong, Bachril yang sudah dua periode menjabat sebagai Wali Nagari Sungaibaringin, dibantu Seknag Yurma Dewi, Kaur Pembangunan N Datuak Paduko Alam, Kaur Pemerintahan Yonfikri, Kaur Keuangan Dian Kurnia dan staf nagari S Datuak Bandaro Sati.


Bersama mereka, Bachril selalu berkoordinasi dengan Ketua KAN N Datuak Bangso Dirajo, Ketua Bamus FZ Datuak Sinaro nan Babudi, Ketua LPM W Datuak Kayo, serta para pemuka masyarakat, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, dan generasi muda.


Dengan kondisi wilayah yang luas dan subur, Nagari Sungaibaringin memiliki potensi besar di bidang perkebunan. Komoditi unggulan perkebunan adalah kakao. Setiap kepala keluarga di Sungaibaringin, paling sedikit memiliki kakao 20 batang. Bila ditotal, hasil kakao Sungaibaringin mencapai 2 ton pertahun.


Kakao benar-benar mampu mengangkat pendapatan rata-rata perkapita masyarakatnya. Sementara pada bidang kehutanan, Sungaibaringin memiliki potensi hutan rakyat seluas 100 hektare, dengan tanaman berupa karet, mahoni, dan jati. Melalui program GNRHL, nagari ini pernah meraih gelar terbaik dua, lomba pelestarian lingkungan tingkat Sumbar 2009.


Sekelindan dengan pertanian, perkebunan dan kehutanan, Nagari Sungaibaringin punya prospek cerah di bidang peternakan. Khusus peternakan sapi, kerbau dan kambing, pola yang digunakan masih tradisional. “Kita berharap, pemerintah provinsi dapat memberi perhatian, dengan meluncurkan program satu petani-satu sapi,” harap Bachril.


Sementara, untuk peternakan ayam, Sungaibaringin terbilang maju dalam usaha ayam petelur. Total ayam petelur di nagari ini, mencapai 100 ribu ekor. “Peternakan ayam merupakan salah satu pilar ekonomi di nagari kami. Usaha peternakan, telah membuka lapangan kerja bagi 100 orang anak nagari,” ulas Bachril.


Perekonomian rakyat Sungaibaringin juga ditupang dari hasil home industri, berupa pembuatan kerupuk tempe dan kripik. Disamping itu, pada salah satu kawasan, terdapat pula usaha pembuatan gula merah. Namun bedanya, gula merah tidak dihasilkan dari nira atau aren, tetapi dari pohon kelapa.


Incaran Wisatawan
Nagari Sungaibaringin memiliki 2 lembaga PAUD, 1 TK, dan 3 SD penunjang pendidikan. Sedangkan untuk kesehatan, Sungaibaringin punya 4 Posyandu, 1 Poskesri dan 1 Puskemas pembantu yang memberi pelayanan medis, termasuk pelayanan Jamkesmas, Jamkesda, maupun Jamkesnag.


Sungaibaringin juga kerap menjadi daerah tujuan wisata di Sumbar, terutama wisata budaya. Ini tentu tidak terlepas dari kehadiran Rumah Gadang Sungaibaringin, milik keluarga pengusaha almarhum Nasrul Chas. Sampai sekarang, Rumah Gadang Sungaibaringin masih terjaga keasriannya.


Ribuan wisatawan, baik lokal maupun mancenagara telah datang untuk melihat keindahan rumah ghadang ini. Saat Ustano Basa Pagaruyuang dan Ustano Silinduang Bulan di Kabupaten Tanahdatar, masih dalam proses renovasi. Maka Rumah Gadang Sungaibaringin, menjadi tempat wisata alternatif di Sumbar.


Sayang, kendati kerap menjadi tujuan wisatawan, namun beberapa ruas jalan di Sungaibaringin, dilaporkan mulai berlobang. Untuk itu, Bachril Baheram mewakili anak nagari, berharap Dinas PU menganggarkan dana perbaikan pada tahun 2012.
Perbaikan juga mendesak dilakukan untuk sejumlah jalan lingkung.


“Jalan lingkung di Sungaibaringin memang sudah banyak yang bagus, karena dibangun dengan menggunakan dana PNPM-MP. Walau demikian, beberapa ruas jalan lingkung masih ada yang terbengkalai dan perlu diaspal,” sebut Bachril.


Menyinggung soal upaya pengentaskan kemiskinan, Bachril menyebut, pemerintah telah memberi perhatian cukup serius untuk Sungaibaringin. Itu dibuktikan pada tahun 2009. Dimana, sebanyak 50 unit rumah warga miskin yang tidak layak huni, telah direhab oleh Kemenpera.


”Walau demikian, perhatian pemerintah untuk pengentaskan kemiskinan, tetap kita butuhkan. Salah satu yang kita harapkan, berupa pembangunan sarana dan prasarana penunjang ekonomi kerakyatan,” ulas Bahcril. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA