Date Jumat, 1 August 2014 | 10:43 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Pakai Media Gambar agar tak Bosan

Kiat Mengajar Bahasa Inggris dengan Mudah

Sabtu, 12-11-2011 | 16:08 WIB | 2483 klik
Kiat Mengajar Bahasa Inggris dengan Mudah

Suyetmi

Sebagian besar siswa merasa berat belajar bahasa Inggris. Itu diakui para guru di sekolah, yang menilai siswa sulit memahami bahasa Inggris dengan baik. Karena itu, diperlukan cara efisien untuk membantu siswa agar dapat memahami bahasa internasional ini dengan baik.


Suyetmi, 47, guru bahasa Inggris di SMPN 3 Padangsibusuk, Kecamatan Kupitan, Kabupaten Sijunjung mempunyai kiat tersendiri memecahkan persoalan tersebut. Salah satunya, dengan menerapkan metode ”Belajar Bahasa Inggris melalui Ten Secret Papers Game”.


Metode ini menggunakan media gambar yang familiar dengan pelajar SMP, seperti motor, handphone, laptop, VCD dan sebagainya. Ternyata cara ini membuat siswa senang dan semangat untuk belajar. Mereka mulai senang karena pembelajaran diawali dengan game.


Sebelum mengajar Bahasa Inggris, Suyetmi, meminta sepuluh orang anak tampil ke depan kelas, mengomentari sepuluh gambar pilihan dengan menggunakan Bahasa Inggris. Pola dan teknis mengajar seperti ini kemudian membawa Suyetmi ke tingkat nasional dan meraih peringkat pertama dalam ajang karya tulis ilmiah best practice.


”Saya memberikan kesempatan kepada sepuluh orang anak untuk melakukan tanya jawab yang mencakup sepuluh pertanyaan. Kegiatan ini dilakukan selama sepuluh menit menjelang mulai pembelajaran, dan setiap kali tatap muka,” ulas ibu dua anak ini.


Suyetmi terpilih sebagai perwakilan Kabupaten Sijunjung kategori kelompok SMP atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran (PGMT) dalam lomba menulis karya ilmiah tentang pengalaman dalam mengajar di Kota Bandung, 12-15 September kemarin. Sebanyak 75 kabupaten dan kota di Indonesia bersaing dalam ajang bergengsi tingkat guru itu.


”Saya menulis pengalaman mengajar dengan metode tersbeut. Itu asli tulisan saya sendiri, berdasarkan pengalaman dalam mengajar. Ternyata juri sangat tertarik dengan tulisan itu,” ujar perempuan kelahiran Silungkang, 24 Juni 1964 ini.


Tulisan Suyetmi terpilih sebagai juara 1 nasional kategori PGMP. Dia sangat bersyukur, usahanya membantu anak didiknya memahami Bahasa Inggris membuahkan hasil besar. Suyetmi menjelaskan, ada beberapa hal yang menghambat keinginan para siswa untuk belajar Bahasa Inggris.


Pertama, persepsi keliru menganggap Bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu (mother tongue) sehingga tidak perlu harus menguasainya. Kedua, kurangnya penekanan penggunaan Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Bahasa Inggris bagaikan air di atas daun talas. Sekarang belajar, besok lupa.


Ketiga, lingkungan yang kurang mendukung dalam penguasaan Bahasa Inggris. Jarang di suatu sekolah atau masyarakat terjadi pembicaraan yang ”ngaco” dalam bahasa campuran (sebagian Inggris, sebagian Indonesia, sebagian daerah) antarsiswa. ”Padahal, ini merupakan salah satu cara termudah untuk membiasakan penggunaan Bahasa Inggris dalam penerapan kehidupan sehari-hari. Tidak terasa tapi pasti penguasaan kosa kata akan bertambah setiap harinya,” tuturnya.


Suyetmi menjelaskan, seorang guru dituntut untuk dapat memberikan penyampaian yang baik dan benar mengajar Bahasa Inggris agar mudah dipahami siswa. ”Siswa lebih menyukai gambar daripada tulisan, apalagi jika gambar dibuat dan disajikan dalam bentuk yang menarik. Ini akan menambah semangat siswa mengikuti proses pembelajaran,” ulasnya.


Fungsi utama dari media pembelajaran, jelas Suyetmi, sebagai alat bantu mengajar yang dipergunakan guru. Salah satunya, fungsi edukatif; artinya mendidik dan memberikan pengaruh positif pada pendidikan. Kemampuan berbahasa Inggris masyarakat Sumbar oleh sebagian kalangan dinilai rendah dibanding daerah-daerah lain di Indonesia.

Apalagi dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN, terasa semakin mencolok. Rendahnya kemampuan berbahasa Inggris itu, membuat daya saing pencari kerja asal Sumbar kalah di pasar kerja. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA