Date Selasa, 29 July 2014 | 17:43 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Pemerintahan

Andalkan Kerupuk Merah, Butuh 800 Ton Ubi per Bulan

Koto Tangah Batu Ampa, Nagari Seribu Potensi

Jumat, 04-11-2011 | 13:44 WIB | 828 klik
Koto Tangah Batu Ampa, Nagari Seribu Potensi

SERIBU POTENSI:Seorang pekerja sedang menjemur kerupuk merah di Piladang, Nagari

Nagari Koto Tangah Batu Ampa, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Limapuluh Kota, merupakan nagari seribu potensi di Sumbar. Nagari ini tidak hanya memiliki industri kerupuk merah yang menampung 300 tenaga kerja, tetapi juga mempunyai usaha pengolahan ubi kayu yang menjadi tumpuan hidup bagi 500 warga.


”Industri kerupuk merah dan pengolaan ubi kayu yang dilakukan 192 kepala keluarga, tidak hanya menjadi kebanggaan bagi nagari kami, tetapi juga meningkatkan taraf perekonomian masyarakat,” kata Wali Nagari Koto Tangah Batu Ampa Ahmad Wajdi Datuak Bongsu Nan Elok kepada Padang Ekspres, pekan lalu.


Ia menjelaskan, industri kerupuk merah yang dikelola 25 perusahaan di Koto Tangah Batu Ampa, merupakan industri nan multiplier effect atau membawa dampak ekonomi sangat besar. Industri ini tidak hanya membutuhkan sekitar 300 tenaga kerja, tetapi juga menampung 450 ton ubi kayu setiap bulannya.


“Bayangkan, berapa dampak ekonomi dari industri kerupuk merah yang ada di Koto Tangah Batu Ampa. Begitupula dari indusri pengolaan ubi kayu menjadi kerupuk kuning, rubik dan kerupuk ubi. Industri pengolaan ubi ini juga pula ubi kayu 350 ton per bulan,” kata Ahmad Wajdi.


Dengan demikian, sambung wali nagari kelahiran 14 Januari 1963 ini, setiap bulannya Nagari Koto Tangah Batu Ampa, membutuhkan ubi kayu sebanyak 800 ton. Kebutuhan itu nampaknya tidak tertutupi dengan hasil pertanian Limapuluh Kota, sehingga kerap didatangkan dari berbagai daerah di Sumbar.


Kendati usaha pembuatan kerupuk merah dan pengolaan ubi kayu memberi dampak luas, namun para pelaku usaha ekonomi kerakyatan tersebut, tetap membutuhkan perhatian dari pemerintah maupun pihak swasta. Sehingga, kedua usaha bisa melebar, tidak hanya di Sumbar, tapi sampai ke Riau, Jambi, maupun Kepri.


“Kita di nagari sudah berupaya untuk melakukan pembinaan berkelanjutan dan memfasilitasi para pelaku usaha kerupuk merah maupun pengolan ubi kayu. Tapi upaya itu saja tentu belum cukup. Dibutuhkan pula sentuhan dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, perusahan daerah, dan perbankan,” ulas Ahmad Wajdi.


Sentuhan yang dimaksud Ahmad Wajdi, tentu saja berupa permodalan, pemasaran dan teknis pengemasan (packiging). “Khusus teknis pengemasan dan pemasaran, kita berharap sangat Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Perusda Gonjong Limo turun tangan,” ujarnya.


Bejibun Potensi
Nagari Koto Tangah Batu Hampa memiliki luas 2.222 hektare. Penduduknya mencapai 8.008, tersebar pada 6 jorong. Masing-masing jorong dipimpin oleh seorang kepala jorong sebagai perpanjangtangan wali nagari. Selain kepala jorong, terdapat lembaga seperti Bamus, KAN, dan LPM.


Keenam jorong di Koto Tangah Batu Hampa, Jorong Piladang dipimpin Syafri Rafiin, Jorong Sungaicubadak dipimpin Erizal St Kayo, Jorong Kototangah dipimpin Hasril, Jorong Batutanyuah dipimpin Masrizal, Jorong Tambunijuak dipimpin Tarmizi, dan Jorong Subarangparik dipimpin Z Dt Mantiko Alam.


Dalam melaksanakan tugas, wali nagari dan enam kepala jorong, diperkuat oleh Sekretaris Nagari Koto Tangah Batu Ampa Yelsi Eka Putri, Kaur Pembangunan Iswardi, Kaur Pemerintahan Deswita, Kaur ADM Elfiani dan staf nagari Z Datuak Sipado.


Mereka, selalu berkordinasi dengan Ketua Bamus Meta Rosadina, Ketua KAN Hasnar Datuak Paduko Sindo, dan Ketua LPM Ja’far Djalil. Dengan kordinasi itu, segala persoalan dapat diselesaikan secara kebersamaan. Segala potensi nagari juga dapat tergali.


Ya, Koto Tangah Batu Hampa memang memendam potensi. Selain industri rumah tangga tadi, nagari ini juga punya potensi pertanian dan perkebunan. Areal pertanian ubi saja luasnya mencapai 117 hektare. Sedanghkan padi 1.032 hektare dan jagung 9,75 hektare.


Hanya saja, seperti nagari lain, kebutuhan pupuk untuk Koto Tangah Batu Hampa belum terpenuhi. Permintaan wali nagari kepada dinas terkait, agar dapat memenuhi kuota pupuk buat nagari mereka. Sebab, dengan kurangnya kuota pupuk, petani tidak bisa mengolah atau menambah lahan pertanian.


Di luar pertanian, Koto Tangah Batu Hampa memiliki potensi pendidikan. Di nagari ini, terdapat 6 unit TK, 6 unit SD, 1 unit SMP, 1 unit MTS, dan 1 unit SMA. Khusus untuk salah satu TK, yakni TK Aisyah, menjangkau tiga kabupaten, Limapuluh Kota, Tanahdatar dan Agam.


“Murid TK Aisyah Koto Tangah Batu Ampa ini mencapai 125 orang tiap tahunnya. Mereka datang dari tiga daerah. Untuk menjemput para murid, pihak pengelolah memiliki 5 unit mobil. Sedangkan tenaga pengajar 14 orang, dimana 2 orang adalah PNS,” ujar Farid Wajdi.


Pada bidang kesehatan, Koto Tangah Batu Ampa memiliki pelayanan cukup bagus. Selain punya Puskesmas yang dilengkapi 2 dokter, di nagari ini juga terdapat tempat praktik dokter. Setiap jorong juga dilengkapi dengan 2 puskesmas pembantu dan 6 Puksesmas nagari.


“Untuk penggunaan sarana Jamkesmas di Koto Tangah Batu Hampa, telah dinikmati 390 kepala keluarga. Sedangkan Jamesada 110 keluarga dan Jamkesnag 60 keluarga. Khusus Jamkesnag ini, kami merupakan nagari kedua yang melaksanakannya di Limapuluh Kota,” urai Ahmad.


Kendati maju pesat di bidang pendidikan, kesehatan, indusri kecil dan menengah, Koto Tangah Batu Ampa untuk bidang pertanian, membutuhkan perhatian dari pemerintah. “Perhatian utama adalah irigasi. Di sini terdapat 20 jaringan irigasi yang perlu dibangun kembali,” ucapnya.


Menyinggung soal pembangunan prioritas, Pemnag Koto Tangah Batu Ampa yang memiliki fasilitas perkantoran rapi dan bersih, berencana untuk mendirikan Bank Nagari. Untuk itu, mereka berharap para perantau yang tersebar di berbagai penjuru nusantara, mau menanamkan modal.


Terakhir, Ahmad Wajdi yang memiliki perpustakaan rapi di ruang kerjanya, berharap pemerintah daerah, memprioritaskan Koto Tangah Batu Ampa dalam segala bidang. Sebab setiap tahun, nagari ini menyumbangkan Pajak Bumi dan Bangunan kepada negara sebesar Rp125 juta. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA