Date Kamis, 24 July 2014 | 19:25 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Ekonomi Bisnis

Garap Dulu Kakao, Baru Hidupkan Bandara

Piobang, Nagari Sentra Kakao di Sumbar

Selasa, 01-11-2011 | 13:02 WIB | 473 klik

Terkenal sejak abad ke-18, lewat tokoh pembaruan Islam Haji Piobang, nagari seluas 3.411 hektare itu, dalam tiga tahun terakhir, ditasbihkan sebagai sentra kakao di Sumbar. Pemerintah nagarinya pun fokus mewujudkan standar budidaya dan pabrik pengolaan kakao. Inilah, catatan kecil tentang Nagari Piobang!


PULUHAN pria dan wanita mengenakan kaos putih-biru, foto bareng dengan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dan Bupati Limapuluh Kota Alis Marajo di Pusat Studi Agribisnis, Jorong Gando, Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota, Kamis (29/9) lalu.


Pria dan wanita yang berfoto itu, bukanlah warga biasa. Mereka adalah petani sukses dan orang-orang yang peduli dengan persoalan sekaligus masa depan perkebunan kakao. Mereka, foto bersama dengan gubernur dan bupati, setelah mendeklarasikan hadirnya Himpunan Petani Kakao Indonesia (Hipkindo).


Hipkindo merupakan satu-satunya himpunan petani kakao di Nusantara yang dideklarasikan dari kampung kecil sekelas Piobang. Kenapa memilih deklarasi di Piobang? Selain kepedulian terhadap perkebunan kakao dan keberadaan Pusat Studi Agribisnis, tentu saja karena Piobang merupakan sentral kakao.


Ya, di nagari yang dihuni 3.605 jiwa penduduk, tersebar di Jorong Gando, Piobang dan Jorong Ampang ini, perkebunan kakao memang menjadi primadona. ”Sekarang saja, terdapat sekitar 200 ribu batang kakao yang berproduksi di nagari kami,” ujar Wali Nagari Piobang Prima Agni, 44, pekan lalu.


Sarjana hukum jebolan UMSB Bukittinggi itu mengatakan, potensi kakao yang begitu besar, membuat pemerintah nagari bersama Ketua Bamus PI Datuak Pandak, Ketua KAN A Datuak Rajo Baguno, dan Ketua LPM Benyamin, semakin tertantang menjadikan Piobang sebagai sentra kakao di Sumbar.


Untuk menjadi sentra kakao tersebut, sebut Prima, Piobang tidak hanya membutuhkan perluasan areal penanaman. Tapi paling penting lagi, mempersiapkan standar budidaya kakao yang lebih baik, mendorong hadirnya pabrik pengolaan, dan keterpaduan dengan program lain, terutama dengan program peternakan seperti satu petani-satu sapi.


”Kini, semua program itu, sudah menjadi menjadi rencana jangka panjang pemerintah Nagari Piobang, disamping rencana lain yang berkaitan dengan pelayanan publik,” ujar Prima didampingi Sekretaris Nagari Elma Juwita, Kaur Pembangunan Novi Darmawan, Kaur Pemerintahan Emi Rumdiati, dan Kaur ADM Nova Wahyuni.


Bangun Ekonomi Rakyat
Selain fokus mewujudkan standar budidaya dan pabrik pengolaan kakao, Pemnag Piobang terbilang serius membangun ekonomi kerakyatan. Ini dilakukan karena Prima Agni sangat yakin, kalau perut rakyat masih lapar, maka omong-kosong program pemerintah akan berjalan.


”Jangan harap program pemerintah akan berjalan, sementara perut rakyat masih lapar. Makanya, kita fokus bangun ekonomi kerakyatan. Dengan ekonomi, petani bisa sekolahkan anak tinggi-tinggi. Dengan ekonomi, nanti bandara Piobang baru bisa dihidupkan lagi,” ujar Prima.


Bandara? Ya, sejak zaman bahoela, Piobang terkenal punya bandar udara. Konon, sewaktu Presiden Soekarno berkunjung ke Padangjopang, menemui dua ulama bersaudara, Syekh Abbas Abdullah dan Syekh Mustafa Abdullah, pesawat yang ditumpanginya mendarat dulu di Piobang.


Kini, Bandara Piobang itu terlupakan begitu saja. Pemprov Sumbar dan Pemkab Limapuluh Kota, dulu pernah menggelar studi kelayakan, soal pembangunan kembali Bandara Piobang. Tapi studi terkesan hanya sebatas angin surga. Bandara itu pun, tetap tak bisa diberdayakan sampai sekarang.


Maka jangan bilang Pemnag Piobang tidak begitu antusias soal Bandara. Menurut Prima, Bandara baru bisa difungsikan kembali, apabila potensi perkebunan kakao, gambir, dan tanaman holtikultura lain, sudah memberi hasil terbaik. ”Kalau potensi perkebunan dan pertanian sudah tergarap, baru kita hidupkan Bandara Piobang di gerbang Timur Sumatera,” katanya.


Kembali soal semangat menjadikan Piobang sebagai sentra kakao di Provinsi Sumbar, Prima mengakui, pihaknya sedikit terkendala dengan kebiasaan petani. Sebagian petani, sebut wali nagari yang cerdas ini, masih membudidayakan kakao dengan pola tradisional atau belum memahami teknik budidaya yang baik.


”Petani belum banyak mengerti soal teknik fermentasi. Padahal, harga kakao fermentasi lebih mahal sekitar Rp4ribu dari kakao yang diolah dengan cara tradisional. Bayangkan, betapa banyak uang yang hilang, sebab satu musim panen kakao dari Piobang mencapai 100 ton,” ujar Prima.


Walau terkendala, Prima tidak patah semangat. Ia tetap optimis, mewujudkan Piobang sebagai sentra kakao di Sumbar. Dia berharap, cita-cita rang Piobang, dapat didukung penuh Pemprov Sumbar, Pemkab Limapuluh Kota dan DPRD. (***)




BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA