Date Rabu, 30 July 2014 | 12:00 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Kisah Taman di Puncak Gunung Padang

Minggu, 23-10-2011 | 11:59 WIB | 316 klik

Tempat wisata adalah salah satu lokasi yang diminati banyak orang. Berkunjung ke tempat wisata, tentunya akan menyegarkan pandangan dan me-refresh otak. Begitu juga dengan sebuah tempat wisata yang terkenal dengan legenda Siti Nurbaya. Ya, Gunung Padang menyimpan keindahan tersendiri. Tepat di puncak Gunung Padang, terdapat sebuah taman yang belum tertata dengan baik.


Sebelum memasuki kawasan taman, pengunjung akan merasakan banyaknya nilai historis di dalamnya, seperti meriam tua, benteng pertahanan peninggalan tentara jepang dan juga jalan setapak yang mengandung cerita sebagai tanda pengenalan sejarah. Semua dilakukan tentara Jepang untuk menghalangi musuh (penduduk pribumi) yang akan masuk ke tepian muara Pantai Padang. Di gunung ini juga tersimpan kisah, yaitu pernah adanya jasad Siti Nurbaya yang merupakan cerita yang legendaris di Sumatera Barat.


Sebagai taman yang masih asri yang terjadi melalui reduksi alam sepatutnya dapat dilestarikan serta menjadi suatu sumber perekonomian bagi daerah Sumatera Barat. Dengan begitu akan dapat meningkatkan pendapatan daerah sehingga meningkat juga taraf kesejahteraan masyarakat sekitar. Selain bernilai ekonomi, juga menyimpan berbagai sejarah yang perlu ditelusuri, dikembangkan dan dijaga keasliannya.


Bu Slamet, istri penjaga taman menjelaskan, lebih kurang sepuluh tahun dia dan suaminya menjadi penjaga dan bersih-bersih taman di Gunung Padang dan sampai sekarang taman ini masih belum ada perubahan yang lebih berarti. Bahkan, untuk biaya penjagaan taman tersebut Bu Slamet dan isinya tidak mendapatkan upah yang seberapa.


“Gaji yang diberikan pemerintah pun atas pekerjaan Bapak sangatlah minim per bulannya. Itu pun harus dipotong dengan biaya koperasi, sehingga gaji bersih yang diterima pun berkurang. Selain gaji pokok yang diharapkan, Ibu juga membantu bapak dalam menambah biaya untuk kebutuhan sehari-hari.kalau tunggu gaji saja mungkin tidak mencukupi,” ujarnya.


“Kadang omzet yang didapat dari pengunjung yang datang ke taman pun tidak menentu, tergantung banyaknya pengunjung yang datang,” tegasnya.


Mereka sangat berharap adanya perubahan yang berarti, yaitu dapat menjadi objek wisata yang banyak dikunjungi, dicari dan diminati wisatawan. Tentunya untuk mencapai harapan itu dibutuhkan uluran tangan semua pihak seperti pemerintah dan masyarakat. Selain itu, dibutuhkan juga orang yang benar-benar mengerti tentang penataan untuk mempercantik taman tersebut. (tim galang)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA