Date Jumat, 1 August 2014 | 20:53 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Kerap Ditolak Pasien ODHA

Katherina Welong, Konselor HIV/ AIDS RSUP M Djamil Padang

Minggu, 16-10-2011 | 12:27 WIB | 1678 klik
Katherina  Welong, Konselor HIV/ AIDS RSUP M Djamil Padang

Kerap Ditolak Pasien ODHA

Delapan tahun sudah Katherina Welong mengabdikan dirinya sebagai konselor pasien HIV/AIDS. Banyak suka duka telah dilewati istri Azwir ini. Meski telah lama berprofesi konselor, tetap saja Katherina tak mampu menyampaikan kabar buruk kepada pasien yang berada di bawah pengawasannya.

Batinnya seakan tak bisa untuk menyampaikan kabar pertakut bagi pasien. Baginya menyampaikan kabar pertakut tersebut, pekerjaan tersulit yang ia lakukan selama berprofesi sebagai konselor.


Akhir pekan lalu, Padang Ekspres menyambangi ruang kerja Katherina di RSUP M Djamil Padang. Di ruangannya, terlihat tumpukan berkas pasien yang menumpuk, berbagai slogan tentang penyakit HIV/AIDS terpampang di dinding ruangan kerjanya.


Menjadi konselor HIV/AIDS, pekerjaan yang sangat menantang sekaligus pekerjaan yang sangat mulia bagi Katherina. Saat orang banyak menjauhi pasien penyakit HIV/AIDS karena takut tertular, namun Katherina justru memilih untuk berada dalam lingkungan penderita HIV/AIDS.

Alasannya sangat sederhana, dengan ia memberikan konseling pada penderita HIV/AIDS, ia tak hanya dapat menyelamatkan nyawa pasien penderita HIV/AIDS serta dapat menyelamatkan orang lain yang berpotensi tertular penyakit yang mematikan itu.


Katherina sendiri ingin tetap berada dalam lingkungan penderita HIV/AIDS agar penderita memiliki semangat untuk hidup serta mencegah penularan HIV/AIDS kepada orang lain.


Tak sedikitpun ada rasa ketakutan dirinya di tengah lingkungan komunitas penderita HIV/AIDS. Seorang pasien HIV/AIDS harus diperlakukan sama dengan pasien lainnya. Sebab tanpa hal itu, mustahil fenomena gunung es terhadap penyakit HIV/AIDS akan mudah ditelusuri. Baginya penderita HIV/AIDS tetap orang-orang yang harus diberikan perhatian lebih, karena tak semua penderita HIV/AIDS tertular penyakit mematikan itu dari pergaulan negatif. Tak sedikit penderita HIV/AIDS tertular dari tranfusi darah ataupun dari penyakit yang ditularkan orangtuanya.


“Saya tak pernah membedakan mereka dengan pasien lainnya. Memang mungkin masih ada masyarakat yang melihat penderita HIV/AIDS sebagai orang yang harus dijauhi, stigma inilah yang seharusnya dihilangkan. Jangan kucilkan pasien HIV/AIDS, mereka juga butuh dukungan dari masyarakat sekitar dan keluarga terdekat. Jangan jauhi mereka karena mereka menderita HIV/AIDS,” tuturnya.


Wanita kelahiran 14 Oktober 1968 ini menjelaskan, penyakit HIV/AIDS tak semudah pikiran masyarakat untuk menularnya. Penyakit ini hanya akan menular apabila seseorang melakukan hubungan seks dengan penderita HIV/AIDS, menggunakan jarum suntik yang sama ataupun lewat transfusi darah. Jika masyarakat hanya sekadar berkomunikasi dengan pasien, maka penyakit yang mematikan itu tidak akan menular.


“Rata-rata pasien penderita HIV/AIDS kerap menarik diri dari masyarakat karena merasa mereka tak bisa diterima. Di sinilah peranan konselor untuk bisa mendekatkan diri dengan penderita HIV/AIDS. Saya akui untuk melakukan pendekatan dengan pasien penderita HIV/AIDS memang tak mudah, butuh waktu lama untuk melakukan pendekatan dengan mereka,” ucapnya.


Ibu tiga anak ini mengatakan dalam menjalani profesinya sebagai konselor ia juga kerap ditolak penderita HIV/AIDS untuk menjadi konselor, namun penolakan demi penolakan dari pasien penderita HIV/AIDS itu tak menyurutkan semangatnya, ia tetap terus berupaya untuk melakukan pendekatan dengan penderita HIV/AIDS. Alhasil penderita HIV/AIDS mau menjadikan Khaterina sebagai konselornya.


“Memang ini bukan pekerjaan mudah, tak semua orang bisa menjadi konselor penderita HIV/AIDS. Untuk menjadi konselor harus mengikuti pelatihan tertentu. Misalnya seseorang perawat yang merawat penderita HIV/AIDS, tanpa mengikuti pelatihan terlebih dahulu tak bisa menjadi konselor. Namun seorang konselor seperti saya bisa melakukan dua-duanya yakni merawat dan memberikan konselor kepada pasien penderita HIV /AIDS,” kata perempuan yang tinggal di Paraklaweh ini.


Katherina menambahkan, pasien HIV/AIDS rata-rata umurnya beragam dari Anak Baru Gede (ABG) hingga oknum pejabat. Kesulitan yang ia alami untuk menyampaikan informasi itu adalah, karena ia kerap merasa tak sampai hati menyampaikan informasi penting itu pada pasiennya, sementara informasi pasiennya terjangkit positif HIV/AIDS, harus diberi tahu.


“Berat lidah saya untuk menyampaikan informasi itu kepada mereka. Tapi bagaimanapun, informasi itu harus saya sampaikan juga kepada mereka,” terangnya.


Kebanyakan pasien HIV/AIDS yang ditanganinya sudah menderita penyakit komplikasi, sehingga kemungkinan untuk bisa terhindar dari penyakit yang mematikan itu sangat sulit. Namun dari informasi yang didapatkan dari pasien penderita HIV/AIDS, ia bisa melacak penderita- penderita HIV/AIDS. Sehingga dengan informasi itu, ia bisa memberikan konselor kepada penderita HIV/AIDS lainnya.


“ Ini salah satu kesulitan kami. Rata-rata mereka tahunya menderita penyakit setelah parah, kalau sejak awal kita tahu dengan mereka, tentu penanganannya lebih cepat dan penyakit itu tidak akan menggerogoti tubuh pasien penderita HIV/AIDS. Banyak pasien penderita HIV/AIDS pasrah saja dengan penyakit yang ia terima, tanpa melakukan upaya apapun untuk kesembuhan mereka. Para penderita HIV/AIDS kerap merasa hidup mereka sudah tak berarti lagi dengan penyakit yang ia derita,” sebutnya.


Katherina mengaku batinnya pernah merasa terenyuh saat menangani pasien penderita HIV/AIDS yang masih balita. Anak tersebut tertular penyakit itu dari orangtuanya yang menderita HIV/AIDS. Kedua orangtua anak itu telah meninggal dunia. Saat ini balita tersebut, dirawat neneknya.


“Saat melihat balita tersebut terbayang anak saya seperti itu. Terus terang, saya prihatin terhadap anak tersebut. Mungkin bagi anak seusianya tak mengerti dengan penyakit yang dideritanya, ia hanya tahu dengan bermain saja. Saya berikan konselor kepada neneknya saja, karena neneknyalah yang mengurus semua keperluan balita itu,” ucapnya.


Katherina menuturkan, pasiennya yang ia tangani ada juga ABG. Penyakit itu diderita ABG karena melakukan hubungan seks dengan tante-tante girang. Remaja itu awalnya terpengaruh pergaulan bebas, sehingga melakoni pekerjaan itu. Orangtua ABG itu sama sekali tidak tahu dengan perilaku anaknya di luar rumah. Jika dilihat dari kemampuan finansial, anak tersebut termasuk dari golongan keluarga berada.


“Saya juga berikan pendampingan kepada ABG tersebut. Mungkin ini bisa jadi pelajaran berharga bagi orangtua untuk bisa lebih memberikan perhatian lebih kepada anak-anaknya. Jangan sampai anak terjerumus dalam pergaulan bebas yang pada akhirnya akan merugikan masa depannya sendiri. Untuk mendekati remaja tanggung ini untuk bercerita memang sulit dan dibutuhkan trik untuk pendekatannya,” ujarnya.


Katherina mengaku, sering berdekatan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) tidak membuatnya takut akan tertular dari penyakit yang mematikan itu. Karena dalam melaksanakan tugas, ia telah melaksanakan Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan pasien penderita HIV/AIDS. Ia yakin dengan tetap mengacu dan mempedomani hal itu, ia tidak akan tertular penyakit yang berbahaya tersebut.


“Saya kan bekerja sesuai SOP. Makanya, saya tak khawatir berdekatan dengan penderita HIV/AIDS. Terhadap perawat yang menangani penderita HIV/AIDS, juga saya berlakukan SOP ini, untuk melindungi mereka. Makanya, perawat yang menangani HIV/AIDS juga harus meningkatkan kewaspadaannya. Jika salah prosedur, tentu bisa saja perawat akan tertular,” tuturnya.


Ini selalu ia ingatkan kepada perawat yang menangani penderita HIV/AIDS. Jika salah prosedur, itu tanggungjawab mereka karena kelalaian mereka sendiri, mereka tertular penyakit tersebut. Jika bekerja dengan mematuhi SOP yang benar, tentunya penyakit HIV/AIDS bukan menjadi momok yang menakutkan bagi tenaga kesehatan yang menangani penderita HIV/AIDS.


“Biasaya kami beritahu kepada tenaga kesehatan terhadap rekam medis penyakit pasien yang mereka tangani. Berdasarkan SOP penanganan penyakit itulah, mereka bekerja. Merawat orang sakit kan suatu pekerjaan kemanusiaan yang tidak dapat diukur kepuasannya dengan nilai apapun di dunia ini. Hal yang paling membahayakan adalah saat melihat pasien yang dirawat bisa segera sembuh dari penyakit yang dideritanya,” tuturnya. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA