Date Sabtu, 26 July 2014 | 14:07 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Nasional

Pertahankan Penetapan Caleg Suara Terbanyak

Sabtu, 15-10-2011 | 12:09 WIB | 245 klik

Jakarta, Padek—Pansus RUU Pemilu cenderung mempertahankan cara penetapan calon legislatif (caleg) terpilih berdasarkan perolehan suara terbanyak. Meski penentuan caleg terpilih dengan suara terbanyak dianggap menghasilkan DPR yang kualitasnya diragukan, namun mekanisme itu dinilai lebih mencerminkan kedaulatan pemilih.


”Suara terbanyak itu lebih sesuai konstitusi dalam konteks penguatan kedaulatan rakyat,” kata Wakil Ketua Pansus RUU Pemilu, Taufiq Hidayat di DPR, Senayan Jakarta, Jumat (14/10). Pada awalnya, dari partai-partai pemilik kursi di DPR memang mempertimbangkan untuk menetapkan caleg terpilih pada Pemilu 2014 mendatang melalui sistem nomor urut. Hal ini merujuk pada praktik sistem suara terbanyak di 2009 yang dinilai ikut menyumbang terpilihnya anggota legislatif tak berkualitas. Selain itu, sistem suara terbanyak juga membuat pertarungan antar caleg di satu partai menjadi tak sehat.


Meski demikian Taufiq mengatakan, adanya kekurangan tak berarti harus dirombak total. Menurut politikus Partai Golkar ini, kekurangan yang ada cukup disempurnakan dalam proses revisi. Dicontohkannya, terhadap persoalan rendahnya kualitas anggota terpilih maka perbaikannya telah dilakukan pada proses rekrutmen partai politik. Hal itu telah dirumuskan pula dalam UU 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik.


Sebelumnya usulan agar caleg terpilih ditetapkan melalui nomor urut muncul dari Guru Besar Ilmu Politik Universitas Airlangga, Ramlan Surbakti dan anggota KPU Saut Sirait. Sementara, Center for Electoral Reform (Cetro) mengusulkan diterapkannya sistem campuran.


Sedangkan Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Viva Yoga Mauladi mengatakan, PAN tetap akan mengusung sistem suara terbanyak sebagaimana 2009 lalu. Menurutnya kembali ke nomor urut justru merupakan kemunduran, bukan perbaikan. Salah satu prinsip yang akan dicapai dengan suara terbanyak adalah meningkatkan nilai representasi dari caleg itu sendiri. ”Karena caleg akan dipilih secara pribadi,” tandasnya.


Wakil Ketua Fraksi PAN di DPR ini mengatakan, suara terbanyak akan menghilangkan budaya oligarki di partai. Sebab semua caleg memiliki peluang sama. ”Kalau tertutup, itu suburkan oligarki partai. Bisa hilangkan kualitas partai, karena unsur kedekatan, dan memelihara nepotisme. Padahal yang kita inginkan adalah anggota legislatif yang mengakar,” imbuhnya. (fas)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA