Date Kamis, 24 July 2014 | 13:16 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Tamunya Mahasiswa hingga Pejabat

Pengakuan Para Penari Telanjang di Padang

Kamis, 13-10-2011 | 12:11 WIB | 2590 klik

Di kalangan penikmat dunia malam, keberadaan penari telanjang alias striptis tidak asing lagi. Jauh sebelum terbongkarnya dua penari bugil di Fellas Cafe, di sejumlah tempat hiburan malam di “Negeri Buya” ini, para penari erotis itu telah beraksi di bilik-bilik privasi.

SEJAK terbongkarnya penari telanjang di Fellas Cafe, ladys dunia malam di ibu kota Sumbar ini makin berhati-hati menerima tawaran. Untuk mendinginkan suasana, para wanita penghibur itu of sementara menerima order.


Tidak sulit mencari wanita penghibur yang sekaligus penari bugil itu di daerah berfalsafahkan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah ini. Dari penelusuran Padang Ekspres di kalangan clubbers (penikmat hiburan malam), servis plus-plus wanita penghibur itu tidak aneh lagi. Ibaratnya, tahu sama tahu.


“Ah, udah lama. Kebetulan lagi apes aja tuh cewek,” imbuh Rendy, mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Padang.
Servis penari telanjang hanyalah deal antara tamu tempat hiburan malam dan wanita penghibur. Pengelola pub, club, dan karaoke tidak menyediakan servis haram itu.


Namun begitu, bukan berarti pengelola hiburan tidak tahu aksi tersebut. Istilahnya, keberadaan penari bugil hanyalah undercover.
“Oh dia, ya kenal dong,” ungkap VT, wanita penghibur di salah satu tempat hiburan malam di Padang, ketika melihat foto kedua penari telanjang yang tertangkap di Fellas Cafe dua minggu lalu.


Wanita berusia 24 tahun itu, kenal persis dengan kedua temannya itu, yang katanya lagi apes itu. Usut punya usut, ternyata di kalangan wanita penghibur itu saling kenal. Meski bersaing, hubungan mereka tetap harmonis.


Malam itu, Padang Ekspres panjang lebar bercerita seputar dunia wanita penghibur. Selain VT, di sebuah kafe, malam itu ada juga MT. MT dua tahun lebih tua dari VT. Keduanya berkulit putih dan berbadan langsing. Kedua wanita ini termasuk hight class.


Ingin tahu berapa tarifnya? Alamak, jutaan man! Pelanggan mereka tentu pria hidung belang bersaku tebal. Hanya dalam satu juta jam meliuk-liukkan tubuh indahnya, VT atau MT langsung mendapatkan uang jutaan.


Malam menjelang subuh itu, VT dan MT baru saja usai show di sebuah kafe. Saat didatangi di mejanya, terlihat tisu dilapkan ke hidungnya. “Lagi sakit,” katanya.


Tak lama kemudian, dia permisi sebentar ke belakang. Keluar dari kamar mandi, VT sudah mengganti bajunya dengan baju relatif sopan. Keduanya lincah, tapi MT lebih pendiam. Sepanjang ngobrol, hanya VT yang cas cis cus menjawab pertanyaan Padang Ekspres.


“Dulu aku kerja di Jakarta,” kata VT melanjutkan cerita. Pekerjaan pertamanya tak ada hubungannya dengan dunia malam. Dia bekerja di bagian penjualan tekstile.


Bekerja di usia sekolah terpaksa dilakukan karena tuntutan biaya hidup keluarganya. Dia anak kedua dari lima bersaudara. “Kalau aku nggak kerja, adikku nggak bisa sekolah,” katanya polos.


Tamat sekolah menengah, dia mendapatkan tawaran pekerjaan di Batam lewat seorang temannya. “Katanya kerjanya sebagai waitres,” ujarnya. Namun, setibanya di Batam, dia malah ditampung di sebuah mess penari bugil di Batam.


VT menyebut pria inisial BR, yang menampungnya selama di Batam. BR dulunya penari. Di tangan pria (gay) itulah, dalam sehari, RA disulap menjadi penari telanjang. “Cuma belajar sehari, besoknya langsung show,” kenang VT.


Di awal-awal penampilannya sebagai penari bugil, VT sangat canggung. “Aku tak bisa buka (?) sendiri. Jadi, senior aku yang bukain,” tuturnya, sambil tersenyum simpul.


Sejak itu, saban malam, VT harus tampil di hall. “Sering juga tampil di VIP kalau ada permintaan, “ akunya polos.
Setiap kali tampil di VIP, apa saja dilakukan VT sesuai permintaan tamu. Dari bilik pub, biasanya berlanjut ke kamar hotel. “Tamunya rata-rata dari Singapura, Malaysia. Ada juga orang bule,” katanya.


Saat di Batam, tarif show Rp 500 ribu. Tapi, kata VT, dia hanya dapat bagian Rp 250 ribu. Sisanya, dia setor pada BR, sang papi. Pernah dapat tips Rp 1,5 juta, tapi uang itu ia serahkan semuanya pada sang papi. “Itulah bodohnya aku. Tadi aku pikir aku dapat bagian,” katanya.


Tujuh bulan di Batam, dia bertengkar dengan teman seprofesi gara-gara tamu. “Sejak itu, saya memutuskan untuk kabur dan pergi ke Padang. Kebetulan ada teman yang ngajak. Niatnya sih mencari pekerjaan yang lebih terhormat,” ujarnya.


Sesampai di Padang, ternyata VT tak juga menemukan pekerjaaan yang lebih baik seperti diharapkan. Karena itu, VT kembali terjerumus ke dunia hitam. VT menerima ajakan temannya karena uang sakunya amblas.


“Saya pertama kali menari di Padang saat ada tamu dari luar kota (Padang). Bayaran waktu itu satu juta sejam. Saya pikir nggak sanggup, eh, ternyata mereka mengangguk,” ujar VT sambil senyum.


Dia tidak hanya menari telanjang. Tapi, sering berlanjut ke hotel. Menari di Padang sudah dijalaninya selama 5 bulan di beberapa tempat karaoke. Tamunya cukup beragam. Baik dari kalangan anak muda, pengusaha, pejabat bahkan anggota legislatif Sumbar. Nah lho? (mg6)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA