Date Rabu, 30 July 2014 | 16:02 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Peristiwa

Cumbuan dan Rangkulan Mereka Pertontonkan

Menelusuri Perilaku Menyimpang ABG di Bukittinggi

Senin, 26-09-2011 | 12:00 WIB | 11179 klik
Menelusuri Perilaku Menyimpang ABG di Bukittinggi

PACARAN: Sepasang remaja tengah asyik berpacaran di obyek wisata Lubang Jepang,

Geliat perilaku menyimpang di kalangan anak baru gede (ABG) melahirkan keprihatinan banyak kalangan, tak terkecuali di Kota Bukittinggi. Gairah seks ABG mematahkan jaring-jaring ketabuan yang dulunya terpatri kuat dalam diri anak muda kota wisata. Inilah dampak negatif lemahnya pemberantasan penyakit masyarakat (pekat) di Koto Rang Agam ini?


Siang kemarin (23/9), lalu lalang kendaraan silih berganti menjejaki jalanan depan objek wisata Lobang Jepang Bukittinggi. Ya, inilah salah satu objek wisata andalan di Bukittinggi. Objek wisata yang sempat ditutup pascagempa 30 September 2009 lalu ini, selain menghadirkan romansa sejarah, juga panorama Ngarai Sianok nan mendunia tersebut.


Tak ada yang berubah pada objek satu ini. Sejak dulunya bentuk tetap seperti itu. Biarpun jadi andalan, jumlah pengunjungnya terlihat sepi. Beberapa ABG (semuanya perempuan, red) terlihat pasang aksi berfoto di bawah patung tentara Jepang. Senyumnya mengembang dan tertawanya pun terdengar renyah. Saling bergantian mereka berfoto menggunakan handphone dan kamera poket.


Namun, di sisi kiri objek wisata ini, pemandangan mencolok diperlihatkan sepasang ABG. Mereka duduk menghadap panorama Ngarai Sianok, sambil berangkulan di bangku peristirahatan yang sengaja dibuat pengelola objek. Mereka terlalu asyik dengan dunianya. Seakan-akan dunia ini milik mereka berdua. Saat itu baru pukul 14.30WIB.


Deru kendaraan yang berlalu lalang di ruas jalan depan Lobang Jepang, tak membuat mereka risih. Begitu juga orang-orang yang berjalan baik di hadapan, maupun belakangnya. Rangkulan diiringi dengan cumbuan silih berganti mereka lakukan. Tak ada rasa malu, atau pun takut terlihat di raut wajahnya. Mereka saling lempar senyum dengan mata berbinar.


Remaja perempuan diperkirakan berumur belasan tahun, terlihat larut dengan aksi dilancarkan pacarnya. Menyedihkan lagi, ia saat itu berbalut pakaian takwa (jilbab, red). Entah bagaimana perasaan kedua orangtuanya, jika mengetahui perbuatan amoral yang diperbuat anak mereka. Mereka terus bergumul. Mati rasa.


Lain lagi, pandangan di objek wisata Benteng Ford de Kock. Dua remaja berbeda jenis, juga asyik sendiri. Si cewek terkesan agak malu-malu. Si pria juga berumur belasan tahun, terlihat lebih agresif. Entah kecewa setelah usahanya berupaya mencumbu sang kekasih gagal, ia nampak kecewa. Beberapa kali tangannya memukul-mukul kepalanya.


Inilah secuil gambaran perilaku ABG di Bukittinggi. Tanpa etika dan malu. Mereka asyik sendiri. Kondisi lebih parah lagi, biasanya bisa terlihat ketika momen tahun baru. Bejibun ABG juga terlihat asyik sendiri. Bahkan, mereka seakan-akan mempertontonkan kemesraannya di tempat umum. Biasanya, sekitaran kawasan Jam Gadang.


Magnit wisata Bukittinggi bisa jadi menjadi salah satu sebab, menguatnya perilaku menyimpang di kalangan ABG. Bahkan, ada kawan mengatakan Bukittinggi pengawasannya terhadap perilaku pekat, terlalu longgar. Parahnya lagi, sebagian masyarakat sudah menganggap hal biasa perilaku menyimpang tersebut.


Guru Besar Ilmu Sosiologi Unand Prof Damsar juga tak menafikan keterikatan perilaku menyimpang anak muda dengan longgarnya penegakan aturan. Apalagi objek-objek wisata di Bukititnggi lebih banyak menjual alamnya dengan luas area yang luas. Akibatnya, mereka dengan mudah mojok. Kalau sudah begitu, perilaku menyimpang pun tak bisa dihindarkan.


Lalu, bagaimana memperbaiki kerusakan moral ini? Damsar sekarang jadi Koordinator Kopertis Wilayah X, menekankan pentingnya penegakan aturan. Pemerintah dengan elemen sosial keagamaan perlu menyamakan visi memberantas perilaku menyimpang. Bila ditemukan, beri peringatan dan langsung jatuhkan sanksi. Bila tidak, penyakit menyimpang ini akan berlangsung secara turun-menurun.


”Peran orangtua pun tak bisa dihindarkan. Awasi dan beri pengertian pada anak terhadap dampak pergaulan bebas yang mereka lakukan. Bila ketahuan masih dilakukan juga, wajar orangtua menjatuhkan sanksi pada anaknya,” kata rang Agam ini. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA