Date Senin, 28 July 2014 | 15:15 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Berubah Status jadi Desa, Adat Tetap Lestari

Potret Nagari Silungkang, Sawahlunto

Jumat, 08-04-2011 | 11:02 WIB | 740 klik

Meski sudah berubah menjadi desa, namun Nagari Silungkang masih kukuh menjaga adat dan tradisinya. Status daerah boleh berganti menjadi desa karena secara administrasi masuk ke Kota Sawahlunto. Namun prinsip-prinsip pemerintahan nagari masih dipertahankan.


Perubahan status Nagari Silungkang menjadi desa terjadi sejak lahirnya peraturan pemerintah (PP) Nomor 44 tahun 1990 tentang Penggabungan Berapa Wilayah di Kabupaten Sijunjung (Kenagarian Silungkang) dan Kabupaten Solok (Kenagarian Lumindai/Kajai) ke Kota Sawahlunto. Administrasi pemerintahan yang tadinya berbentuk nagari, berubah menjadi desa.


Nagari yang merupakan satu kesatuan adat itu berdasarkan Perda Nomor 2 tahun 1992 tentang Pemerintahan Desa/kelurahan Sawahlunto kemudian dimekarkan menjadi lima desa. Yakni Desa Silungkang Oso, Desa Silungkang Duo, Desa Silungkang Tigo, Desa Muaro Kelaban dan Desa Taratak Bancah.


Meski berubah status dan sudah dimekarkan menjadi lima desa, masyarakat di sana masih berupaya melestarikan adat dan budayanya. Aturan-aturan adat yang sebelumnya berlaku di Nagari Silungkang, tetap berlaku di lima desa pemekaran tersebut.

“Yang berubah hanya administrasi pemerintahan. Adat istidat tetap berlaku dan dipakai masyarakat,” ujar Penghulu Pucuak Suku Supanjang Kenagarian Silungkang, Syahruddin Syarif Dt Rangkayo Bosa kepada Padang Ekspres di Silungkang, kemarin (6/4).


Menurut Syahruddin, penyelesaian berbagai masalah di lima desa itu diselesaikan sesuai adat. Salah satu contoh, sengketa tanah antara mamak dengan kemenakan, pengelolaan pasar sarikat Silungkang. “Masalah itu sudah diselesaikan melalui musyawarah kerapatan adat nagari (KAN),” ujarnya.


Silungkang dikenal sebagai bangsa perantau sama halnya dengan anak Nagari Lumindai yang banyak merantau ke Karawang, Provinsi Banten. Malahan kata, Syaharuddin, keterampilan pandai menenun orang Silungkang pun diperoleh dari merantau ke Patani di Thailand, pada abad 11. “Jadi, jauh sebelumnya, orang Silungkang sudah pandai bertenun,” ujar Syaharuddin yang juga Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Silungkang. Bicara Silungkang, orang pasti teringat dengan tenunannya. Yang paling khas tentu songketnya. “Orang tak pernah lupa dengan itu,” tambahnya.


Seperti diketahui, Desa Silungkang Tigo, salah satu desa yang berada di wilayah administrasi pemerintahan Kecamatan Silungkang. Punya luas wilayah 5,3 Ha terletak di jalur lintas Sumatera, dimana warganya sebagian besar bermata pencaharian berdagang dan pengrajin industri rumah tangga.


Desa Silungkang Tigo terdiri dataran tinggi dan dataran rendah, sebelah Utara berbatasan dengan Desa Pasar Kubang, sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Silungkang Oso dan Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Muaro Kelaban dan Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Silungkang Duo.


Desa Silungkang Tigo mempunyai penduduk 2.372 jiwa ini tersebar di lima dusun. Terdiri dusun Pasar Baru, dusun Pasar Usang, dusun Stasiun, dusun Lubuak Nan Godang dan dusun Bukit Kuning,Kepala Desa Silungkang Tigo, Andri Wijaya mengakui struktur administrasi pemerintahan Silungkang berubah statusnya. Namun kultur budayanya masih tetap mengakar pada pemerintahan nagari.


Dicontohkannya, saat acara prosesi adat yaitu malewakan suku dari empat jinih untuk Desa Muaro Kelaban, dimana kedua anak nagari antara Silungkang dan desa Muaro Kelaban masih tetap kompak dan utuh.


“Saiyo sakato, saciok bak ayam, sadanciang bak basi dalam menyelesaikan berbagai persoalan anak nagari di kedua desa tersebut,” imbuh Andri.
Desa Silungkang dan Muaro Kelaban, warga desa yang badunsanak. Ibarat, mamak dan kemenakan. “Oleh sebab itu, berbagai persoalan desa dapat diselesaikan secara musyawarah. Indak ado kusuik nan indak salasai,” ujar Andri.


Dikemukakan Andri, kegiatan operasional Desa Silungkang Tigo, bersumber dana APBD desa dan APBD Kota Sawahlunto. Tahun 2010, anggaran desa Silungkang Tigo berjumlah Rp207.647.347 terdiri dana PAD desa Rp10.572.000 dan jumlah Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) 2009 Rp1.605.147. Sedangkan bantuan melalui APBD Kota Sawahlunto berjumlah Rp195.470.000 serta bantuan keuangan lainnya dari Tapem Setko sebesar Rp90.580.200. ( ***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA