Date Jumat, 1 August 2014 | 22:54 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kriminal

Pelaku Ditangkap 11 Jam setelah Evakuasi

Pembunuhan Terjadi di Hari Raya

Selasa, 20-09-2011 | 13:15 WIB | 777 klik
Pembunuhan Terjadi di Hari Raya

PASRAH: Yasri Yanto alias Yanto, 32, pembunuh istrinya Defi hanya diam terpaku s

Payakumbuh, Padek—Tabir gelap yang menyelimuti kematian Defi Vebriyeni, 21, warga Bukikmalintang, Padangkarambia, Payakumbuh Selatan, semakin tersingkap. Polisi memastikan ibu dua anak itu tewas setelah dicekik Yasri Yanto alias Yanto, 32, suaminya sendiri.


“Defi dibunuh Yanto pada Kamis (1/9) atau bertepatan dengan Lebaran kedua bagi warga yang merayakan Idul Fitri 1432 Hijriyah pada hari Rabu,” kata Kapolres Payakumbuh AKBP S Erlangga, didampingi Kasat Reskrim AKP Jefrizal Jarun kepada Padang Ekspres, Senin (19/9).


Polisi berani memastikan Yanto sebagai pelaku tunggal pembunuhan Defi, setelah berhasil mengamankan pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bongkar-muat pasir di Batang Agam, Tanjuangpauah, Payakumbuh Barat tersebut.


Yanto diamankan dari kediaman orangtuanya di Padangkarambia, Senin (19/9) sekitar pukul 00.30 WIB atau sebelas jam setelah jenazah Defi berhasil dievakuasi dari sebuah sumur tua di kawasan Bukikmalintang.


“Saat diamankan, Yanto tidak memberi perlawanan. Dia mengaku siap mempertanggung jawabkan segala perbuatannya. Dia juga cukup kooperatif dalam memberi keterangan kepada penyidik. Sejauh ini keterangannya, tidak berbelit-belit,” terang AKBP S Erlangga.


Sebelum Yanto diamankan, sempat beredar kabar pria kelahiran 9 November 1979 itu sudah kabur ke luar Sumbar. Namun polisi tidak percaya begitu saja dengan kabar burung tersebut. Ketika mengevakuasi jenazah Defi Minggu (18/9) pagi, Kasat Reskrim AKP Jefrizal Jarun memerintahkan anggotanya melacak keberadaan Yanto.


Mendapat perintah dari komandan, sejumlah polisi berseragam preman langsung menyebar. Sebagian mengawasi kediaman orangtua Yanto di Padangkarambia, sedangkan sebagian lain mencari tahu keberadaan Yanto di lingkungan terdekatnya.


Sayang, kerja keras polisi pada Minggu pagi belum membuahkan hasil. Bahkan, sampai jenazah Defi selesai dievakuasi dari sumur tua berkedalaman 180 centimeter yang terletak di pinggir sawah, tidak jauh dari gedung TK RA Taslim Padangkarambia, Yanto tetap tidak ditemukan. Dia bagaikan raib ditelan bumi.


Minggu sore, Padang Ekspres memperoleh informasi dari sejumlah warga yang bertakziah ke rumah orangtua Defi di Tanjuangpauh, Payakumbuh Barat, Yanto sempat terlihat di kelurahan padat permukiman tersebut. Bahkan seorang warga mengatakan, Yanto sempat terlibat aksi kejar-kejaran dengan warga dan polisi.


Tapi, polisi menepis informasi tersebut. “Pada sore Minggu, keberadaan Yanto belum diketahui. Anggota kita memang sempat bertebaran di Tanjungpauah, tapi tidak menemukannya. Jejak Yanto baru dapat dilacak pada Minggu malam, berkat informasi dari warga dan pihak keluarga di Padangkarambia,” jelas AKP Jefrizal Jarun.


Perwira yang merupakan urang sumando Nagari Auakuniang, Payakumbuh Selatan itu menambahkan, saat mengetahui Yanto berada di kediaman orangtuanya, Padangkarambia, anggota Satreskrim langsung bergerak. Alhasil, Yanto yang menamatkan pendidikan SD selama sepuluh tahun, dapat diamankan Senin dini hari.


Sampai tadi malam, Yanto masih menjalani pemeriksaan. Dia diperiksa Haji Lubis, penyidik senior Satreskrim Polres Payakumbuh yang memiliki jam terbang cukup tinggi, dalam kasus-kasus pembunuhan. Kepada penyidik, Yanto yang didampingi pengacaranya Setia Budi, terlihat sangat terbuka.


Dari keterangan Yanto diperoleh benang merah, pria yang sempat mengecap pendidikan menengah selama 1 bulan di SMPN 9 itu, nekad menghabisi nyawa istrinya karena terbakar api cemburu. Selain cemburu, Yanto dan Defi juga sempat terlibat cek-cok mulut. Selengkapnya, dapat dibaca wawancara khusus Padang Ekspres dengan Yanto. (*)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA